16 Rudal IRGC Mengunci Kapal Perang AS, Memaksa Mundur dari Selat Hormuz
Pasukan Iran dilaporkan mengunci 16 rudal jelajah ke kapal perusak AS, memaksa penarikan cepat dalam ketegangan di salah satu jalur laut paling strategis dunia
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Detail baru terungkap terkait konfrontasi laut pekan lalu di Selat Hormuz, ketika pasukan Angkatan Laut Garda Revolusi Islam (IRGC) berhadapan langsung dengan kapal perang Amerika Serikat dalam sebuah insiden berisiko tinggi.
Insiden tersebut terjadi pada 11 April, ketika dua kapal perusak AS — USS Michael Murphy (DDG 112) dan USS Frank E. Peterson (DDG 121) — berupaya melintasi jalur perairan strategis tersebut, namun dicegat oleh pasukan Iran setelah mengabaikan peringatan awal.
Menurut temuan yang dikutip oleh Press TV, Angkatan Laut IRGC meningkatkan eskalasi dengan mengunci 16 rudal jelajah ke arah kapal-kapal Amerika setelah mereka mengabaikan peringatan berulang.
Pasukan Iran kemudian mengeluarkan ultimatum langsung: segera keluar dari Selat Hormuz dalam hitungan menit atau menghadapi serangan rudal secara langsung.
Menghadapi kemungkinan serangan yang segera terjadi, pihak AS dilaporkan meminta penundaan selama 15 menit untuk menyampaikan situasi kepada komando mereka dan mencari instruksi lebih lanjut.
Ketegangan Tinggi dan Penarikan Cepat
Kebuntuan yang berlangsung kurang dari satu jam itu ditandai dengan ketegangan tinggi, namun pada akhirnya mereda berkat sikap penahanan diri dari pihak Iran.
Tak lama kemudian, kedua kapal perusak Amerika tersebut dilaporkan segera menarik diri dari wilayah tersebut.
Temuan investigatif sebelumnya menunjukkan bahwa pergerakan angkatan laut AS merupakan bagian dari operasi berisiko tinggi yang pada akhirnya gagal, dan disebut dilakukan bertepatan dengan berlangsungnya perundingan Iran–AS di Islamabad.
Berdasarkan informasi dari sumber militer-keamanan tingkat tinggi, operasi tersebut membawa kapal-kapal perusak itu hanya beberapa menit dari potensi kehancuran setelah rudal jelajah Iran mengunci target dan drone serang turut dikerahkan.
Taktik Penyamaran dan Implikasi Strategis
Detail lanjutan mengungkap bahwa kapal-kapal perusak AS mencoba menyamarkan identitas mereka dengan memalsukan sinyal, seolah-olah merupakan kapal komersial yang terhubung dengan Oman, serta melakukan pelayaran pesisir di wilayah selatan Laut Oman.
Mereka juga bergerak dekat garis pantai dan melalui perairan dangkal, mengandalkan penyamaran dan tipu daya, kemungkinan dengan asumsi kewaspadaan akan berkurang selama masa gencatan senjata.
Namun, unit Angkatan Laut IRGC yang berpatroli di dekat Fujairah dilaporkan mendeteksi manuver tersebut sejak dini dan merespons secara tegas.
Operasi tersebut disebut sebagai upaya untuk mengeksploitasi gencatan senjata dan menguji kesiapan pasukan laut Iran di kawasan.
Sebaliknya, operasi itu berakhir dengan penarikan cepat, menegaskan besarnya risiko eskalasi di salah satu titik chokepoint maritim paling sensitif di dunia. (FG)


