47 Tahun Revolusi: Jalan-Jalan Iran Penuh Jutaan Massa, Tegaskan Persatuan dan Perlawanan
Jutaan orang berunjuk rasa di 1.400 kota saat Iran memperingati 47 tahun Revolusinya, memproyeksikan persatuan, ketahanan, dan pembangkangan terhadap tekanan AS
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Iran memperingati 47 tahun kemenangan Revolusi Islam dengan aksi akbar nasional pada 22 Bahman, ketika jutaan warga memenuhi jalan dan alun-alun publik di lebih dari 1.400 kota dan distrik, mengirimkan pesan tegas pembangkangan terhadap ancaman militer Amerika Serikat dan agresi Israel yang terus berlangsung.
Di ibu kota, lautan massa memadati Lapangan Azadi sejak pagi hari, mengibarkan bendera Iran dan membawa spanduk yang menegaskan kembali loyalitas kepada Republik Islam.
Aksi serupa berlangsung di Bandar Abbas, Hamedan, Bushehr, Pulau Kharg, Shiraz, Tabriz, dan ratusan kota lainnya — bahkan di tengah kondisi cuaca yang keras — menegaskan skala dan tekad partisipasi publik.
Persatuan Nasional di Tengah Tekanan Eksternal
Peringatan tahun ini berlangsung di tengah retorika militer baru dari Washington dan eskalasi regional yang berlanjut melibatkan rezim Israel. Alih-alih melemahkan moral publik, tekanan eksternal justru tampak memperkuat solidaritas nasional.
Bendera Palestina tampak dikibarkan berdampingan dengan bendera Iran selama pawai, menegaskan dukungan teguh Teheran terhadap perjuangan Palestina dan Poros Perlawanan yang lebih luas.
Para pejabat negara menggambarkan peringatan ini sebagai demonstrasi persatuan, kedaulatan, dan ketahanan hampir lima dekade setelah revolusi yang mengakhiri monarki yang didukung AS dan mendirikan Republik Islam di bawah kepemimpinan Imam Ruhollah Khomeini.
Kepemimpinan Politik dan Militer Berdiri Bersama
Tokoh-tokoh senior dari jajaran politik dan militer Iran turut menghadiri aksi di Teheran, menegaskan kohesi institusional.
Presiden Masoud Pezeshkian menghadiri peringatan di Lapangan Azadi bersama Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Sekretaris Dewan Pertahanan Nasional Ali Shamkhani, Komandan Pasukan Quds IRGC Brigadir Jenderal Esmail Qa’ani, serta Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Seyed Abdolrahim Mousavi.
Kehadiran mereka menegaskan keselarasan antara kepemimpinan diplomatik, politik, dan militer Iran di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Presiden Pezeshkian menyampaikan pidato utama di Lapangan Azadi, sebuah acara yang dipantau secara luas oleh pengamat dalam dan luar negeri.
Daya Tangkal Militer Dipertontonkan
Simbolisme militer tampak menonjol sepanjang peringatan.
Di sepanjang rute utama aksi di Teheran, berbagai sistem rudal Iran — termasuk model yang diidentifikasi sebagai Qassem Soleimani, Fateh, dan Fatah-110 — dipamerkan, memproyeksikan pesan daya tangkal.
Puing-puing drone Israel yang dilaporkan ditembak jatuh selama agresi AS–Israel selama 12 hari baru-baru ini juga dipamerkan di Lapangan Azadi. Peti mati simbolis yang merepresentasikan komandan militer AS muncul di beberapa bagian prosesi, mencerminkan kemarahan publik terhadap intervensi Washington di kawasan.
Gambar Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan diinjak-injak oleh peserta, sementara para demonstran di Lapangan Enghelab, Teheran, membakar bendera AS dan Israel — tindakan yang telah menjadi ekspresi perlawanan berulang terhadap hegemoni Amerika dan pendudukan Israel.
“Iran Akan Mengatasi Tekanan Eksternal”
Dalam pidatonya kepada massa, Mayor Jenderal Mousavi menyatakan bahwa musuh-musuh Iran pada akhirnya akan frustrasi oleh iman dan keteguhan rakyat Iran.
Ia menekankan bahwa kesadaran dan persatuan publik tetap menjadi tulang punggung ketahanan Iran, serta menyatakan keyakinan bahwa negara tersebut akan mengatasi sanksi, ancaman, dan tekanan eksternal.
Di kota-kota provinsi, partisipasi tetap signifikan. Di Tabriz, peserta tetap berbaris meskipun diguyur hujan lebat dan udara dingin menusuk. Di Khuzestan, anggota suku Bakhtiari dan Arab turut hadir dengan pakaian tradisional, menjadikan peringatan ini sebagai momen nasional lintas etnis.
Partisipasi Publik sebagai Pesan Politik
Para pengamat mencatat bahwa skala partisipasi membawa bobot moral dan politik, menandakan bahwa upaya untuk mendestabilisasi Iran melalui tekanan ekonomi dan intimidasi militer gagal memecah kohesi domestik.
Para pejabat menegaskan kembali bahwa negosiasi dengan Washington secara ketat terbatas pada isu nuklir dan tidak akan meluas ke kemampuan pertahanan Iran atau postur regionalnya.
Mereka memperingatkan bahwa setiap agresi terhadap Iran akan membawa konsekuensi berat, serta menegaskan kesiapan negara untuk merespons secara tegas terhadap serangan eksternal.
Partisipasi generasi muda tampak sangat menonjol di berbagai kota, menunjukkan komitmen lintas generasi terhadap semangat revolusi.
Perlawanan Setelah Lima Dekade
Peringatan ini juga diwarnai dengan tradisi teriakan “Allahu Akbar” pada pukul 21.00 dari atap-atap rumah, menggema di kota dan desa di seluruh negeri — pengingat simbolis hari-hari revolusi Februari 1979.
Aksi 22 Bahman menandai puncak perayaan sepuluh hari Fajar (Dawn), yang dimulai pada 1 Februari — peringatan kepulangan Imam Khomeini dari pengasingan — dan berakhir pada 11 Februari, hari ketika kekuatan revolusioner mengonsolidasikan kekuasaan.
Peringatan tahun ini berlangsung di tengah ancaman militer AS, meningkatnya ketegangan regional, dan tekanan sanksi yang berkelanjutan.
Namun, partisipasi besar-besaran tersebut memproyeksikan pesan yang jelas: hampir lima dekade setelah revolusi membentuk ulang Iran dan kawasan Asia Barat yang lebih luas, Republik Islam tetap berakar kuat dalam mobilisasi rakyat dan perlawanan terhadap dominasi imperial Barat. (FG)


