Abu Ubaidah, Suara Ikonik Perlawanan Palestina
Dari pernyataan singkat di Jabalia hingga simbol perlawanan global, juru bicara Al-Qassam mengubah media menjadi garis depan melawan pendudukan Israel
Palestina, FAKTAGLOBAL.COM – Abu Ubaidah (Abu Obeida), juru bicara militer lama Brigade Izz ad-Din al-Qassam, pertama kali muncul ke publik pada akhir September 2004 dari kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara.
Dalam keadaan bertopeng dan nyaris tidak dikenal saat itu, ia membuka pernyataan pers singkatnya dengan sebuah ayat Al-Qur’an yang menegaskan hak kaum tertindas untuk melawan kezaliman. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah bentrokan sengit antara pejuang Palestina dan pasukan Israel di Gaza utara, dalam pertempuran yang menyingkap kegagalan operasional Israel meskipun memiliki kekuatan tembak yang luar biasa.
Meski pernyataan itu hanya berlangsung beberapa menit, ia menandai awal dari kehadiran media yang kelak tak terpisahkan dari Perlawanan Palestina itu sendiri. Laporan kemudian menyebutkan bahwa Abu Obeida baru berusia 18 tahun saat itu, hanya ditugaskan untuk membacakan pernyataan dan segera meninggalkan lokasi—sebuah penampilan singkat yang justru membentuk peran seumur hidupnya.
Menjadi Komandan Media Perlawanan
Pernyataan-pernyataan awal Abu Ubaidahberfokus pada penyingkapan kelemahan militer Israel, dengan menyoroti kontras antara penggunaan jet tempur, tank, dan rudal oleh pendudukan terhadap warga sipil, dengan operasi perlawanan yang menargetkan tentara pendudukan. Kerangka ini kemudian menjadi ciri konsisten dalam pesan-pesannya.
Pada 2007, ia secara resmi ditunjuk sebagai juru bicara Al-Qassam, setahun setelah ia mengumumkan penangkapan tentara Israel Gilad Shalit oleh perlawanan. Sejak saat itu, Abu Ubaidahmenjadi sumber utama penyampaian perkembangan medan tempur, kerugian Israel, dan pesan-pesan strategis perlawanan.
Sepanjang rangkaian perang di Gaza—termasuk agresi 2008, perang 2014, dan eskalasi-eskalasi berikutnya—ia tetap tampil secara rutin meskipun menghadapi pemboman Israel, runtuhnya infrastruktur, dan kampanye pembunuhan. Pernyataan-pernyataannya berulang kali menolak proses politik yang didukung Amerika Serikat, yang ia gambarkan sebagai mekanisme untuk melindungi ekspansionisme Israel dan pertumbuhan permukiman ilegal di Tepi Barat yang diduduki.
Citra bertopeng, ritme suara, dan bahasa yang disiplin menjadikannya sosok yang oleh para pendukung disebut sebagai “komandan media”, mampu menandingi narasi Israel dan Barat serta memproyeksikan kepercayaan diri bahkan di tengah serangan paling menghancurkan di Gaza.
Membentuk Moral dan Menantang Kekuasaan Israel
Seiring setiap konfrontasi berlangsung, kemunculan Abu Ubaidahmenjadi momen yang dinantikan oleh warga Palestina di Gaza dan para pendukung di seluruh dunia. Pesan-pesannya memberi keyakinan bahwa perlawanan tetap utuh, meskipun pemboman Israel menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar.
Dalam perang 2014, ia mengumumkan penangkapan tentara Israel Oron Shaul dan kemudian Hadar Goldin, peristiwa yang mengguncang kalangan militer dan politik Israel. Bertahun-tahun kemudian, ia memainkan peran penting dalam meletakkan dasar retoris bagi Pertempuran Saif al-Quds tahun 2021, dengan memperingatkan bahwa upaya Israel memperdalam kontrol atas Tepi Barat yang diduduki merupakan deklarasi perang.
Pada Mei 2021, ia mengumumkan bahwa roket-roket perlawanan menghantam kota-kota utama yang diduduki, serta menyatakan bahwa pertahanan Israel semakin tidak efektif. Penggambaran Israel sebagai “musuh yang rapuh” secara langsung menantang citra keunggulan militer yang dibangun Tel Aviv dan para sekutu Baratnya.
Operasi Badai Al-Aqsa dan Tahun-Tahun Terakhir
Pasca Operasi Badai Al-Aqsa, Abu Ubaidahtetap menjadi figur yang konsisten sepanjang perang di Gaza. Meski tidak terlibat langsung dalam perencanaan operasi karena perannya sebagai juru bicara, ia secara tegas membela rakyat Palestina, memperingatkan bahwa serangan terhadap warga sipil akan dibalas secara proporsional.
Di tengah kelaparan akibat pengepungan dan kondisi kemanusiaan yang sangat parah, Abu Ubaidah terus tampil ke publik, tampak menanggung beban fisik perang. Anonimitasnya—yang dijaga selama lebih dari dua dekade melalui simbol keffiyeh—memungkinkannya melampaui identitas individu dan mewujudkan perjuangan kolektif yang berakar pada perlawanan, bukan pada figur personal.
Bahasanya yang kaya akan rujukan Al-Qur’an dan sastra menjadi ciri khas perlawanan yang bergema jauh melampaui Gaza, mengusik audiens Israel sekaligus memperkuat moral rakyat Palestina dan para pendukungnya.
Kesyahidan dan Warisan Abadi
Abu Ubaidah gugur sebagai syahid pada 30 Agustus 2025, setelah mengabdikan seluruh masa dewasanya untuk Perlawanan Palestina. Meski tanggal kelahirannya tidak diketahui, wafatnya menandai berakhirnya satu bab penting dalam konfrontasi media dan psikologis melawan pendudukan Israel.
Lebih dari sekadar juru bicara, Abu Obeida mengubah media menjadi senjata—yang menyingkap kegagalan militer Israel, menantang perlindungan politik Amerika Serikat, dan memastikan bahwa narasi Palestina tidak dapat dihapus atau ditundukkan.
Warisan Abu Obeida terus hidup sebagai pengingat bahwa perlawanan tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di ranah narasi, moral, dan ingatan kolektif—garis-garis depan tempat ia meninggalkan jejak yang tak terhapuskan. (FG)


