Afghanistan: Kami Akan Dukung Iran Jika Terjadi Agresi AS
Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan Afghanistan menentang perang, namun siap membantu Iran jika AS menyerang, seraya menyoroti menguatnya hubungan Kabul–Tehran.
Afghanistan | FAKTAGLOBAL.COM — Pemerintah Afghanistan yang dipimpin Taliban menyatakan akan mendukung Iran jika terjadi agresi Amerika Serikat.
Dalam keterangannya kepada Kantor Berita Tasnim Iran, Zabihullah Mujahid, juru bicara senior pemerintahan Taliban, menjawab pertanyaan terkait sikap Kabul terhadap kemungkinan serangan AS ke Iran.
“Kami berharap perang antara kedua negara tidak terjadi,” kata Mujahid. “Namun jika ada permintaan apa pun kepada kami, rakyat Afghanistan siap—sesuai kemampuan—untuk bekerja sama dengan bangsa Iran dalam menghadapi kesulitan perang.”
Mujahid: Iran Berhak dan Mampu Membela Diri
Mujahid menegaskan bahwa Afghanistan tidak menginginkan perang atau konflik, namun menyinggung pengalaman masa lalu untuk menekankan ketangguhan Iran.
“Jika Anda ingat, terakhir kali Republik Islam Iran diserang, hasilnya Iran keluar sebagai pemenang,” ujarnya. “Saya percaya hal yang sama akan terjadi lagi, karena Iran memiliki kemampuan, Iran berada di pihak yang benar, dan memiliki hak sah untuk membela diri.”
Menguatnya Hubungan Kabul–Tehran dan Kecaman Sebelumnya
Dalam wawancara dengan Radio Pashto, Mujahid mengatakan hubungan Kabul dan Tehran kini lebih baik dari sebelumnya. Ia menekankan bahwa kedua negara saling menghormati dan hubungan bilateral berada di jalur yang positif.
Ia menambahkan bahwa otoritas penguasa Afghanistan sebelumnya juga telah mengecam serangan Israel terhadap Iran pada musim panas lalu, seraya menegaskan saat itu bahwa Iran telah memenangkan perang 12 hari.
Sebelumnya, Nadim Mohammad Nadim, Menteri Pendidikan Tinggi pemerintahan Taliban, mengkritik sejumlah negara Islam atas apa yang ia sebut sebagai sikap lemah di hadapan tekanan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa Iran berada di bawah tekanan justru karena menolak tunduk kepada Washington.
Nadim juga menyinggung kerusuhan terbaru di Iran, dengan mengatakan bahwa ketika Iran menghadapi para perusuh, Amerika Serikat menyebutnya sebagai pelanggaran hak asasi manusia, sementara Washington sendiri menindak demonstrasi damai di dalam negerinya dengan kekerasan—sebuah standar ganda yang ia sebut sebagai tanda ketakutan. (FG)


