Aksi “Banditisme” AS di Venezuela Tandai Kembalinya Kekacauan Global: Moskow
Utusan Rusia kepada Dewan Keamanan PBB menyatakan penculikan Presiden Maduro oleh Washington menyingkap tatanan dunia neo-kolonial yang dibangun di atas kekuatan, perampasan, dan impunitas
PBB | FAKTAGLOBAL.COM — Rusia mengeluarkan peringatan keras bahwa penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat menandai titik balik berbahaya bagi sistem internasional, yang berpotensi menyeret dunia kembali ke era “kekacauan dan ketidakadilan”.
Berbicara dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB pada Senin, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, mengecam tindakan Washington sebagai tidak kurang dari “banditisme internasional”, seraya memperingatkan bahwa hal itu mengungkap hakikat sejati tatanan global yang ingin dipaksakan AS.
Nebenzia menyatakan bahwa operasi militer AS di Venezuela memperlihatkan model tatanan dunia yang bertumpu pada kekuatan telanjang, pelanggaran hukum, dan ambisi hegemonik, seraya menambahkan bahwa operasi tersebut “mengerikan bahkan bagi kaum Atlantikis paling setia”.
“Amerika Serikat telah menunjukkan kepada dunia tatanan seperti apa yang ingin dibangunnya,” ujarnya di hadapan Dewan, seraya menggambarkan serangan itu sebagai pelanggaran kedaulatan yang terang-terangan dan dilakukan dengan pengabaian total terhadap hukum internasional.
Penculikan Seorang Presiden yang Sedang Menjabat
Pada Sabtu, pasukan AS menyerang negara Amerika Selatan yang kaya minyak tersebut, menculik Presiden Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores, memindahkan mereka ke sebuah kapal perang AS sebelum menerbangkan keduanya ke New York.
Presiden Venezuela itu kemudian muncul di pengadilan AS pada Senin dengan dakwaan konspirasi perdagangan narkoba, menyatakan, “Saya orang yang terhormat!” sebelum mengajukan pembelaan tidak bersalah.
Maduro telah lama memperingatkan bahwa permusuhan Washington terhadap Venezuela didorong oleh keinginannya untuk merebut kendali atas sumber daya alam negara tersebut yang sangat besar.
Peringatan itu kembali ditegaskan pada Minggu ketika Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Washington berniat “mengelola” Venezuela agar Amerika Serikat dapat “memanfaatkan aspek ekonominya”.
Rusia Mengecam ‘Agresi’ AS
Nebenzia mengecam operasi tersebut sebagai manifestasi ambisi hegemonik AS di Amerika Latin, dengan menegaskan bahwa pengejaran kendali tanpa batas atas sumber daya alam mendorong kebangkitan neo-kolonialisme dan imperialisme.
Menurut utusan Rusia itu, mentoleransi perilaku semacam ini berarti menormalisasi pelanggaran hukum internasional dan meninggalkan bahkan standar paling dasar dari perilaku beradab dalam urusan global.
“Loncengnya sudah berdentang,” peringat Nebenzia—bukan hanya bagi negara-negara anggota PBB secara individual, tetapi juga bagi masa depan kredibilitas Perserikatan Bangsa-Bangsa itu sendiri.
Rusia, bersama negara-negara BRICS lainnya, secara tegas mengecam tindakan AS tersebut, menuntut pembebasan segera Presiden Maduro dan menegaskan kembali solidaritas dengan rakyat Venezuela.
Moskow mendesak komunitas internasional untuk bersatu menolak kebijakan luar negeri Washington yang agresif, seraya memperingatkan bahwa sikap diam atau netral terhadap tindakan semacam ini sama dengan keterlibatan.
Kebisuan Barat dan Penghindaran UE
Sebaliknya, reaksi dari ibu kota-ibu kota Barat terbilang sangat minim.
Kepala kebijakan luar negeri UE Kaja Kallas hanya menyerukan “penahanan diri” dan kepatuhan pada Piagam PBB. Pernyataan bersama UE berikutnya—yang ditandatangani oleh seluruh negara anggota kecuali Hungaria—tidak mengecam maupun mendukung penculikan oleh AS, mencerminkan keengganan mendalam untuk berhadapan dengan Washington.
Bagi Moskow dan para sekutunya, pesannya jelas: Amerika Serikat sedang menetapkan preseden di mana pemimpin berdaulat dapat disergap dengan kekuatan, pembenaran hukum direkayasa setelah fakta, dan norma internasional disingkirkan kapan pun menghalangi ambisi strategis dan ekonomi Amerika.
Seperti yang diperingatkan Nebenzia kepada Dewan Keamanan, mengabaikan momen ini bukanlah menjaga stabilitas—melainkan mempercepat runtuhnya tatanan internasional itu sendiri. (FG)


