Akun Palsu, Like, dan Sang Shah: Di Balik Perang Digital Israel Melawan Republik Islam
Investigasi merinci jaringan bot terkait Israel, interaksi palsu, dan manipulasi digital terkoordinasi yang digunakan untuk secara artifisial mempromosikan Pahlavi di ruang berbahasa Persia.
Iran | FAKTAGLOBAL.COM – Sebuah investigasi mendalam oleh surat kabar Prancis Le Figaro mengungkap adanya kampanye pengaruh daring terkoordinasi yang berakar dari Israel, yang bertujuan menggelembungkan dukungan secara artifisial bagi Reza Pahlavi di berbagai platform media sosial berbahasa Persia.
Menurut laporan tersebut, operasi ini bergantung pada jutaan “like”, unggahan ulang, dan interaksi yang tidak autentik—sebagian besar digerakkan oleh akun palsu atau otomatis—untuk merekayasa citra popularitas luas bagi figur mantan bangsawan tersebut sekaligus mempromosikan narasi monarkis yang bermusuhan terhadap Republik Islam Iran.
Jaringan Akun Palsu dan Keterlibatan Artifisial
Mengutip analisis forensik digital yang ekstensif, Le Figaro melaporkan bahwa kampanye ini dibangun di atas jaringan akun rekaan, konten yang dimanipulasi, serta materi yang dihasilkan menggunakan perangkat kecerdasan buatan, termasuk teknik deepfake.
Akun-akun tersebut dilaporkan memposting dan memperkuat pesan serta tagar yang identik, kerap disertai emoji mahkota atau slogan seperti #KingRezaPahlavi, dengan tujuan memaksakan visibilitas artifisial, menggelembungkan tren, dan mendorong konten ke puncak linimasa berbahasa Persia tanpa partisipasi publik yang nyata.
Para pakar mengidentifikasi taktik ini sebagai “astroturfing”—sebuah metode yang dirancang untuk mensimulasikan dukungan akar rumput sembari menutupi manipulasi terkoordinasi dari atas ke bawah. Perkiraan yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 95 persen akun yang menggunakan simbol terkait mahkota bersifat tidak autentik.
Temuan Analis Forensik Digital Independen
Investigasi ini merujuk pada temuan Social Forensics, sebuah organisasi independen yang mengkhususkan diri dalam analisis manipulasi digital, yang dipimpin oleh Jeff Goldberg.
Setelah berbulan-bulan pemeriksaan, kelompok tersebut mengidentifikasi:
4.765 akun yang masing-masing memposting lebih dari 100 pesan per hari, secara kolektif menghasilkan 843 juta unggahan
11.421 akun tambahan yang bertanggung jawab atas pola interaksi tidak normal, menghasilkan sekitar 1,7 miliar like
8.830 akun yang berulang kali mengganti nama pengguna—perilaku yang umumnya terkait dengan operasi pengaruh terkoordinasi
Sebagai hasil dari temuan tersebut, 3.361 akun terkait dilaporkan telah ditangguhkan oleh platform X.
Indikator Keterlibatan Tingkat Negara
Goldberg menyatakan bahwa skala, koordinasi, dan kecanggihan teknis operasi tersebut secara kuat mengindikasikan keterlibatan aktor negara. Para analis yang dikutip Le Figaro secara langsung menunjuk Israel sebagai tersangka utama, dengan mencatat keselarasan kampanye ini dengan permusuhan politik dan media Tel Aviv yang lebih luas terhadap Iran.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa tujuan operasi ini adalah mengangkat Reza Pahlavi sebagai suara dominan oposisi Iran, khususnya pada masa-masa gejolak, sambil meminggirkan realitas domestik dan menekan wacana publik Iran yang autentik.
Laporan Pendukung dari Citizen Lab
Pada Oktober 2025, Citizen Lab, yang berafiliasi dengan Universitas Toronto, menerbitkan laporan terpisah yang menggemakan kesimpulan serupa. Studi tersebut—yang kemudian dirujuk oleh media seperti Haaretz—mendokumentasikan kampanye pengaruh tersembunyi berbasis profil palsu yang dibuat sejak 2023.
Menurut Citizen Lab, banyak dari akun-akun tersebut sebagian besar tidak aktif selama hampir dua tahun sebelum menjadi sangat aktif pada awal 2025—bertepatan dengan meningkatnya ketegangan militer antara Israel dan Iran.
Laporan itu mengutip indikator seperti waktu unggahan yang tersinkronisasi, ketiadaan identitas yang dapat diverifikasi, koordinasi terpusat, serta publikasi konten yang mendahului liputan media lokal—semuanya tidak konsisten dengan perilaku pengguna organik.
Pesan Terkoordinasi dan Advokasi Asing
Peneliti lain, termasuk Philip Mai, mengamati bahwa sejumlah akun secara langsung menargetkan pejabat asing, termasuk presiden AS, dengan mendorong tindakan terhadap Iran dan secara terbuka mempromosikan Reza Pahlavi sebagai figur politik alternatif.
Sementara itu, Or Yissachar mengakui bahwa meskipun banyak kekuatan global melakukan operasi pengaruh daring, Israel menunjukkan tingkat penguasaan teknologi dan kendali naratif yang tinggi, khususnya di lingkungan digital berbahasa Persia.
Menurut Le Figaro, tujuan utama dari kampanye-kampanye ini adalah menciptakan ilusi dukungan rakyat yang luas bagi kembalinya monarki, meskipun bukti menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas tersebut berasal dari luar Iran dan digerakkan oleh alat-alat artifisial, bukan keterlibatan sosial yang nyata.
Temuan-temuan ini menegaskan kembali penilaian lama para pejabat Iran dan analis independen bahwa manipulasi digital yang didukung kekuatan asing—terutama oleh poros AS–Israel—tetap menjadi instrumen utama perang psikologis dan media terhadap Republik Islam, yang bertujuan mendistorsi persepsi, merongrong kedaulatan, dan mempromosikan figur politik yang disetujui pihak luar namun terputus dari masyarakat Iran. (FG)


