Al-Sharaa: Israel Berupaya Destabilisasi Suriah
Presiden Suriah yang mengangkat dirinya sendiri, Ahmad al-Sharaa, mengatakan Israel berupaya mendestabilisasi Suriah selatan di tengah berlanjutnya operasi militer Israel di Daraa dan Quneitra.
Suriah, FAKTAGLOBAL.COM – Presiden sementara Suriah yang mengangkat dirinya sendiri, Ahmad al-Sharaa, mengatakan bahwa Israel berupaya mendestabilisasi Suriah selatan, seraya menegaskan bahwa Suriah tetap berkomitmen menjaga persatuan dan stabilitas wilayahnya.
Ia mengatakan bahwa Suriah “bukanlah tempat uji coba bagi konspirasi asing maupun arena untuk mewujudkan ambisi pihak lain.”
Operasi Militer Israel Berlanjut di Suriah Selatan
Pernyataan al-Sharaa disampaikan ketika operasi darat dan udara Israel terus berlangsung di Suriah selatan, yang menurut Damaskus merupakan pelanggaran berulang terhadap Perjanjian Pelepasan Pasukan 1974.
Menurut Kantor Berita Arab Suriah (SANA), pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah warga sipil di Provinsi Daraa pada Minggu malam serta menembaki salah satu desa dengan artileri, sementara pesawat militer terbang di atas wilayah tersebut.
Serangan Israel kembali berlanjut sebelum fajar di Desa Abdeen, Daraa bagian barat. SANA melaporkan bahwa helikopter Israel menembakkan senapan mesin berat disertai penembakan artileri yang semakin intens setelah bentrokan bersenjata terjadi ketika penduduk setempat menghadapi penyusupan baru yang dilakukan pasukan Israel.
Rangkaian insiden terbaru itu menyusul berbagai penggerebekan, penangkapan, operasi pembukaan lahan, serta serangan terhadap rumah-rumah dan fasilitas sipil maupun militer di Suriah selatan.
Damaskus Desak PBB Bertindak
Eskalasi terbaru ini terjadi hanya beberapa hari setelah Dewan Keamanan PBB secara bulat memperpanjang mandat United Nations Disengagement Observer Force (UNDOF) hingga 31 Desember 2026. Misi tersebut dibentuk berdasarkan Perjanjian Pelepasan Pasukan 1974 untuk memantau gencatan senjata dan mengawasi pemisahan pasukan di Dataran Tinggi Golan yang diduduki.
Menyusul serangan-serangan tersebut, Kementerian Luar Negeri Suriah mengecam operasi militer Israel di Provinsi Quneitra dan Daraa, termasuk penyusupan pasukan darat serta penembakan artileri yang menurutnya telah meneror warga sipil.
Kementerian itu juga menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa dan masyarakat internasional agar mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghentikan pelanggaran yang terus berulang, memastikan penghormatan terhadap Perjanjian Pelepasan Pasukan 1974, serta menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah Republik Arab Suriah. (PW)


