Ali Akbar Velayati: Iran Akan Jalankan Hak-haknya atas Selat Hormuz
Penasihat senior Ayatollah Khamenei menyatakan Iran telah menetapkan kebijakan strategis baru terhadap Selat Hormuz dan akan menjalankan hak historis serta hak hukumnya atas jalur pelayaran vital itu
Iran, FAKTAGLOBAL.COM – Dalam wawancara yang diterbitkan Farhikhtegan pada 29 Juni 2026 dan kemudian dikutip Tasnim, Dr. Ali Akbar Velayati, penasihat senior urusan internasional Ayatollah Sayyed Mojtaba Hosseini Khamenei sekaligus Sekretaris Jenderal Majelis Kebangkitan Islam Sedunia, mengumumkan bahwa Iran telah mengadopsi pendekatan strategis baru terhadap Selat Hormuz dan akan menjalankan hak historis serta hak hukumnya atas salah satu koridor maritim terpenting di dunia.
Velayati menyampaikan hal itu saat menanggapi pernyataan bersama terbaru yang dikeluarkan Amerika Serikat dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Menurutnya, keseimbangan kawasan telah berubah setelah Perang Ramadan, seraya memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak mengulangi apa yang ia sebut sebagai kesalahan strategis dan politik.
“Selat Hormuz Milik Iran”
Velayati menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan milik Iran berdasarkan alasan historis dan geografis. Ia menambahkan bahwa selama bertahun-tahun Republik Islam memilih untuk tidak sepenuhnya menjalankan hak tersebut.
“Kini, seiring perkembangan terbaru, kami bermaksud menjalankan hak itu dengan dukungan hukum internasional, kebiasaan internasional, kemampuan militer kami, serta dukungan rakyat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Situasi di Selat Hormuz tidak akan pernah kembali seperti sebelum serangan pada 28 Februari 2026,” ujarnya.
Ia menambahkan, setelah perubahan geopolitik yang ditimbulkan Perang Ramadan, Iran telah menetapkan kebijakan baru dalam pengaturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, termasuk aturan navigasi, biaya transit, dan pengelolaan jalur strategis tersebut.
Menurut Velayati, kebijakan itu disusun berdasarkan arahan Ayatollah Sayyed Mojtaba Hosseini Khamenei dan dipandang Teheran sebagai persoalan strategis yang tidak dapat dinegosiasikan.
Oman Diminta Tidak Mengikuti Tekanan dari Luar
Velayati mengatakan usulan Iran untuk berkonsultasi dengan Oman dalam penyusunan aturan pelayaran di Selat Hormuz mencerminkan hubungan yang telah lama terjalin serta rasa saling percaya antara kedua negara.
Ia mengingatkan agar keterlibatan dalam sikap bersama yang dibentuk di bawah tekanan pihak luar tidak sampai merusak hubungan tersebut.
“Segala bentuk mengikuti pihak lain, sekalipun didorong oleh tekanan dari luar, dapat merusak citra Oman yang selama ini dihormati di mata bangsa dan kepemimpinan Iran,” katanya.
Realitas Baru di Kawasan
Velayati menyatakan bahwa negara-negara besar maupun kecil di kawasan harus menghindari pengulangan kesalahan strategis.
Menurutnya, pada masa lalu Inggris mendorong sebagian penguasa Teluk untuk berhadapan dengan Iran melalui tipu daya, dan kini Amerika Serikat mengambil peran yang sama setelah mewarisi pengaruh Inggris di kawasan.
Ia juga mengatakan bahwa pemerintah-pemerintah Arab telah menghabiskan miliaran dolar dari kekayaan dunia Islam untuk mencari perlindungan Amerika Serikat, namun pada akhirnya justru menghadapi kesulitan yang lebih besar.
Velayati menutup pernyataannya dengan mengatakan bahwa realitas geopolitik Asia Barat telah berubah secara mendasar setelah Perang Ramadan, dan pendekatan baru Iran terhadap Selat Hormuz merupakan cerminan dari perubahan tersebut. (FG)


