Ali Larijani: Semua Plot AS–Israel Gagal, Iran Berdiri Teguh dan Beri Pelajaran ke Musuh
Ali Larijani mengatakan Washington dan Israel berupaya memecah Iran, tetapi persatuan nasional, semangat Asyura, dan pengelolaan negara menggagalkan rencana tersebut.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM – Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan tujuan utama Amerika Serikat dan sekutunya dalam perang terbaru adalah memecah Iran, namun rencana tersebut gagal karena persatuan nasional dan pengelolaan negara yang efektif.
Berbicara mengenai perkembangan delapan hari pertama perang, Larijani mengatakan konflik tersebut harus dilihat dari perspektif strategis yang lebih luas untuk memahami tujuan sebenarnya di baliknya.
Merujuk pada pernyataan para pejabat Amerika dan sekutunya, ia mengatakan bahwa komentar terbaru dari Donald Trump, para pemimpin Zionis, dan beberapa aktor regional dengan jelas mengungkapkan niat mereka.
Menurut Larijani, tujuan mereka bukan sekadar perubahan politik di dalam Iran.
“Tujuan mereka bukan sekadar perubahan kecil di Iran,” katanya. “Bagi sebuah negara sebesar Iran, gagasan seperti itu tidak memiliki makna. Tujuan mereka adalah memecah Iran, dan persoalan utama bagi mereka adalah Iran itu sendiri.”
Pembunuhan Pemimpin Iran Merupakan Bagian dari Strategi
Larijani mengatakan perang dimulai dengan serangan besar-besaran yang dirancang untuk mengguncang masyarakat Iran.
Ia menunjuk pada pembunuhan Imam Ayatullah Sayyed Ali Khamenei serta kesyahidan sejumlah komandan militer dan anggota angkatan bersenjata.
Ia mengatakan peristiwa-peristiwa tersebut menimbulkan duka mendalam di seluruh negeri tetapi juga memperkuat semangat perlawanan di kalangan rakyat Iran.
Menurut Larijani, musuh mengira guncangan tersebut dapat menggoyahkan masyarakat Iran dan mematahkan moral publik.
Namun, menurutnya rencana itu gagal.
Budaya Asyura Memperkuat Persatuan Nasional
Larijani menekankan bahwa masyarakat Iran memperoleh kekuatan dari fondasi sejarah dan budaya yang mendalam.
Ia menunjuk pada pengaruh budaya Asyura dan epik Imam Husain.
“Dalam peristiwa Asyura juga terdapat guncangan besar yang disertai duka yang sangat mendalam,” katanya. “Namun di dalamnya muncul semangat kepahlawanan, ketahanan, dan solidaritas.”
Menurut Larijani, semangat yang sama kini terlihat di kalangan rakyat Iran dalam konflik saat ini.
Amerika Salah Perhitungan terhadap Iran
Larijani mengatakan salah satu masalah terbesar para pengambil keputusan di Amerika Serikat adalah ketidakpahaman mereka terhadap Asia Barat dan Iran.
Ia mengatakan para pejabat Amerika mengira strategi yang sama yang digunakan di negara lain dapat diterapkan di Iran.
“Mereka membayangkan model yang sama yang mereka coba di beberapa negara seperti Venezuela juga dapat diterapkan di Iran,” katanya.
“Namun di sini cara berpikir dan kondisinya sepenuhnya berbeda.”
Strategi Tekanan Ekonomi Gagal
Larijani mengatakan bagian lain dari strategi tersebut adalah mengganggu kehidupan sehari-hari warga Iran.
Menurutnya Washington berharap kekurangan bahan bakar, makanan, dan kebutuhan dasar akan memicu keresahan di dalam negeri.
Namun, ia mengatakan pemerintah Iran berhasil menjaga rantai pasokan meskipun berada di bawah tekanan perang.
Ia mencatat bahwa pasokan bahan bakar tetap berjalan tanpa gangguan meskipun perjalanan di seluruh negeri meningkat pada hari-hari pertama konflik.
Distribusi makanan juga tetap terjaga secara nasional dan kebutuhan pokok mencapai seluruh wilayah negara.
Perang Psikologis dan Disinformasi AS
Larijani juga menolak klaim bahwa para komandan militer Iran telah menghubungi Amerika Serikat atau berniat membelot.
Ia mengatakan narasi tersebut merupakan bagian dari kampanye perang psikologis.
Menurutnya klaim-klaim tersebut disebarkan melalui propaganda dan dalam beberapa kasus bahkan dibuat menggunakan alat kecerdasan buatan.
Sementara itu, para komandan Iran terus bertempur dan mempertahankan negara di medan perang.
Upaya Memicu Perpecahan Etnis Gagal
Larijani mengatakan Amerika Serikat juga mencoba mendorong separatisme di dalam Iran.
Ia mengatakan Washington berusaha menjalin kontak dengan kelompok-kelompok di wilayah Kurdistan dan mendorong mereka bertindak melawan pemerintah Iran.
Namun upaya tersebut gagal.
Larijani menegaskan bahwa komunitas Kurdi merupakan bagian yang berakar kuat dan dihormati dalam masyarakat Iran serta sangat memahami perilaku Amerika Serikat di negara-negara lain di kawasan, termasuk Suriah.
Serangan terhadap Sekolah dan Rumah Sakit
Larijani mengatakan setelah strategi sebelumnya gagal, musuh meningkatkan tindakannya dengan menargetkan wilayah sipil.
Ia menyebut serangan terhadap sekolah, termasuk sebuah sekolah perempuan, serta serangan terhadap rumah sakit dan fasilitas medis.
Ia juga merujuk pada ancaman terbaru dari Donald Trump yang menyatakan bahwa lokasi-lokasi tambahan di Iran dapat menjadi sasaran.
Meskipun menghadapi tekanan tersebut, Larijani mengatakan rakyat Iran tetap bersatu.
Upaya Menciptakan Perpecahan Internal Gagal
Larijani mengatakan Amerika Serikat telah menginvestasikan banyak upaya untuk menciptakan perpecahan dalam masyarakat Iran.
Ia mengatakan Washington mengira perbedaan politik di antara rakyat Iran dapat berubah menjadi fragmentasi sosial dan politik.
Namun strategi tersebut gagal.
Menurut Larijani, rakyat Iran mungkin memiliki pandangan yang berbeda, tetapi mereka tetap bersatu dalam hal negara dan keutuhan wilayahnya.
Perang Membebani Amerika Serikat
Larijani juga mempertanyakan proses pengambilan keputusan di balik perang tersebut, merujuk pada pernyataan yang dikaitkan dengan Donald Trump yang mengatakan bahwa ia “tergoda” untuk mengambil tindakan tertentu.
Ia mengatakan bahasa semacam itu menimbulkan pertanyaan serius tentang bagaimana keputusan militer besar diambil.
Larijani menambahkan bahwa laporan menunjukkan pasukan Amerika Serikat telah mengalami kerugian besar di kawasan selama konflik berlangsung.
Kebijakan Iran terhadap Negara-Negara Kawasan
Larijani mengatakan Iran menjaga hubungan persahabatan dengan negara-negara tetangga dan secara historis telah mendukung mereka pada masa krisis.
Ia mencatat bahwa ketika Saddam Hussein menyerang Kuwait dan Arab Saudi, Iran tidak membalas terhadap negara-negara tersebut.
Demikian pula ketika Amerika Serikat menginvasi Irak, Iran mendukung rakyat Irak.
“Para tetangga kami adalah teman-teman kami,” katanya.
Namun ia juga mengeluarkan peringatan tegas mengenai penggunaan pangkalan militer regional.
“Jika dalam perang ini sebuah pangkalan diberikan kepada Amerika Serikat dan operasi dilakukan dari sana terhadap Iran, Republik Islam memiliki hak untuk merespons,” kata Larijani.
“Ini adalah hak yang sah dan tidak dapat ditawar.”
Iran Tetap Bersatu
Larijani menutup pernyataannya dengan menekankan persatuan rakyat dan kepemimpinan Iran meskipun berada di bawah tekanan perang.
“Dalam perjuangan melawan Amerika Serikat dan Israel, tidak ada perpecahan di dalam negeri, dan terdapat koordinasi penuh antara rakyat dan para pejabat,” kata Larijani. (FG)


