Allamah Miftah: Yaman Teguh Bertahan: Bank Dibalas Bank, Bandara Dibalas Bandara, Pelabuhan Dibalas Pelabuhan
Pelaksana Tugas Perdana Menteri Muhammad Maftah menegaskan bahwa Rakyat Yaman Akan Melawan dan Menggagalkan Setiap Konspirasi”
Yaman, FAKTAGLOBAL.COM – Pelaksana Perdana Menteri Yaman, Cendekiawan Muhammad Maftah, pada Senin membuka acara tahunan Peringatan Para Syuhada di Sana’a, yang dihadiri oleh anggota Dewan Politik Tertinggi, para menteri, serta tokoh nasional dan masyarakat terkemuka.
Dalam pidatonya, Maftah memuji para syuhada Yaman sebagai simbol pengorbanan, martabat, dan keteguhan, menegaskan bahwa mereka telah memberikan hal paling berharga demi kehormatan, kemerdekaan, dan kedaulatan tanah air mereka.
“Yaman Tidak Akan Tunduk pada Tekanan”
Pelaksana Perdana Menteri menegaskan bahwa Yaman tidak akan pernah menyerah terhadap tekanan eksternal atau langkah-langkah yang menargetkan ekonomi dan penghidupan rakyatnya.
Ia menegaskan kembali bahwa prinsip timbal balik — “bank dibalas bank, bandara dibalas bandara, pelabuhan dibalas pelabuhan” — tetap menjadi sikap nasional yang mengikat dan tidak dapat ditawar.
“Permainan ini tidak akan terus berlanjut,” tegas Maftah.
“Rakyat kami, yang telah mempersembahkan kafilah para syuhada, akan menghadapi dan menggagalkan setiap rencana kalian, insya Allah.”
Dewan Politik Tertinggi: Satu Dekade Perlawanan
Anggota Dewan Politik Tertinggi, Abdulaziz bin Habtour, menegaskan kembali pernyataan Maftah, mengingat bahwa selama lebih dari sepuluh tahun agresi, rakyat Yaman telah menghadapi para tiran zaman ini dan menggagalkan setiap upaya untuk menundukkan mereka.
Ia menekankan bahwa perlawanan Yaman akan terus berlanjut hingga kemenangan penuh tercapai, sambil mencatat bahwa bangsa ini telah mempersembahkan para syuhada dari seluruh lapisan masyarakat — termasuk para pemimpin tinggi negara — demi mempertahankan kedaulatannya.
Menghormati Para Syuhada dan Keluarganya
Bin Habtour menyerukan dukungan dan perhatian berkelanjutan bagi keluarga para syuhada, dengan mengakui bahwa pengorbanan mereka merupakan tulang punggung ketahanan dan persatuan Yaman.
Ia menegaskan bahwa keluarga para syuhada merupakan perwujudan nyata kehormatan Yaman dan harus tetap menjadi prioritas nasional.
Penegasan kembali posisi Yaman ini muncul di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dan manuver politik internasional.
Prinsip abadi “bank dibalas bank, bandara dibalas bandara, pelabuhan dibalas pelabuhan” menjadi landasan utama strategi penangkal Yaman — menegaskan bahwa hak-hak nasional tidak dapat diperdagangkan di bawah paksaan, dan bahwa hubungan dengan pihak luar akan selalu ditentukan oleh asas timbal balik. (FG)



