Analis: AS–Israel Terkuras dalam Rudal dan Biaya, Tak Mampu Tanggung Perang Panjang
Analisis mengungkap besarnya pengeluaran AS–Israel, menipisnya stok rudal, dan kegagalan serangan terhadap Iran, yang memunculkan keraguan atas kemampuan mereka mempertahankan konflik jangka panjang.
Yaman, FAKTAGLOBAL.COM — Taleb Al-Hasani, analis media dan pemimpin redaksi Al-Masirah TV, mengungkap bahwa operasi militer terbaru Amerika Serikat dan Israel telah menyebabkan pengurasan besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap amunisi, kemampuan udara, dan sistem rudal.
Dalam sebuah segmen analisis di Al-Masirah, Al-Hasani menyatakan bahwa lebih dari 10.000 sorti udara dan lebih dari 13.000 serangan udara telah dilakukan, dengan biaya langsung diperkirakan mencapai sekitar 47 miliar dolar.
Ia mencatat bahwa entitas Israel sendiri melakukan lebih dari 10.800 serangan dalam sekitar 1.000 sorti, dengan biaya lebih dari 17 miliar dolar—tanpa mencapai tujuan militer yang dinyatakan.
Ia menambahkan bahwa operasi agresif tersebut berbenturan dengan ketahanan Iran, yang pada akhirnya menguras kemampuan ofensif AS dan Israel.
Geografi dan Kerahasiaan Iran Gagalkan Serangan AS-Israel
Al-Hasani menjelaskan bahwa kegagalan mencapai target sebagian besar disebabkan oleh kompleksitas geografis Iran, kerahasiaan sistem penyimpanan, serta sulitnya memperoleh intelijen akurat mengenai stok rudal dan kemampuan militer Iran.
Ia menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Israel mengerahkan senjata jarak jauh seperti rudal Tomahawk dan cruise missile, pembom strategis, serta bom berat, namun gagal menghasilkan dampak yang diharapkan di medan tempur. Target-target yang diperkuat serta jaringan penyimpanan yang tersebar dan tersembunyi secara signifikan mengurangi efektivitas serangan tersebut.
Ia juga menyoroti bahwa bahkan laporan Barat mengakui adanya ketidakakuratan dalam penilaian kerusakan, dengan mencontohkan klaim sebelumnya bahwa Hizbullah telah kehilangan 80% kemampuannya—klaim yang kemudian terbukti tidak benar.
Penurunan Tajam Stok Rudal AS dan Israel
Al-Hasani mengungkap penurunan signifikan dalam cadangan rudal AS, dengan stok rudal jarak jauh JASSM turun dari sekitar 2.300 menjadi hanya 425 unit. Persediaan rudal Tomahawk juga turun menjadi di bawah 2.000, sementara sekitar 200 rudal dari sistem THAAD telah digunakan.
Sementara itu, stok rudal Israel dilaporkan menurun ke tingkat yang sangat rendah, tidak lebih dari puluhan unit.
Ia menegaskan bahwa pengurasan ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai kemampuan Washington untuk mempertahankan perang jangka panjang, mengingat pengisian kembali stok tersebut dapat memakan waktu antara tiga hingga delapan tahun akibat keterbatasan produksi serta kekurangan bahan baku dan logam langka.
Kapasitas Produksi Terbatas vs Konsumsi Cepat
Al-Hasani menyoroti bahwa beberapa kontrak produksi yang ada hanya mencakup pembuatan ratusan rudal per tahun, mencerminkan kapasitas yang terbatas untuk menggantikan persenjataan yang terkuras secara cepat.
Ia menambahkan bahwa realitas ini membantu menjelaskan meningkatnya seruan untuk de-eskalasi atau gencatan senjata, karena Amerika Serikat dan Israel membutuhkan waktu untuk membangun kembali stok militer mereka.
Ia juga mencatat bahwa Washington semakin mengandalkan drone yang menyerupai UAV “Shahed” milik Iran, akibat keterbatasan ketersediaan rudal canggih, yang menunjukkan ketidakseimbangan antara laju produksi dan konsumsi di medan tempur.
Estimasi Bertentangan dan Daya Tangkal Iran
Al-Hasani juga menyoroti kontradiksi dalam penilaian AS terhadap stok rudal Iran, sementara laporan Barat menunjukkan bahwa Iran masih memiliki ribuan rudal balistik yang mampu mempertahankan daya tangkalnya.
Di sisi Israel, ia melaporkan lebih dari 8.600 sirene peringatan telah dibunyikan di berbagai wilayah, termasuk 38,7% di Jaffa, 27,5% di selatan, 19,6% di utara, serta tingkat serupa di Al-Quds. Hizbullah juga telah melakukan lebih dari 1.178 operasi hingga 8 April.
Dampak Ekonomi dan Sosial yang Meningkat
Ia lebih lanjut mengungkap bahwa lebih dari 28.237 klaim kompensasi telah diajukan di entitas Israel, mencakup kerusakan luas pada bangunan, kendaraan, peralatan, dan properti.
Perkembangan ini, menurutnya, telah menyebabkan kelumpuhan ekonomi dan sosial di permukiman, terutama di wilayah utara, di tengah tekanan militer yang terus berlanjut dari Hizbullah.
Perang Tanpa Hasil, Krisis yang Semakin Dalam
Al-Hasani menyimpulkan bahwa total biaya perang telah mencapai sekitar 47 miliar dolar bagi Amerika Serikat dan 17 miliar dolar bagi Israel hingga saat ini—angka yang belum termasuk kerugian akibat serangan Iran.
Ia menegaskan bahwa ketiadaan hasil nyata di medan tempur meskipun dengan pengeluaran besar tersebut menempatkan Washington dan entitas Israel dalam krisis politik dan ekonomi yang semakin dalam, disertai meningkatnya pertanyaan internal mengenai tujuan dan kelayakan perang, di tengah ketegangan yang terus berlangsung tanpa arah penyelesaian yang jelas. (FG)


