Analis: Iran Akan Jadi Penentu Perdamaian Pasca-Perang dalam Tatanan Global Baru
Seorang pakar menyatakan perang AS–Israel justru berbalik arah, mengangkat Iran sebagai kekuatan global penentu yang mampu membentuk perdamaian pascaperang dan tatanan regional
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Seorang analis politik Afghanistan menyatakan bahwa perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan entitas Zionis terhadap Republik Islam Iran justru berbalik merugikan pihak penyerang, membuka jalan bagi Teheran untuk menentukan syarat-syarat perdamaian dalam tatanan pascaperang.
Mohammad Tamim Haidari, peneliti Afghanistan sekaligus kepala Departemen Ilmu Politik dan Hubungan Internasional di Pusat Studi Internasional Afghanistan, menggambarkan konflik ini sebagai perang hegemonik yang didorong oleh ketakutan Washington terhadap meningkatnya kekuatan militer dan politik Iran.
Dalam wawancara dengan Rahil Association, Haidari menegaskan bahwa agresi terhadap Iran “melanggar hukum dan norma internasional,” serta memandang perang ini sebagai bagian dari perebutan kekuasaan global yang lebih luas.
“Perang Hegemonik” yang Dipicu Kebangkitan Iran
Haidari menekankan bahwa konfrontasi antara Iran dan poros AS–Israel harus dipahami dalam kerangka konflik hegemonik.
“Perang ini adalah perang hegemonik,” ujarnya, seraya menjelaskan bahwa konflik semacam ini secara historis muncul ketika kekuatan baru menantang dominasi kekuatan global yang sudah mapan.
Ia menambahkan bahwa kemampuan Iran yang terus berkembang—baik militer, politik, maupun strategis—telah menempatkannya sebagai salah satu dari sedikit negara yang mampu menantang hegemoni Amerika secara serius, baik di tingkat regional maupun global.
Menurut Haidari, pengaruh Iran kini melampaui batas geografisnya, menciptakan “keselarasan militer, politik, dan hukum yang signifikan” di Asia Barat, kawasan Teluk Persia, Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin dalam menghadapi kebijakan AS dan Israel.
Reaksi Global Mengungkap Runtuhnya Konsensus AS
Analis Afghanistan tersebut membagi respons global terhadap perang ini ke dalam tiga kelompok utama:
Kelompok A: Kekuatan perlawanan dan gerakan yang secara terbuka mendukung Iran, termasuk Hizbullah, Hashd al-Shaabi di Irak, serta Ansarullah di Yaman. Keterlibatan langsung mereka menunjukkan kedalaman pengaruh Iran di dunia Islam.
Kelompok B: Negara-negara seperti Rusia, China, dan Afghanistan di bawah Taliban, yang mengutuk agresi namun tidak terlibat langsung secara militer. Haidari menilai bahwa dukungan politik dan intelijen dari mereka tidak dapat diremehkan.
Kelompok C: Sekutu tradisional Amerika, terutama negara-negara Eropa, yang mengambil pendekatan penyeimbangan secara hati-hati. Berbeda dengan perang-perang sebelumnya di Kosovo, Irak, Libya, dan Afghanistan, negara-negara Eropa utama memilih untuk tidak terlibat.
Ia menyoroti bahwa Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol menolak berpartisipasi secara militer—bahkan dalam upaya pengamanan Selat Hormuz—yang disebutnya sebagai “pukulan keras” terhadap strategi agresif Washington.
Perang Mengubah Tatanan Global, Menguntungkan Iran
Haidari berpendapat bahwa perang ini telah memicu transformasi mendalam dalam dinamika kekuasaan global, dengan Iran muncul sebagai aktor sentral.
“Perang yang dimulai oleh Amerika Serikat dan Israel justru menghasilkan hasil yang berlawanan,” ujarnya. “Iran kini tidak lagi dipandang sebagai target, melainkan sebagai kekuatan yang tidak dapat dihapus dari perhitungan global.”
Ia menambahkan bahwa konflik ini dapat mempercepat transisi dari dunia unipolar yang didominasi Amerika menuju “tatanan multipolar yang nyata,” di mana Iran memainkan peran yang menentukan dan tidak dapat diabaikan.
Di antara indikator utama yang disebutkan:
Penolakan NATO dan negara-negara Eropa untuk mengikuti upaya perang AS
Penolakan Eropa terhadap permintaan Washington terkait keamanan Hormuz
Koordinasi independen India dengan Iran terkait jalur energi
Pembatasan penggunaan pangkalan militer Eropa oleh AS
Ketidakstabilan pasar global di berbagai ekonomi besar
Meningkatnya penolakan publik terhadap kebijakan perang AS
Ia juga mencatat bahwa Washington terpaksa memberikan konsesi kepada rivalnya seperti Rusia dan China untuk mengendalikan dampak perang.
“Iran Akan Menentukan Syarat Perdamaian”
Dalam penilaian akhirnya, Haidari menyatakan bahwa keseimbangan strategis telah bergeser secara tegas menguntungkan Iran.
“Perang ini berakhir dengan merugikan Amerika Serikat,” ujarnya. “Iran akan menentukan syarat-syarat perdamaian.”
Ia menambahkan bahwa respons militer yang berkelanjutan, ketahanan defensif, serta persatuan internal Iran tidak hanya berhasil menggagalkan tujuan musuh—termasuk perubahan rezim—tetapi juga mengangkat Iran sebagai kekuatan global yang tidak dapat disangkal.
Menurut Haidari, pendekatan Teheran memastikan bahwa “musuh tidak akan berani lagi menyerang Iran setelah perang ini.”
Menuju Gencatan Senjata atau Eskalasi Lebih Luas
Ke depan, analis tersebut menilai bahwa perang dapat mengarah pada gencatan senjata yang signifikan jika mediasi pihak ketiga berhasil dan pihak lawan menerima tuntutan sah Iran.
Namun, ia memperingatkan bahwa kelanjutan eskalasi berisiko menyeret lebih banyak negara ke dalam konflik, dengan konsekuensi yang tidak dapat diprediksi bagi kawasan maupun dunia.
“Bersikeras melanjutkan perang dapat mendorong situasi keluar dari kendali,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa skenario tersebut tidak akan menguntungkan pihak mana pun.
Penilaian ini memperkuat pandangan yang semakin berkembang di kawasan: perang yang dimaksudkan untuk membendung Iran justru memperkokoh kebangkitannya—menempatkan Teheran pada posisi untuk tidak hanya membentuk medan pertempuran, tetapi juga menentukan perdamaian yang akan datang. (FG)


