Analis: Kasus Epstein Ungkap Sistem Pemerasan Elite dalam Pengendalian Kekuasaan Global
Berkas Epstein mengungkap bagaimana Barat menjadikan pemerasan elit, perlindungan intelijen, dan kekebalan institusional sebagai senjata untuk membentuk dan mengendalikan tatanan kekuasaan global.
Yaman | FAKTAGLOBAL.COM — Peneliti dan analis politik Dr. Hassan Al-Zein menyatakan bahwa skandal Epstein bukan sekadar kisah kejahatan pribadi, melainkan jendela untuk melihat arsitektur pengendalian keuangan global, pemerasan politik, dan manipulasi intelijen yang berakar pada sistem internasional yang didominasi Barat.
Al-Zein, dalam pernyataannya kepada media negara Yaman, mengatakan bahwa kasus ini mencerminkan pertarungan yang lebih dalam di dalam tatanan keuangan global—yang beririsan dengan eksploitasi seksual, leverage intelijen, dan kekebalan elite.
Epstein: Alat Leverage Keuangan dan Politik
Al-Zein menegaskan bahwa kembali munculnya nama-nama yang terkait dengan Jeffrey Epstein harus dipahami dalam konteks eksploitasi sistemik, bukan sebagai pelanggaran individual semata.
Ia menjelaskan bahwa figur-figur yang dikaitkan dengan Epstein sengaja dibingkai melalui skandal seksual, guna mengalihkan perhatian dari kejahatan keuangan, keterlibatan perbankan, dan perlindungan intelijen yang memungkinkan Epstein terus beroperasi meski sejak 2008 telah diklasifikasikan sebagai individu berisiko tinggi.
Bank-bank Amerika Serikat dan Eropa tetap menjalin hubungan dengan Epstein lama setelah profil kriminalnya diketahui—sebuah kondisi yang oleh Al-Zein disebut sebagai perlindungan institusional, bukan kelalaian.
Pusat Kekuatan Keuangan: Swiss vs New York
Al-Zein menunjuk dua pusat keuangan dominan—Swiss dan New York—sebagai pusat pengaruh yang saling bersaing dalam sistem kapitalisme global.
Ia menyoroti munculnya ketegangan di antara kedua pusat tersebut, dengan menyatakan bahwa kasus Epstein telah menjadi alat tekanan dalam perebutan yang lebih luas terkait arus modal, dominasi perbankan, dan leverage geopolitik.
Sejumlah aktor keuangan, menurutnya, kini mulai “membakar berkas dan mengorbankan nama-nama tertentu” seiring mengerasnya konflik internal di kalangan elite keuangan Barat.
Intelijen, Jaringan Zionis, dan Pemerasan Moral
Al-Zein mengajukan pertanyaan langsung mengenai peran badan intelijen dan jaringan yang terkait dengan Zionisme dalam melindungi Epstein dan memanfaatkan aktivitasnya sebagai senjata politik.
Ia berpendapat bahwa pemerasan seksual tetap menjadi salah satu alat paling efektif yang digunakan oleh layanan intelijen untuk mengendalikan politisi, pebisnis, dan para pengambil keputusan, khususnya di Amerika Serikat dan Eropa.
Dalam konteks ini, Epstein bukanlah anomali, melainkan bagian dari sistem yang bangkrut secara moral—sistem yang mengubah kejahatan menjadi alat pengaruh.
Trump dan Tekanan Keuangan dalam Sistem yang Sama
Al-Zein juga menyinggung Donald Trump, dengan menyatakan bahwa Trump sendiri menghadapi tekanan keuangan besar dan gugatan hukum yang nilainya dilaporkan mencapai sekitar 5 miliar dolar AS, terkait perselisihan dengan bank-bank besar.
Alih-alih mewakili sosok di luar sistem, Al-Zein menilai bahwa Trump terjerat dalam struktur kekuasaan keuangan dan hukum yang sama, meskipun rivalitas internal terkadang muncul ke permukaan.
Berkas Epstein, menurutnya, diaktifkan secara selektif dalam pertarungan antar-elite, bukan demi keadilan.
Waktu Kebangkitan Kasus Epstein: Keadilan atau Pemerasan?
Al-Zein mempertanyakan mengapa kasus Epstein kini kembali diangkat secara agresif dalam wacana global.
Ia menguraikan dua skenario yang paling mungkin:
Banjir informasi — membanjiri publik dengan data yang saling bertentangan hingga kasus ini runtuh menjadi vonis minimal dan ditutup secara senyap.
Politisasi berkas — memanfaatkan kasus ini sebagai alat tekan dalam pertarungan elektoral AS dan konflik kekuasaan internal, termasuk tekanan terhadap keluarga keuangan berpengaruh dan institusi politik.
Dalam kedua skenario tersebut, keadilan bagi para korban tetap berada di posisi sekunder.
Kemunafikan Barat dan Mitos Otoritas Moral
Al-Zein menegaskan bahwa skandal Epstein memperlihatkan runtuhnya kredibilitas moral Barat, terutama ketika pemerintah-pemerintah yang mengkhotbahkan “hak asasi manusia” justru melindungi pelaku kekerasan seksual berantai yang terhubung dengan elite global.
Ia mengaitkan kemunafikan ini dengan perilaku Barat secara lebih luas—mulai dari eksploitasi keuangan hingga perang, sanksi, dan pendudukan—seraya menegaskan bahwa sistem yang sama yang melindungi Epstein adalah sistem yang melancarkan agresi terhadap negara-negara merdeka.
Meski mengakui bahwa kesadaran publik global tentang manipulasi intelijen kian meningkat, Al-Zein mencatat bahwa respons populer dan akademik masih terbatas.
Namun demikian, ia menilai bahwa terbukanya korupsi elite secara bertahap akan melemahkan dominasi Barat, membuka ruang bagi narasi perlawanan dan alternatif multipolar.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa skandal Epstein belum berakhir—ia adalah garis retakan dalam sistem Barat, yang akan terus muncul seiring pergeseran kekuasaan global menjauh dari hegemoni yang berpusat pada Amerika Serikat. (FG)


