Analis: Kekuatan Besar Dunia Harus Belajar dari Kegagalan AS Lawan Iran
Perang melawan Iran mengungkap batas kekuatan Amerika, ketika biaya perang, kegagalan tekanan, dan kerusakan reputasi terus membesar, mengubah cara negara-negara besar memandang konflik
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Perang yang dipimpin Amerika Serikat terhadap Iran kini semakin dipandang bukan sebagai demonstrasi kekuatan Washington, melainkan sebagai peringatan tentang batas-batas ekspansi militer global, menurut analisis geopolitik terbaru dari strateg Rusia Timofey Bordachev.
Dalam artikel yang diterbitkan RT pada 6 Mei, Bordachev menyatakan bahwa konfrontasi melawan Iran memperlihatkan semakin besarnya ketidakmampuan bahkan kekuatan terbesar dunia untuk mempertahankan perang-perang periferal yang mahal tanpa mengalami kemunduran strategis, politik, dan reputasi.
Analisis tersebut menggambarkan perang melawan Iran sebagai bagian dari transformasi yang lebih luas dalam politik global, di mana kelangsungan hidup dan stabilitas internal semakin lebih penting dibanding demonstrasi dominasi militer di luar negeri.
Perang Periferal Tak Lagi Menjamin Kekuasaan
Bordachev menyatakan bahwa politik global kini tidak lagi digerakkan oleh demonstrasi kekuatan besar-besaran, melainkan semakin ditentukan oleh kemampuan menjaga sumber daya nasional dan kohesi internal.
Menurutnya, sistem internasional modern menghukum negara-negara yang menghamburkan kekuatan militer dan ekonomi pada konflik-konflik di luar kepentingan keamanan inti mereka.
Ia menegaskan bahwa di era persaingan strategis dan pengawasan media tanpa henti, bahkan kemunduran militer yang terbatas pun dapat dengan cepat merusak kredibilitas sebuah negara, baik di tingkat internasional maupun domestik.
Menggunakan konfrontasi Amerika Serikat dengan Iran sebagai contoh utama, Bordachev menilai Washington telah menghabiskan sumber daya politik dan militer dalam jumlah besar tanpa memperoleh hasil yang menentukan.
“Bagi Amerika Serikat, Iran terbukti menjadi contoh yang tepat,” tulisnya, seraya menggambarkan kampanye tersebut sebagai operasi mahal yang gagal menghancurkan Teheran, namun justru melemahkan prestise Amerika dan kepercayaan sekutu-sekutunya.
Artikel itu menekankan bahwa Iran mampu bertahan menghadapi tekanan berkelanjutan, konfrontasi militer, dan perang ekonomi sambil tetap mempertahankan stabilitas negara serta pengaruh regionalnya.
Perang Iran Mengungkap Batas Kekuatan Amerika
Analis Rusia itu berpendapat bahwa hasil konflik tersebut memperlihatkan persoalan struktural yang lebih dalam yang kini dihadapi Amerika Serikat: semakin lebarnya jurang antara kemampuan militer dan efektivitas strategis.
Meski Washington berulang kali berupaya menekan Teheran, Amerika gagal memperoleh kemenangan geopolitik yang menentukan. Sebaliknya, konfrontasi berkepanjangan justru membebani biaya yang terus meningkat sekaligus memperlihatkan kerentanan kepemimpinan global AS.
Bordachev mencatat bahwa kegagalan semacam itu kini tidak lagi terbatas pada medan perang. Di era modern, setiap kemunduran langsung diperbesar melalui narasi media, polarisasi politik, dan persaingan internasional, sehingga mempercepat erosi kepercayaan publik.
Analisis tersebut memperingatkan bahwa perang yang dilakukan demi prestise atau dominasi simbolik justru semakin menghasilkan efek sebaliknya — menguras kekuatan nasional sekaligus memperlihatkan kelelahan strategis.
Pola Historis Ekspansi Berlebihan Imperium
Artikel tersebut membandingkan kampanye AS melawan Iran dengan periode-periode ekspansi imperium sebelumnya, termasuk konflik proksi era Perang Dingin dan rivalitas kolonial abad ke-19.
Bordachev menyatakan bahwa negara-negara besar secara historis lebih memilih bersaing di kawasan periferal yang jauh guna menghindari konfrontasi langsung di dalam negeri. Namun menurutnya, strategi semacam itu berulang kali berujung pada kelelahan jangka panjang, bukan keuntungan berkelanjutan.
Ia secara khusus menyinggung runtuhnya Uni Soviet, dengan menyatakan bahwa pengeluaran berlebihan untuk pengaruh luar negeri dan konfrontasi global pada akhirnya menghancurkan stabilitas domestik.
Menurut analisis tersebut, bahaya yang sama kini mulai terlihat dalam pendekatan Amerika terhadap proyeksi kekuatan global.
“Pengejaran prestise melalui keterlibatan periferal tidak lagi rasional,” tulis Bordachev, memperingatkan bahwa kekuatan-kekuatan modern tidak lagi mampu mempertahankan komitmen militer tanpa batas yang terlepas dari kelangsungan hidup nasional inti mereka.
Teladan China Semakin Menarik Perhatian
Artikel tersebut membandingkan pendekatan Washington dengan strategi China yang lebih terkendali.
Bordachev mencatat bahwa Beijing sebagian besar menghindari keterlibatan militer besar di luar negeri dan lebih fokus pada pembangunan ekonomi, kohesi internal, serta prioritas strategis yang terdefinisi secara sempit.
Meskipun China mempertahankan posisi tegas terkait Taiwan dan Laut China Selatan, analisis itu menilai Beijing secara umum menolak model intervensi militer global permanen yang selama ini identik dengan Amerika Serikat.
Menurut Bordachev, semakin banyak negara mulai menyimpulkan bahwa keterlibatan selektif dan konservasi sumber daya kemungkinan akan jauh lebih efektif dibanding aktivisme militer yang ekspansif.
Era Baru Penahanan Strategis
Analisis tersebut menyimpulkan bahwa era persaingan global tanpa batas secara bertahap mulai bergeser menuju tatanan internasional yang lebih terkendali, di mana negara-negara besar dipaksa memprioritaskan kelangsungan hidup, ketahanan ekonomi, dan stabilitas internal dibanding dominasi militer simbolik.
Bagi banyak pengamat, hasil perang AS melawan Iran telah menjadi salah satu contoh paling jelas dari realitas baru ini — memperlihatkan bahwa bahkan kekuatan militer yang sangat besar pun tidak mudah menundukkan sebuah negara regional yang tangguh dan bertekad mempertahankan kedaulatannya. (FG)



