Analis: Penarikan UEA dari Yaman Hanya Sekadar Pencitraan
Para Pakar Memperingatkan bahwa Klaim Penarikan UEA Disebut Sekadar Pencitraan, menyebut langkah tersebut semata bersifat kosmetik dan ditujukan untuk menipu opini publik internasional.
Yaman, FAKTAGLOBAL.COM — Analis politik Yaman al-Yousufi menepis klaim Uni Emirat Arab (UEA) bahwa mereka telah menarik pasukan militernya dari sejumlah provinsi Yaman, dengan menyebut langkah tersebut semata bersifat kosmetik dan ditujukan untuk menipu opini publik internasional.
Al-Yousufi menegaskan bahwa kehadiran nyata UEA di Yaman selatan tetap berlanjut melalui kekuatan proksi lokal yang telah mereka bina dan perkuat selama bertahun-tahun. Menurutnya, Abu Dhabi hanya mengalihkan pola dari penempatan langsung ke kendali tidak langsung tanpa meninggalkan tujuan strategisnya.
Basis Militer dan Kehadiran Israel Tetap Bertahan
Menurut al-Yousufi, pengaruh Emirat—bersama kehadiran Israel—tetap mengakar kuat melalui basis-basis militer di lokasi strategis, terutama di Pulau Mayun, serta barak-barak yang dibangun di bawah pengawasan langsung UEA dan koordinasi dengan aktor lokal.
Ia menambahkan bahwa aktivitas tersebut dijalankan di bawah payung politik internasional yang dipimpin Britania Raya, yang ia sebut sebagai arsitek historis proyek kolonial di Yaman selatan, dengan UEA bertindak sebagai perpanjangan modernnya sejak 1970-an.
Al-Yousufi juga menyatakan bahwa Abu Dhabi mewarisi arsip intelijen Yaman berskala besar dari otoritas Inggris dan terus mengoperasikannya di lapangan demi dominasi dan kontrol—bukan untuk kontra-terorisme sebagaimana diklaim.
Terorisme Direproduksi, Bukan Diberantas
Menolak narasi Emirat tentang pemberantasan terorisme, al-Yousufi menyatakan proyek-proyek yang dipaksakan di Yaman selatan justru berkontribusi pada reproduksi dan perluasan kelompok ekstremis dengan label menyesatkan.
Ia berargumen bahwa pembongkaran struktur sosial, pengurasan kekuatan revolusioner, serta pemicu konflik internal yang disengaja mencerminkan pola serupa di Libya dan Suriah—bertujuan menjaga Yaman selatan tetap lemah dan tak mampu menghadapi ambisi asing.
Ia menambahkan bahwa Arab Saudi memainkan peran paralel dengan label berbeda, mengejar tujuan yang saling tumpang tindih dalam kerangka eksternal yang sama.
Peran AS dan Israel dalam Rekonfigurasi Kawasan
Al-Yousufi memperingatkan bahwa perkembangan terkini mencerminkan kebangkitan skema kolonial lama Inggris untuk memecah kawasan menjadi entitas rapuh—dari Yaman hingga Somalia, Sudan, Libya, dan seterusnya.
Ia menunjuk intervensi Amerika Serikat sebagai upaya mengelola ketegangan di antara alat-alat regionalnya sejalan dengan kepentingan Amerika–Israel, khususnya di tengah laporan niat Arab Saudi bergabung dengan apa yang disebut Abraham Accords, mengikuti model Emirat.
Ia mencatat perusahaan-perusahaan AS kini menikmati kehadiran yang kian besar di sektor minyak Hadramout dan Shabwa, melampaui perusahaan Inggris—menandakan meluasnya pengaruh Amerika atas sumber daya strategis Yaman.
Rivalitas Saudi–Emirat di Hadramout terjadi dengan Restu AS
Dalam penilaian terpisah, pakar militer Yaman Brigadir Jenderal Abdulghani al-Zubaidi menyatakan situasi di Hadramout dan Al-Mahra mencerminkan perebutan pengaruh terbuka antara Arab Saudi dan UEA.
Al-Zubaidi mengatakan bahwa meski sebelumnya Riyadh menetapkan zona pengaruh bagi Abu Dhabi, UEA belakangan bergerak—dengan dukungan Amerika dan Israel—untuk memperluas jejaknya di Yaman timur.
Ia menegaskan langkah-langkah tersebut tak mungkin terjadi tanpa lampu hijau dari Washington dan dukungan Israel, seraya menyebutnya sebagai bagian dari kampanye terukur yang melayani agenda asing.
Aksi Simbolik, Tujuan Strategis
Menanggapi laporan tentang dua kapal yang bergerak dari Pelabuhan Fujairah menuju Mukalla, al-Zubaidi menilai setiap penargetan terkait pergerakan itu berdampak militer langsung yang kecil dan lebih berfungsi sebagai pesan politik-media—menyerupai taktik Israel yang menargetkan situs sipil atau simbolik untuk membentuk narasi.
Ia menyebut pesan tersebut tampaknya ditujukan terutama kepada UEA, menyiapkan opini publik bagi pengumuman penarikan dari Hadramout dan Al-Mahra—penarikan yang tetap dangkal dan gagal membongkar mekanisme kendali tidak langsung.
Tak Ada Penarikan Nyata yang Diharapkan
Al-Zubaidi menyimpulkan bahwa pasukan yang didukung Emirat—khususnya yang disebut Southern Transitional Council—mengandalkan dukungan implisit AS meski tanpa pernyataan formal.
Ia mengutip intensifikasi kontak diplomatik antara AS, Saudi, dan pejabat Teluk dalam beberapa hari terakhir sebagai bukti keterlibatan langsung Washington.
Setiap penarikan Emirat, katanya, akan tetap terbatas dan simbolik—terutama di dekat wilayah perbatasan dengan Arab Saudi—sementara jaringan kendali dan pengaruh asing yang mendasarinya akan tetap utuh, melayani kepentingan strategis AS dan Israel dengan mengorbankan kedaulatan Yaman. (FG)
Sumber: Al-Masirah



