Anggota Parlemen Hizbullah: Perlawanan Tak Bisa Ditawar — Persatuan adalah Keniscayaan Nasional
Fadlallah menegaskan perlawanan tetap menjadi satu-satunya jalan bagi Lebanon untuk pembebasan dan pertahanan, menolak negosiasi yang mengorbankan kedaulatan serta memperingatkan bahaya perpecahan
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM — Anggota blok Loyalitas kepada Perlawanan, Hassan Fadlallah, menegaskan bahwa “perlawanan di Lebanon hari ini adalah pilihan nasional yang tidak memiliki alternatif dalam membebaskan tanah kami, membela rakyat kami, dan melindungi negara kami.”
Ia menegaskan bahwa perlawanan akan terus berlanjut dan tidak akan mundur hingga musuh dipaksa keluar dari wilayah Lebanon dan menghentikan agresinya. Ia juga menekankan bahwa perlawanan tidak akan menerima—apa pun pengorbanannya—kembali ke kondisi sebelum 2 Maret, seraya menyebut posisi ini sebagai keputusan yang tegas dan tidak dapat diubah.
Dengan demikian, ia menyatakan bahwa setiap kesepakatan di masa depan di Lebanon harus menjamin penghentian seluruh bentuk agresi terhadap negara tersebut.
Pengorbanan untuk Bangsa, Bukan untuk Perpecahan
Pernyataan Fadlallah disampaikan dalam sebuah acara peringatan yang diselenggarakan oleh Hezbollah untuk menghormati para syuhada Perlawanan Islam di kawasan Bir Hassan, Beirut, yang dihadiri oleh tokoh politik, agama, dan sosial, serta keluarga para syuhada.
Ia menyebut bahwa beban perang saat ini ditanggung oleh basis sosial perlawanan, rakyat, dan wilayah Selatan—demi membela seluruh Lebanon.
Ia menyerukan kepada pihak-pihak internal untuk menghentikan serangan, konspirasi, dan hasutan terhadap perlawanan, serta menegaskan bahwa perlawanan, dengan dukungan rakyat dan para syuhada, sepenuhnya mampu menghadapi musuh dan membela negara.
“Medan pertempuran tetap kokoh,” katanya, “dan kami memiliki orang-orang yang tekadnya tidak akan goyah—meskipun gunung runtuh.”
Perlawanan Tidak Butuh Izin
Fadlallah menolak tuduhan bahwa perlawanan telah menyeret Lebanon ke dalam perang tanpa konsultasi, dengan menyatakan bahwa klaim tersebut mengabaikan berbulan-bulan agresi yang terus berlangsung dari pihak musuh. Ia mengungkapkan bahwa perlawanan telah berulang kali memperingatkan otoritas Lebanon dan pihak internasional bahwa kesabaran memiliki batas dan darah tidaklah murah.
“Ketika ada pendudukan dan agresi, perlawanan tidak membutuhkan izin,” ujarnya. “Membela tanah air tidak memerlukan konsensus nasional.”
Ia menegaskan bahwa Lebanon sejak lama terpecah dalam menghadapi konflik dengan musuh Israel, seraya mencatat bahwa bahkan ketika wilayah Selatan menghadapi agresi, sebagian suara internal tetap berpihak kepada musuh.
Penolakan terhadap Ketundukan Melalui Negosiasi
Fadlallah mengkritik pihak-pihak dalam otoritas Lebanon yang menempuh negosiasi langsung dengan apa yang ia sebut sebagai “musuh Israel teroris,” dengan menuduh mereka memberikan konsesi secara cuma-cuma dan menempatkan Lebanon dalam posisi tunduk dan terhina.
“Kami telah memperingatkan mereka untuk tidak menempuh jalan ini—itu tidak akan menguntungkan kalian, dan musuh tidak akan memberi kalian apa pun,” ujarnya, seraya mencatat bahwa bahkan gencatan senjata menyeluruh pun belum tercapai, sementara pembunuhan dan kehancuran terus berlangsung.
Ia menegaskan bahwa perlawanan tidak mengakui hasil dari negosiasi semacam itu dan tidak akan membiarkannya berlalu, serta memperingatkan bahwa langkah tersebut memperdalam perpecahan internal dan merusak persatuan nasional.
Seruan untuk Persatuan Nasional Menghadapi Tekanan Eksternal
Fadlallah menyerukan kepada otoritas untuk kembali kepada rakyatnya dan membangun pemahaman nasional yang sejati di antara seluruh komponen negara guna menghadapi konsekuensi agresi dengan sikap yang bersatu—bukan ketundukan.
Ia memperingatkan terhadap “fitnah terselubung” dan skema politik yang bertujuan mendorong Lebanon menuju kehancuran, serta menegaskan bahwa mereka yang menyerah kepada musuh sedang melakukan bunuh diri politik dan nasional.
“Perlawanan,” katanya, “adalah tindakan kepahlawanan, pengorbanan, dan kesyahidan—dan ia akan keluar dari perang ini dengan kemenangan.”
Peringatan terhadap Hasutan Sektarian
Fadlallah memperingatkan bahwa pihak-pihak yang menyebarkan ketegangan sektarian dan keagamaan bertanggung jawab atas destabilisasi negara, serta menuduh sejumlah faksi politik dan media memicu kebencian, hasutan, dan perpecahan.
Ia menyerukan kepada semua pihak yang ingin menjaga perdamaian sipil untuk menahan diri dari retorika provokatif dan kampanye media yang menargetkan martabat, simbol, dan pengorbanan perlawanan serta para pendukungnya.
Ia menegaskan bahwa hasutan terhadap komunitas Syiah—bersama mereka dari sekte lain yang mendukung perlawanan—merupakan bagian dari kampanye yang lebih luas untuk mencemarkan nama baik dan memecah belah.
Perlawanan sebagai Suara Nasional
Menutup pernyataannya, Fadlallah menegaskan bahwa suara-suara yang mendukung perlawanan dari berbagai sekte merupakan posisi nasional yang sejati yang berpihak pada kebenaran dan martabat.
Ia menyerukan kepada semua pihak yang bertanggung jawab untuk mengambil tindakan terhadap hasutan dan disinformasi yang menargetkan perlawanan, serta menegaskan bahwa persatuan Lebanon bergantung pada penolakan terhadap perpecahan dan keteguhan dalam menghadapi agresi eksternal. (FG)


