Apakah ISIS Kembali ke Suriah Timur?
Pelarian tahanan ISIS di Suriah timur kembali memicu kekhawatiran tentang sel-sel tidur, jaringan kabilah, dan geografi kebangkitan kembali kelompok tersebut.
Suriah, FAKTAGLOBAL.COM – Dengan kaburnya sejumlah tahanan ISIS dari penjara-penjara di Suriah timur, kemungkinan aktifnya kembali kelompok tersebut kembali menjadi perbincangan.
Seiring perubahan keseimbangan kekuatan di Suriah timur setelah mundurnya Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di hadapan Tentara Suriah, laporan media menyebutkan pelarian sejumlah tahanan ISIS.
Hal ini memunculkan pertanyaan utama: ke mana para elemen ISIS yang melarikan diri ini menuju, dan wilayah mana yang paling mungkin menjadi arena prioritas bagi kebangkitan kembali ancaman kelompok tersebut?
Menjawab pertanyaan ini membutuhkan bukan spekulasi, melainkan pembacaan ulang yang cermat atas realitas lapangan dalam beberapa tahun terakhir.
Di Mana Tahanan ISIS Ditahan?
Jumlah terbesar tahanan ISIS—termasuk elemen operasional maupun keluarga mereka—ditahan di wilayah yang sebelumnya dikuasai Pasukan Demokratik Suriah (SDF), khususnya di kawasan mayoritas Arab di Suriah timur.
Provinsi Raqqa, wilayah selatan Hasakah, dan sebagian Deir ez-Zor menjadi pusat-pusat penahanan setelah pasukan pemerintah Suriah menarik diri dari kawasan tersebut pada era Assad, dengan SDF memindahkan tahanan ISIS ke penjara-penjara di wilayah ini.
Dalam beberapa pekan dan bulan terakhir, bukti visual dan laporan lapangan menunjukkan bahwa setelah terjadinya perubahan penguasaan wilayah dan mundurnya pasukan SDF di hadapan otoritas pemerintah transisi di Damaskus, sebagian tahanan berhasil melarikan diri di tengah dinamika keamanan yang berkembang.
Perkembangan ini memiliki signifikansi strategis, terutama mengingat rekam jejak ISIS dalam memulihkan kemampuannya secara bertahap.
Tujuan Pertama: Suriah Timur — Skenario yang Paling Jelas
Tujuan pertama dan paling mungkin bagi elemen ISIS yang melarikan diri adalah Suriah timur itu sendiri. Para individu ini tidak serta-merta perlu meninggalkan kawasan tersebut, karena ISIS masih memiliki infrastruktur bertahan hidup dan jaringan minimal di wilayah ini.
Sejak 2020, setiap tahun tercatat puluhan operasi yang dikaitkan dengan ISIS di Suriah timur. Operasi-operasi ini menunjukkan bahwa ISIS mempertahankan apa yang disebut sebagai “sel-sel tidur” (khalaya na’ima).
Jaringan-jaringan ini tetap tidak aktif dalam kondisi normal, namun akan bergerak ketika situasi memungkinkan—melakukan operasi lalu menghilang di bentang gurun kawasan tersebut.
Saat ini, fungsi utama sel-sel ini adalah memberikan perlindungan bagi elemen yang melarikan diri, menyediakan tempat persembunyian, dan membantu pemulihan kapasitas operasional.
Dari sudut pandang ini, Suriah timur bukan hanya tujuan pertama, tetapi juga lingkungan alami bagi rekonstruksi bertahap ISIS.
Dinamika Kabilah dan Isu Baiat
Di luar kapasitas operasional, dimensi sosial tidak boleh diabaikan. ISIS secara konsisten mengklaim bahwa sebagian signifikan dari kabilah-kabilah Arab di Suriah timur tetap setia pada baiat mereka kepada apa yang disebut sebagai kekhalifahan.
Pada 2014, kawasan-kawasan ini sepenuhnya berada di bawah pendudukan ISIS. Setelah Abu Bakr al-Baghdadi mendeklarasikan kekhalifahan, tafsir fikih ISIS mewajibkan seluruh penduduk untuk berbaiat, dengan penolakan dianggap sebagai kemurtadan. Dari perspektif ISIS, baiat ini tidak berakhir dengan kematian Baghdadi, melainkan berpindah kepada para penerusnya.
Atas dasar itu, ISIS masih memandang dirinya memiliki basis sosial laten di kalangan sebagian unsur kabilah—sebuah kapasitas yang dapat diaktifkan sebagai dukungan tersembunyi pada masa ketidakstabilan keamanan.
Tujuan Kedua: Irak dan Kesenjangan Data
Skenario kedua melibatkan pergerakan sebagian elemen ISIS yang melarikan diri ke Irak. Pemindahan tahanan ISIS dari Suriah ke Irak telah berlangsung selama dua tahun terakhir dalam kerangka yang dikelola oleh Amerika Serikat.
Pemindahan ini secara resmi dilakukan melalui penyerahan kepada pemerintah pusat Irak di bawah pengawasan ketua lembaga peradilan negara tersebut, Hakim Faiq Zaidan.
Namun, persoalan utama adalah ketiadaan angka dasar yang transparan.
Masih belum jelas berapa banyak individu yang mungkin lolos dari celah keamanan selama proses pemindahan atau yang berhasil melarikan diri sepenuhnya. Sejumlah pejabat Irak berupaya mengecilkan persoalan ini dengan menyebut angka dua digit, sementara perkiraan awal independen menilai jumlah elemen yang masuk atau melarikan diri setidaknya mencapai ratusan.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sebagian elemen ISIS secara efektif telah memasuki wilayah Irak—sebuah perkembangan yang berpotensi membawa dampak keamanan jangka menengah yang nyata bagi negara tersebut.
Qalamoun Barat?
Di samping dua skenario utama ini, kemungkinan ketiga juga muncul pada tataran teoretis: pemindahan terkoordinasi sebagian elemen ISIS ke Suriah barat dan penempatan mereka di kawasan pegunungan Qalamoun Barat, di dekat perbatasan Lebanon.
Jika terwujud, skenario semacam ini, dalam perhitungan keamanan tertentu, dapat melayani kepentingan Amerika Serikat dan bahkan struktur kekuasaan transisi yang berbasis di Damaskus.
Namun hingga kini, tidak ada bukti lapangan yang kredibel maupun informasi intelijen operasional yang dapat menguatkan hipotesis ini.
Karena itu, meskipun tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan, skenario ini saat ini tidak memiliki tingkat kredibilitas yang berarti dan tetap berada pada level kemungkinan teoretis semata.
Penilaian Keseluruhan
Bukti-bukti yang tersedia menunjukkan bahwa tujuan utama elemen ISIS yang melarikan diri tetaplah Suriah timur—sebuah wilayah di mana kelompok tersebut masih mempertahankan sel-sel tidur, kapasitas sosial laten, dan pengalaman operasional yang diperlukan untuk pemulihan bertahap.
Irak berada di posisi tujuan kedua, meskipun ketidakjelasan data statistik menyulitkan penilaian akurat atas skala ancaman. Skenario lainnya, termasuk relokasi ke Suriah barat, saat ini tidak didukung bukti operasional dan tidak semestinya dibesar-besarkan. (FG)


