Pesan Tegas Menlu Iran ke AS: Ancaman, Intimidasi Telah Gagal—dan Akan Gagal Lagi
Menteri luar negeri Iran menepis paksaan era Trump, menegaskan tekanan militer telah runtuh dan hanya diplomasi yang dapat menyelesaikan isu nuklir
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araghchi, menyampaikan pesan tegas kepada Washington: ancaman, perang, dan intimidasi telah gagal—dan akan gagal lagi.
Dalam wawancara dengan Morning Joe, Araghchi menekankan bahwa tidak ada solusi militer untuk program nuklir Iran, sebuah kenyataan yang menurutnya telah diuji oleh Amerika Serikat dan terbukti sia-sia.
“Fasilitas kami diserang, para ilmuwan kami dibunuh, tetapi program nuklir Iran tetap bertahan,” ujarnya. “Mengapa? Karena program ini bersifat indigenous, dibangun oleh ilmuwan kami sendiri. Teknologi ini milik kami dan tidak dapat dihancurkan dengan bom.”
Araghchi menegaskan bahwa kembalinya Washington ke meja perundingan merupakan pengakuan atas kegagalan pendekatan koersif. Iran, katanya, sepenuhnya siap untuk perdamaian dan diplomasi—sebagaimana juga siap membela diri jika agresi dipaksakan.
Perundingan Jenewa Membuktikan Diplomasi Bekerja, Bukan Ancaman
Menanggapi spekulasi tentang perang yang akan segera terjadi, Araghchi mengonfirmasi bahwa Iran dan Amerika Serikat telah menggelar “pembicaraan yang sangat baik” di Jenewa, dan mencapai kesepakatan mengenai prinsip-prinsip panduan serta kerangka umum dari potensi kesepakatan.
Ia mengatakan Iran diminta menyiapkan draf perjanjian yang akan dibahas pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Proses ini, tegasnya, mencerminkan diplomasi internasional yang normal—bukan kapitulasi di bawah tekanan.
“Tidak ada tenggat waktu, tidak ada ultimatum,” kata Araghchi. “Kesepakatan yang cepat diinginkan oleh kedua pihak, tetapi harus adil dan saling menguntungkan.”
Ia menolak klaim media Barat bahwa Washington menuntut nol pengayaan atau bahwa Iran menawarkan penangguhan. “Laporan-laporan itu tidak benar,” tegasnya. “Kami tidak menawarkan penangguhan, dan AS tidak menuntut nol pengayaan.”
Ancaman Trump Terbukti Kosong dan Berbahaya
Menanggapi ancaman berulang dan sinyal yang saling bertentangan dari Presiden AS Donald Trump, Araghchi mengatakan Iran telah menyaksikan puluhan tahun permusuhan Amerika—yang semuanya gagal.
“Pemerintahan-pemerintahan AS sebelumnya, termasuk yang sekarang, mencoba segalanya: perang, sanksi, mekanisme snapback. Tidak ada yang berhasil,” ujarnya.
Araghchi memperingatkan bahwa pihak-pihak yang mendorong konfrontasi sedang berupaya menyeret Amerika Serikat ke perang lain yang tidak perlu dan berujung bencana—yang akan mengguncang kawasan dan semakin membuka perilaku imperial Washington yang ceroboh.
“Jika Anda berbicara kepada rakyat Iran dengan bahasa penghormatan, kami membalas dengan penghormatan,” katanya. “Jika Anda berbicara dengan bahasa kekuatan, kami akan merespons setimpal. Rakyat Iran adalah bangsa yang bermartabat. Kami hanya merespons penghormatan.”
Pengayaan Tak Bisa Ditawar, Sanksi Harus Diakhiri
Araghchi menjelaskan bahwa perundingan saat ini berfokus pada jaminan bahwa program nuklir Iran—termasuk pengayaan—tetap bersifat damai, sebagai imbalan atas pencabutan penuh sanksi.
Ia mengonfirmasi koordinasi erat dengan Rafael Grossi, yang menurutnya memainkan peran teknis yang konstruktif dalam pembahasan terbaru, sebagaimana pada 2015.
“Apa yang kami lakukan sekarang adalah apa yang telah kami lakukan sebelumnya—hanya saja kali ini bisa dilakukan dengan lebih baik,” kata Araghchi, seraya menolak upaya untuk memaksakan tuntutan maksimalis AS di bawah tekanan.
Iran: Siap untuk Damai, Siap untuk Bertahan
Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak memandang rakyat Amerika sebagai musuh, tetapi menilai kebijakan pemerintah AS—terutama pengepungan militer, sanksi, dan ancaman—sebagai tindakan yang terang-terangan bermusuhan.
“Ketika permusuhan itu berhenti, mungkin kita dapat mempertimbangkan jenis hubungan yang berbeda,” ujarnya, mengingatkan bahwa Iran memenuhi komitmennya pada 2015, namun kemudian dikhianati oleh Washington.
Ia menutup dengan peringatan sekaligus penegasan: Iran mengupayakan diplomasi dan kesepakatan yang adil, tetapi sejarah menunjukkan bahwa jika diserang, Iran akan membela diri secara tegas—sebagaimana ketika para agresor di masa lalu akhirnya dipaksa mencari gencatan senjata tanpa syarat.
Pesan dari Teheran tegas dan jelas: intimidasi telah gagal, perang sia-sia, dan hanya diplomasi berbasis saling menghormati—bukan paksaan ala Trump—yang dapat menghasilkan solusi berkelanjutan. (FG)


