Araghchi di Turki: Iran Siaga Tinggi, Utamakan Diplomasi, Menolak Tekanan AS–Israel
Menlu Iran dan Turki Bahas Keamanan Kawasan, Diplomasi Nuklir, dan Risiko Eskalasi dalam Konferensi Pers Bersama
Turki | FAKTAGLOBAL.COM — Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang melakukan perjalanan ke Turki untuk konsultasi dengan para pejabat senior, menegaskan kembali bahwa Republik Islam Iran sepenuhnya siap merespons setiap agresi militer, sembari tetap berkomitmen pada diplomasi yang menolak paksaan dan hasil yang dipaksakan.
Selama kunjungan tersebut, Araghchi bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dan mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan. Kedua pihak meninjau hubungan Iran–Turki yang kuat dan terus berkembang di berbagai bidang politik, ekonomi, dan regional, serta menegaskan tekad bersama untuk semakin memperkuat hubungan bilateral di semua sektor.
Posisi Teheran dan Ankara kemudian dipaparkan dalam konferensi pers bersama oleh Araghchi dan Fidan, dengan fokus pada keamanan regional, berkas nuklir, serta krisis yang sedang berlangsung di West Asia.
Hubungan Iran–Turki dan Penilaian Bersama atas Kawasan
Dalam konferensi pers bersama dengan mitranya dari Turki, Araghchi menggambarkan Iran dan Turki sebagai negara bertetangga yang hubungan persaudaraannya telah diuji dan terbukti selama berabad-abad, khususnya pada masa-masa sulit.
Ia menyampaikan apresiasi Iran atas sikap berprinsip dan bertanggung jawab yang diambil para pejabat senior Turki dalam beberapa pekan terakhir, terutama menyusul agresi militer rezim Zionis dan aksi-aksi teror terarah yang terjadi pada Januari.
Menurut Araghchi, kedua negara memiliki penilaian strategis yang sama bahwa intervensi tidak sah oleh kekuatan di luar kawasan telah mendorong keamanan regional ke jalur yang berbahaya, sehingga meningkatkan kebutuhan akan koordinasi bilateral yang lebih erat.
Kesiapan Pertahanan dan Daya Cegah Iran
Araghchi menyatakan bahwa kesiapan Iran untuk berdialog tidak boleh disalahartikan sebagai kelemahan.
“Meski kami menyatakan kesiapan untuk bernegosiasi, Iran sepenuhnya mampu menghadapi dan merespons segala bentuk agresi militer,” ujar Araghchi.
Ia menegaskan bahwa kesiapan pertahanan Iran saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan saat perang 12 hari baru-baru ini, seraya memperingatkan bahwa setiap aksi agresi militer baru akan dihadapi dengan respons yang lebih tegas dan menentukan.
Ia menambahkan bahwa kemungkinan keterlibatan langsung Amerika Serikat akan secara mendasar mengubah sifat konfrontasi apa pun dan berpotensi dengan cepat meningkat menjadi perang regional yang lebih luas.
Dialog Tanpa Paksaan
Sambil menegaskan kembali keterbukaan Iran terhadap perundingan, Araghchi menarik garis tegas antara diplomasi dan pemaksaan kehendak.
“Dialog di bawah ancaman tidak dapat disebut sebagai negosiasi, dan setiap proses di mana hasilnya telah ditentukan sebelumnya tidak memiliki legitimasi diplomatik,” katanya.
Ia menekankan bahwa kemampuan rudal dan pertahanan Iran merupakan pilar utama keamanan nasional dan tidak akan pernah menjadi objek negosiasi atau kompromi.
Araghchi menyatakan bahwa Iran membedakan secara tegas antara diplomasi dan pemaksaan, seraya menegaskan bahwa pertahanan nasional bukanlah alat tawar-menawar.
“Kami menyatakan secara tegas bahwa kemampuan pertahanan dan kekuatan rudal Iran, sebagai pilar penjaga keamanan nasional, dalam keadaan apa pun tidak akan menjadi subjek negosiasi atau kompromi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keamanan bangsa Iran merupakan garis merah, menekankan bahwa tidak ada negara yang bernegosiasi atas sarana pertahanannya—dan Iran bukan pengecualian.
Keamanan Regional dan Kebijakan AS–Israel
Araghchi memperingatkan bahwa ekspansionisme dan politik perang rezim Zionis, yang dimungkinkan oleh dukungan tanpa batas dari Amerika Serikat dan sejumlah pemerintah Barat, telah mengejar agenda pelemahan dan fragmentasi negara-negara di kawasan.
Ia menegaskan bahwa keamanan di West Asia bersifat tak terpisahkan, artinya ketidakstabilan atau perang yang menimpa satu negara pasti akan berdampak pada seluruh kawasan. Iran, katanya, mendukung inisiatif diplomatik yang bertujuan meredakan eskalasi, selama terbebas dari tekanan eksternal dan agenda permusuhan.
Sikap Turki terhadap Diplomasi dan Mediasi
Berbicara terpisah dalam konferensi pers bersama tersebut, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menegaskan kembali penolakan Ankara terhadap solusi militer dan dukungannya terhadap dialog serta diplomasi.
“Kami menentang intervensi militer dan meyakini bahwa solusi akhir hanya dapat dicapai melalui negosiasi dan diplomasi,” kata Fidan.
Fidan menyatakan bahwa dimulainya kembali perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat penting dari perspektif regional, serta mengonfirmasi bahwa Turki secara aktif memainkan peran mediasi. Ia mencatat bahwa konsultasi luas telah dilakukan dengan para pejabat Iran dan pihak-pihak internasional lainnya, termasuk Amerika Serikat, untuk memahami posisi dan kerangka operasional, dengan tujuan mencegah konfrontasi militer.
Gaza dan Isu-isu Regional
Fidan mengatakan bahwa ia membahas Gaza dengan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi, seraya mencatat bahwa Turki telah melakukan upaya signifikan untuk menjaga gencatan senjata.
“Keamanan di kawasan tidak dapat dipisahkan. Setiap ketegangan atau perang baru akan memengaruhi seluruh kawasan,” kata Araghchi.
Ia menegaskan bahwa posisi Ankara terkait Gaza jelas, menekankan bahwa wilayah tersebut adalah milik rakyatnya dan bahwa perbatasannya tidak boleh diubah dalam keadaan apa pun. Fidan menambahkan bahwa setiap proses rekonstruksi harus dilakukan dengan partisipasi rakyat Gaza dan untuk kepentingan langsung mereka, seraya menolak kerangka yang dipaksakan dari luar atau perubahan demografis.
Fidan menyatakan bahwa Turki akan melanjutkan upaya diplomatiknya untuk mencegah eskalasi lebih lanjut di Gaza dan menjaga stabilitas regional.
Secara terpisah, Araghchi kembali menegaskan penilaian luas Iran bahwa aksi-aksi militer Zionis yang berkelanjutan, dengan dukungan Amerika Serikat, berisiko memperluas ketidakstabilan di seluruh West Asia, menekankan bahwa keamanan kawasan tidak terpisahkan dan bahwa setiap konflik baru pasti akan berdampak pada seluruh kawasan.
Terkait Suriah, Fidan mencatat bahwa telah dicapai suatu pemahaman mengenai integrasi SDF ke dalam tentara Suriah, seraya menambahkan bahwa Turki memantau proses tersebut dengan saksama.
IRGC dan Salah Perhitungan Strategis Eropa
Araghchi juga menanggapi keputusan Eropa yang menetapkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai organisasi teroris, menyebutnya sebagai kesalahan strategis yang serius.
Ia mengatakan bahwa tanpa peran menentukan IRGC dalam menghadapi ISIS, masyarakat Eropa akan menghadapi ancaman terorisme yang jauh lebih besar, seraya memperingatkan bahwa langkah tersebut mencerminkan kemunduran rasionalitas dalam pembuatan kebijakan dan akan membawa konsekuensi jangka panjang yang serius.
Menutup konferensi pers bersama, Araghchi menegaskan bahwa Iran mengupayakan stabilitas regional melalui daya cegah berbasis kekuatan dan diplomasi yang berprinsip.
Ia memperingatkan bahwa tekanan, sanksi, dan dukungan berkelanjutan AS terhadap militerisme Zionis tidak akan melemahkan Iran, melainkan justru meningkatkan risiko konfrontasi regional yang lebih luas, dengan tanggung jawab berada di pundak mereka yang menempuh kebijakan pemaksaan dan destabilisasi. (FG)


