Araghchi: Iran Tak Pernah Minta Gencatan Senjata atau Negosiasi
Menteri luar negeri Iran mengatakan Teheran tidak pernah meminta gencatan senjata dan akan terus membela diri dari agresi AS sambil menolak perundingan dengan Washington.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM – Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran tidak pernah meminta gencatan senjata maupun negosiasi untuk mengakhiri perang. Berbicara dalam wawancara dengan CBS, Araghchi mengatakan Teheran siap membela diri selama diperlukan.
Ketika ditanya oleh jurnalis Margaret Brennan apakah Iran telah meminta gencatan senjata di tengah konflik yang terus berlangsung, Araghchi menjawab:
“Tidak, kami tidak pernah meminta gencatan senjata, bahkan kami juga tidak meminta negosiasi. Kami siap membela diri selama diperlukan. Kami telah melakukan hal itu hingga sekarang dan akan terus melakukannya sampai Presiden Trump menyadari bahwa ini adalah perang yang ilegal dan tidak akan membawa kemenangan.”
Ia menambahkan bahwa warga sipil terbunuh akibat keputusan yang diambil oleh kepemimpinan Amerika Serikat.
“Seperti yang Anda tahu, orang-orang terbunuh hanya karena Presiden Trump ingin bersenang-senang. Itu adalah sesuatu yang ia sendiri katakan.”
“Kami Kuat, Ini Bukan Perang untuk Bertahan”
Ketika Brennan menyatakan bahwa konflik tersebut mungkin merupakan perang untuk kelangsungan hidup pemerintahan Iran, Araghchi menolak anggapan tersebut.
“Tidak, ini bukan perang untuk bertahan hidup. Kami cukup stabil dan cukup kuat. Kami hanya membela rakyat kami dari tindakan agresi ini.”
Ia juga menolak gagasan untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat, dengan menegaskan bahwa Iran sebenarnya sedang melakukan perundingan ketika serangan terhadap negaranya terjadi.
“Kami tidak melihat alasan untuk berbicara dengan Amerika. Ketika mereka memutuskan untuk menyerang kami, kami sebenarnya sedang bernegosiasi dengan mereka. Ini adalah kedua kalinya hal itu terjadi, dan kami tidak memiliki pengalaman yang baik dalam bernegosiasi dengan Amerika. Jika kami sedang bernegosiasi dan mereka tetap menyerang kami, lalu apa gunanya kembali ke meja perundingan?”
Iran Menyatakan Hanya Menargetkan Aset AS
Brennan kemudian mempertanyakan penggunaan drone dan rudal Iran di negara-negara tetangga yang menjadi sekutu Amerika di kawasan Teluk.
Araghchi menjawab bahwa negara-negara tersebut telah mengizinkan pasukan Amerika menggunakan wilayah mereka untuk menyerang Iran.
“Apa yang harus kami lakukan? Apakah kami hanya duduk dan menyaksikan pasukan Amerika menyerang kami dari wilayah mereka?”
Ketika ditanya mengenai tuduhan bahwa drone Iran menyerang wilayah sipil seperti pabrik dan hotel, Araghchi menolak tuduhan tersebut.
“Tidak, itu tidak benar. Kami hanya menargetkan aset Amerika, fasilitas Amerika, dan pangkalan militer Amerika. Apa pun yang menjadi sasaran adalah milik Amerika Serikat.”
Ia mengatakan terdapat banyak contoh operasi Amerika yang diluncurkan dari wilayah negara-negara tetangga. Menurut Araghchi, pulau-pulau Iran baru-baru ini diserang menggunakan roket artileri HIMARS yang ditembakkan dari wilayah Uni Emirat Arab.
Ia juga menyinggung sebuah insiden sekitar sepekan sebelumnya ketika tiga jet tempur F-15 dilaporkan jatuh di Kuwait akibat tembakan kawan sendiri.
“Namun tidak ada yang bertanya apa yang mereka lakukan di Kuwait. Mereka menggunakan wilayah udara negara tetangga yang bersahabat untuk menyerang kami. Tentu saja kami tidak bisa diam terhadap hal ini.”
Selat Hormuz dan Jalur Pelayaran Kawasan
Ketika ditanya tentang Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan global, Araghchi mengatakan Iran siap berbicara dengan negara-negara yang ingin menjamin keselamatan kapal mereka.
“Kami siap berbicara dengan negara-negara yang ingin membahas jalur aman bagi kapal-kapal mereka. Namun keputusan akhir bergantung pada pasukan militer kami.”
Ketika Brennan menanyakan apakah Prancis dan Italia termasuk negara yang berdiskusi dengan Iran, Araghchi mengatakan ia tidak dapat menyebutkan negara tertentu, tetapi mengonfirmasi bahwa beberapa negara telah menghubungi Teheran untuk menjamin keamanan pelayaran kapal mereka.
“Keputusan akhir berada di tangan pasukan militer kami. Mereka sebelumnya telah mengizinkan sejumlah kapal dari berbagai negara untuk melintas dengan aman.”
Ia menambahkan bahwa Iran tidak menutup Selat Hormuz, dan banyak kapal menghindari kawasan tersebut karena ketidakamanan yang disebabkan oleh agresi Amerika.
Bahan Nuklir Tertimbun di Bawah Reruntuhan
Brennan juga menanyakan laporan bahwa Iran memiliki sekitar 440 kilogram bahan nuklir yang diperkaya.
Araghchi mengatakan angka tersebut telah dikonfirmasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan bukan informasi yang dirahasiakan.
Ia menjelaskan bahwa fasilitas nuklir Iran telah diserang dan bahan tersebut kini berada di bawah reruntuhan.
“Bahan-bahan itu berada di bawah puing-puing. Fasilitas nuklir kami diserang dan semuanya tertimbun di bawah reruntuhan. Kemungkinan untuk memulihkannya ada, tetapi hanya di bawah pengawasan IAEA. Jika suatu hari kami memutuskan untuk mengambilnya kembali, hal itu akan dilakukan di bawah pengawasan badan tersebut.”
Ia menambahkan bahwa saat ini tidak ada rencana untuk memulihkan bahan tersebut.
Belum Ada Tawaran di Meja Perundingan
Araghchi juga mengonfirmasi bahwa sesaat sebelum serangan Amerika, Iran telah mengusulkan pengenceran uranium yang diperkaya hingga 60 persen sebagai bagian dari perundingan dengan Amerika Serikat.
“Itu adalah salah satu unsur dari proposal yang kami bahas dengan pihak Amerika. Saya mengusulkan bahwa kami siap untuk mengencerkan bahan tersebut ke tingkat yang lebih rendah. Itu adalah konsesi besar untuk menunjukkan bahwa Iran tidak pernah dan tidak akan pernah mencari senjata nuklir.”
Namun ia menegaskan bahwa saat ini tidak ada proposal yang sedang dibahas.
“Pada saat ini tidak ada apa pun di atas meja. Semuanya bergantung pada masa depan. Jika kami memutuskan untuk kembali bernegosiasi dengan Amerika Serikat atau pihak lain di masa mendatang, saat itulah kami akan menentukan apa yang akan kami ajukan.”
Keamanan Tahanan Amerika dan Pembatasan Internet
Ketika ditanya mengenai empat warga Amerika yang ditahan di Penjara Evin, termasuk jurnalis Reza Valizadeh dan Kamran Hekmati, Araghchi mengatakan mereka akan tetap aman selama Amerika Serikat dan Israel tidak menyerang penjara di Iran.
“Saya pikir mereka akan aman jika Amerika Serikat dan Israel tidak menyerang penjara kami.”
Di akhir wawancara, Brennan menyinggung bahwa Araghchi berbicara melalui Zoom sementara banyak warga Iran tidak memiliki akses internet terbuka.
Araghchi menjawab bahwa pembatasan tersebut dilakukan karena kondisi keamanan selama masa perang.
“Saya adalah suara rakyat Iran dan harus membela hak-hak mereka. Karena itu saya memiliki akses internet agar suara kami dapat didengar oleh masyarakat internasional. Akses internet dibatasi karena alasan keamanan, karena kami berada di bawah serangan dan agresi. Di setiap negara, langkah-langkah darurat seperti ini diambil selama perang.” (FG)


