Araghchi Jelaskan Syarat Gencatan Senjata, Iran Paksa AS di Meja Perundingan
Iran menetapkan syarat jelas untuk gencatan senjata, mengaitkan penghentian serangan dengan jeda defensif sambil mempertahankan kendali atas Hormuz
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyampaikan pesan yang merinci syarat-syarat Republik Islam terkait gencatan senjata, dengan menegaskan bahwa setiap penghentian permusuhan bergantung pada tindakan nyata dari pihak lawan.
Berbicara atas nama Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, pernyataan Araghchi disampaikan setelah Amerika Serikat menunjukkan kesiapan untuk terlibat dalam perundingan berdasarkan kerangka yang diajukan Iran.
Di awal pernyataannya, Araghchi menyampaikan apresiasi atas peran Pakistan dalam memfasilitasi upaya diplomatik:
“Saya mengucapkan terima kasih kepada saudara saya yang terhormat, Yang Mulia Shahbaz Sharif, Perdana Menteri Pakistan, serta Field Marshal Asim Munir, Panglima Angkatan Darat Pakistan, atas upaya tanpa lelah mereka untuk mengakhiri perang di kawasan.”
Pejabat Iran tersebut menyoroti peran Pakistan sebagai mediator setelah berbagai inisiatif diplomatik yang dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan.
AS Menerima Kerangka Negosiasi Iran
Araghchi mencatat bahwa proses diplomatik saat ini merupakan hasil dari:
• Permintaan dari Perdana Menteri Pakistan
• Permintaan resmi dari Amerika Serikat untuk terlibat dalam perundingan
• Pernyataan Presiden AS yang menunjukkan penerimaan terhadap kerangka umum proposal 10 poin Iran sebagai dasar negosiasi
Perkembangan ini menunjukkan perubahan keseimbangan, di mana Washington kini terlibat dalam proses yang dibentuk oleh syarat-syarat Teheran.
Iran Tetapkan Dua Prinsip Utama Gencatan Senjata
Atas nama Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Araghchi menyampaikan dua prinsip utama yang menjadi dasar setiap pengaturan gencatan senjata:
1. Penghentian Agresi sebagai Imbalan Jeda Defensif
“Apabila serangan terhadap Republik Islam Iran dihentikan, maka angkatan bersenjata kami yang kuat juga akan menghentikan operasi defensifnya.”Iran menegaskan bahwa tindakan militernya bersifat defensif dan berkaitan langsung dengan agresi yang berlangsung.
2. Pengaturan Lalu Lintas di Selat Hormuz
“Selama dua minggu, lalu lintas aman di Selat Hormuz dimungkinkan dalam koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran, dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis yang ada.”
Ketentuan ini menegaskan peran sentral Iran dalam mengelola salah satu jalur maritim paling vital di dunia.
Negosiasi di Bawah Syarat Iran
Pernyataan tersebut mencerminkan posisi Iran bahwa setiap gencatan senjata atau de-eskalasi harus didasarkan pada pengakuan realitas di lapangan.
Alih-alih menunjukkan kelemahan, syarat-syarat Iran menghadirkan kerangka yang terstruktur, di mana de-eskalasi bergantung pada kepatuhan musuh serta pengakuan terhadap otoritas dan kemampuan Iran.
Iran menegaskan bahwa jalan menuju gencatan senjata bukanlah melalui konsesi, melainkan melalui penghentian agresi dan penghormatan terhadap syarat-syaratnya.
Dengan perundingan yang kini berlangsung berdasarkan parameter yang ditetapkan Teheran, keseimbangan kekuatan terus bergeser—menegaskan posisi strategis Iran baik di medan tempur maupun di meja negosiasi. (FG)


