Araghchi ke Zelensky: Dunia Sudah Muak dengan “Badut-Badut Bingung”
Menteri luar negeri Iran mengecam presiden Ukraina atas kemunafikan dan korupsi, serta mengutuk seruannya untuk agresi ilegal AS terhadap Iran sebagai pelanggaran terang-terangan Piagam PBB
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melancarkan kecaman keras dan tanpa kompromi terhadap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dengan mengecam kemunafikan, korupsi, serta dukungan terbukanya terhadap agresi militer ilegal terhadap Iran.
Dalam pernyataan publik yang disampaikan pada Kamis melalui platform X, Araghchi menolak sikap Zelensky terkait hukum internasional, seraya menggambarkannya sebagai aktor politik yang mengeksploitasi pembayar pajak Barat sambil menuntut pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hukum yang justru ia klaim sebagai dasar sikapnya.
Zelensky Kuras Dana Pembayar Pajak Barat demi Memperkaya Jenderal-Jenderal Korup
Araghchi secara langsung menyingkap posisi finansial dan moral Zelensky, dengan menggambarkan kepemimpinan Ukraina sebagai pihak yang bergantung pada dana Barat yang disalurkan ke dalam struktur militer korup di bawah selubung retorika moral.
“Zelensky telah menguras pembayar pajak Amerika dan Eropa untuk mengisi kantong para jenderalnya yang korup, sambil mengklaim sedang menghadapi agresi ilegal yang melanggar Piagam PBB,” tulis Araghchi.
Pernyataan tersebut membingkai kepemimpinan Kiev sebagai proyek yang didukung Barat dan dilindungi propaganda, di mana kemarahan selektif menggantikan komitmen sejati terhadap hukum internasional.
Dukungan Terbuka Zelensky terhadap Perang Ilegal AS Lawan Iran
Araghchi mengidentifikasi kontradiksi utama dalam sikap politik Zelensky: menyerukan Piagam PBB untuk mengecam Rusia, namun pada saat yang sama secara terbuka mendukung agresi militer ilegal Amerika Serikat terhadap Iran.
“Pada saat yang sama, ia secara terbuka dan tanpa malu menyerukan agresi ilegal Amerika Serikat terhadap Iran, yang juga melanggar Piagam PBB yang sama,” tegas Araghchi.
Dengan menyoroti kontradiksi ini, Teheran menempatkan Zelensky bukan sebagai pembela hukum internasional, melainkan sebagai pendukung aktif militerisme dan paksaan yang dipimpin AS terhadap negara-negara berdaulat.
Dunia Sudah Muak dengan Badut-Badut Bingung
Dalam bagian paling keras dari responsnya, Araghchi menolak kredibilitas Zelensky secara total, dengan menarik kontras tajam antara ketergantungan Ukraina pada kekuatan asing dan doktrin pertahanan berdaulat Iran.
“Dunia sudah muak dengan Badut-Badut Bingung, Tuan Zelensky,” tegas Araghchi.
“Tidak seperti militer Anda yang didukung asing dan dipenuhi tentara bayaran, kami orang Iran tahu bagaimana membela diri dan tidak perlu mengemis bantuan dari pihak asing.”
Pernyataan ini menegaskan kembali postur strategis Iran di bawah kepemimpinan Ayatullah Sayyed Ali Khamenei: perlawanan, kemandirian, dan penolakan terhadap pengasuhan militer asing.
Propaganda Davos terhadap Iran Ditolak oleh Teheran
Respons Araghchi menyusul pernyataan Zelensky di Forum Ekonomi Dunia di Davos, di mana presiden Ukraina tersebut mengulang propaganda Barat yang sudah lazim terhadap Iran, dengan menuduh bahwa kepemimpinan Iran telah “membunuh ribuan orang” dan membingkai intervensi asing sebagai sebuah keharusan moral.
Teheran menolak narasi-narasi ini secara tegas, memandangnya sebagai taktik proyeksi yang dirancang untuk membenarkan agresi terhadap negara berdaulat sekaligus mengalihkan perhatian dari ketergantungan Kiev pada eskalasi Amerika Serikat dan NATO.
Iran Menolak “Tatanan Berbasis Aturan” ala Washington
Pernyataan Araghchi selaras dengan posisi diplomatik Iran yang lebih luas: Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya mempersenjatai Piagam PBB secara selektif—mengecam lawan, sambil menormalkan pembunuhan, perang, dan kampanye sanksi di bawah panji apa yang disebut sebagai “tatanan berbasis aturan.”
Iran kembali menegaskan bahwa kedaulatan tidak dapat ditawar, militer yang didukung asing tidak menentukan legitimasi, dan intervensi yang dipimpin AS—baik secara langsung maupun melalui proksi—tidak akan ditoleransi terhadap Republik Islam Iran. (FG)



