Araghchi: Perlawanan Paksa Musuh "Angkat Tangan"—Bukan Negosiasi
Menlu Iran menegaskan bahwa keteguhan perlawanan memaksa Washington dan Israel mundur dalam perang 12 hari
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menegaskan bahwa perlawanan—bukan kompromi—menjadi faktor penentu yang memaksa Amerika Serikat dan Israel untuk mundur selama perang 12 hari. Ia mengungkapkan bahwa Washington secara langsung meminta penghentian permusuhan setelah gagal mematahkan keteguhan Iran.
Berbicara pada Kamis malam dalam sebuah acara peringatan di Isfahan, Araghchi menyatakan bahwa pada hari-hari awal perang, pesan-pesan dari pihak lawan dikirimkan agar Iran mau bernegosiasi.
Ia mengungkapkan bahwa para pejabat Amerika Serikat secara pribadi menghubunginya, meminta agar pertempuran dihentikan pada pukul 04.00 dini hari, dengan klaim bahwa Israel akan menghentikan serangannya pada waktu yang sama.
“Mereka Datang untuk Memaksa Penyerahan—Mereka Pergi Meminta Penghentian”
Araghchi menjelaskan bahwa musuh memasuki perang dengan asumsi Iran akan runtuh dalam hitungan hari.
“Mereka mengira dapat memaksa rakyat Iran tunduk dalam satu atau dua hari,” ujarnya. “Kesalahan perhitungan mereka adalah mengira rakyat tidak puas dan akan turun ke jalan. Yang terjadi justru sebaliknya: bangsa ini berdiri membela martabat, tanah, dan kehormatannya.”
Menurut Araghchi, perubahan nada Washington—dari tuntutan “penyerahan tanpa syarat” menuju penerimaan gencatan senjata—mencerminkan kegagalan tujuan militer musuh, bukan niat baik atau diplomasi.
Perlawanan sebagai Doktrin Inti
Menlu Iran menekankan bahwa doktrin utama Revolusi Islam adalah mazhab perlawanan, seraya menegaskan bahwa tidak ada bangsa yang dapat menang jika melepaskan martabat dan kedaulatannya.
“Suatu bangsa hanya akan menang jika menolak menyerahkan kehormatannya,” kata Araghchi. “Kemenangan-kemenangan Iran selalu berakar pada perlawanan, dan prinsip ini tidak boleh dilemahkan.”
Ia menambahkan bahwa perlawanan tidak lagi terbatas pada Iran, melainkan telah menjadi wacana politik dan strategis kawasan yang membentuk keseimbangan kekuatan di West Asia.
Qassem Soleimani dan Regionalisasi Perlawanan
Araghchi menyoroti peran Qassem Soleimani, yang ia sebut sebagai figur paling penting dalam menerjemahkan perlawanan dari teori menjadi praktik di seluruh kawasan.
“Jenderal Syahid Qassem Soleimani membawa gagasan perlawanan jauh ke dalam kawasan dan menjadikannya realitas operasional,” ujarnya.
Kerangka inilah, kata Araghchi, yang memungkinkan ketahanan kolektif dan koordinasi dalam menghadapi tekanan militer.
Persatuan Nasional sebagai Aset Terbesar Iran
Merefleksikan perang 12 hari, Araghchi menyatakan bahwa konflik tersebut membuktikan persatuan nasional sebagai aset strategis terbesar Iran.
Ia menuturkan bahwa sementara musuh mengharapkan perpecahan dan gejolak internal, perang justru melahirkan kohesi dan mobilisasi rakyat, memperkuat kekuatan internal Iran.
Dari Kegagalan Militer ke Perang Ekonomi
Araghchi memperingatkan bahwa setelah gagal secara militer, musuh kini mengintensifkan perang ekonomi dan sanksi untuk meraih apa yang tidak berhasil mereka capai dengan kekuatan senjata.
“Hari ini, musuh mencoba mengambil melalui perang ekonomi apa yang gagal mereka peroleh melalui agresi militer,” katanya, seraya menambahkan bahwa pemerintah Iran bekerja tanpa henti untuk menghadapi fase konfrontasi yang baru ini.
Perlawanan sebagai Satu-satunya Jalan yang Layak
Pernyataan Araghchi menegaskan kesimpulan utama dari perang: perlawanan memaksa kemunduran, sementara konsesi mengundang agresi lanjutan. Permintaan Washington untuk menghentikan pertempuran, tegasnya, bukan isyarat perdamaian, melainkan pengakuan atas kegagalan strategis.
Bagi Iran dan poros perlawanan yang lebih luas, pelajarannya jelas—memilih perlawanan bukanlah eskalasi, melainkan kelangsungan hidup, dan itulah satu-satunya jalan yang mampu memaksa kekuatan pendudukan dan hegemonik untuk mundur. (FG)


