Araghchi: Sikap Menahan Diri Iran Tak Boleh Disalahartikan sebagai Kelemahan
Iran Peringatkan AS agar Tidak Salah Hitung, Tegaskan Kesiapan untuk Respons Tegas Sambil Tetap Membuka Pintu Diplomasi yang Nyata
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Menteri Luar Negeri Iran, Seyyed Abbas Araghchi, menyampaikan peringatan tegas bahwa sikap menahan diri strategis Teheran tidak boleh disalahartikan sebagai kelemahan.
Ia menegaskan Iran sepenuhnya siap memberikan respons yang menentukan terhadap setiap bentuk agresi, seraya menekankan bahwa Iran tidak pernah mencari perang dengan Amerika Serikat.
Dalam sebuah pesan yang dipublikasikan melalui akun media sosial resminya, Araghchi menegaskan bahwa pilihan di hadapan Washington sangat jelas: terus bergantung pada narasi-narasi palsu yang dipromosikan oleh rezim Israel, atau beralih ke realisme, diplomasi yang sungguh-sungguh, dan saling menghormati.
Iran Tidak Takut Perang, Namun Tidak Mencarinya
Araghchi menyatakan bahwa bangsa Iran tidak takut terhadap perang, sebagaimana telah ditunjukkan dalam berbagai konfrontasi sebelumnya. Namun, ia menegaskan bahwa Iran tidak pernah mengejar konflik militer dengan Amerika Serikat.
Ia menekankan bahwa sikap menahan diri Teheran—yang tidak boleh disalahartikan sebagai kelemahan—merupakan satu-satunya alasan mengapa pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan tetap aman. Ia memperingatkan bahwa kesalahan perhitungan apa pun akan mengubah kenyataan ini secara mendasar.
Israel Tak Lagi Dipandang sebagai Aset bagi Barat
Menyoroti meningkatnya suara kritis di Amerika Serikat dan negara-negara Barat, Araghchi mengatakan semakin banyak analis dan pembuat kebijakan yang sampai pada kesimpulan bahwa Israel bukan lagi sekutu, melainkan beban strategis bagi Washington.
Ia menambahkan bahwa kenyataan ini menjadi sangat jelas pada bulan-bulan krusial Juni dan Juli, ketika tingkat kerentanan Israel terekspos—meskipun media Barat gagal mencerminkan secara jujur besarnya kerusakan pada ruang udara rezim tersebut akibat kemampuan rudal Iran yang bersifat mandiri dan telah berkembang.
Menurut Araghchi, pada periode itu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terpaksa meminta bantuan kepada presiden AS saat itu untuk keluar dari krisis yang ia ciptakan sendiri, yang menegaskan rapuhnya postur daya tangkal Israel.
Angkatan Bersenjata Iran Siap Menghadapi Agresi Apa Pun
Menlu Iran menegaskan bahwa, dengan berbekal pengalaman Juni dan Juli serta dengan tetap menjaga tingkat kesiapsiagaan tertinggi, angkatan bersenjata Iran sepenuhnya siap memberikan respons tegas terhadap setiap bentuk agresi.
Ia mengingatkan bahwa bahkan Donald Trump sendiri sebelumnya pernah menggambarkan potensi respons Iran sebagai “sangat keras”, yang semakin menegaskan kredibilitas daya tangkal Teheran.
Tak Ada Senjata Nuklir, Tak Ada Mundur dari Hak Sah
Araghchi menegaskan kembali bahwa Iran tidak mencari senjata nuklir. Ia menekankan bahwa sikap ini bukanlah taktik politik, melainkan bagian inti dari doktrin strategis Iran—yang berakar pada prinsip-prinsip agama, pertimbangan etika, dan perhitungan keamanan nasional.
Pada saat yang sama, ia menegaskan Iran tidak akan pernah mundur dari hak-hak sah dan legalnya, yang merupakan milik generasi saat ini maupun generasi Iran di masa depan.
Jendela Pilihan yang Sempit bagi Washington
Di bagian penutup, Araghchi menegaskan bahwa jalan di hadapan Washington tidaklah ambigu: melanjutkan ketergantungan pada narasi Israel yang terdistorsi dan kebijakan berbasis proksi yang telah menghasilkan ketidakstabilan, salah perhitungan, dan kegagalan mahal bagi Amerika Serikat; atau beralih ke jalur rasionalitas, diplomasi, dan saling menghormati.
Bagi mereka di Washington yang bersedia memilih jalur yang berbeda dari masa lalu, Araghchi memperingatkan bahwa kini hanya tersisa jendela kesempatan yang sangat singkat. (FG)


