Araqchi: Nota Kesepahaman Iran-AS Hampir Rampung, Tapi Belum Final
Menlu Iran mengatakan negosiasi yang sedang berlangsung bertujuan mengamankan capaian yang diraih melalui perlawanan, sementara nota kesepahaman 14 poin dengan Washington mendekati tahap akhir
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan bahwa nota kesepahaman awal antara Iran dan Amerika Serikat telah mendekati tahap akhir, seraya menegaskan bahwa tujuan diplomasi adalah mengukuhkan capaian strategis yang diraih rakyat Iran dan Angkatan Bersenjata Iran selama perang terakhir.
Dalam wawancara televisi yang disiarkan pada Jumat, Araqchi menggambarkan negosiasi yang sedang berlangsung sebagai kelanjutan dari perjuangan Iran menghadapi tekanan eksternal. Menurutnya, keberhasilan diplomasi hanya dapat dicapai apabila didukung oleh kekuatan di medan perang.
“Tugas diplomasi adalah mengukuhkan capaian medan perang dan pengorbanan yang telah diberikan oleh Angkatan Bersenjata,” ujarnya.
Diplomasi yang Bertumpu pada Perlawanan
Araqchi mengatakan Iran telah melewati dua perang besar dalam satu tahun terakhir, yaitu perang selama 12 hari dan perang berikutnya yang berlangsung selama 40 hari. Menurutnya, musuh-musuh Iran meyakini bahwa mereka dapat menghancurkan kemampuan militer dan kohesi sosial negara tersebut.
Namun, perhitungan itu gagal karena ketangguhan rakyat Iran dan Angkatan Bersenjata yang tetap bertahan menghadapi tekanan.
Ia memuji personel militer yang tetap menjalankan tugas mereka selama konflik berlangsung dan mengenang para syuhada yang gugur dalam membela negara.
Araqchi juga menyoroti peran masyarakat Iran yang disebutnya sebagai faktor utama di balik kemenangan strategis yang diraih negaranya.
“Hari ini dunia melihat rakyat Iran sebagai pahlawan,” katanya.
Empat Pilar Kemenangan
Menurut Araqchi, peristiwa-peristiwa terbaru menunjukkan pentingnya koordinasi antara medan perang, diplomasi, media, dan dukungan rakyat.
Selama bertahun-tahun, pembahasan lebih banyak berfokus pada hubungan antara kekuatan militer dan diplomasi. Namun dalam konflik terakhir, muncul pilar keempat berupa mobilisasi dan partisipasi masyarakat.
“Keempat pilar ini bergerak bersama,” ujarnya.
Araqchi menolak anggapan bahwa diplomasi dan kekuatan militer berjalan secara terpisah. Menurutnya, efektivitas negosiasi berasal dari capaian yang diperoleh melalui perlawanan.
“Negosiasi tanpa kekuatan di medan tidak akan menghasilkan apa pun,” tegasnya.
Proses Dua Tahap
Araqchi mengungkapkan bahwa pembicaraan saat ini telah menghasilkan sebuah nota kesepahaman berisi 14 poin yang masih belum ditandatangani, namun telah mendekati tahap penyelesaian.
Berdasarkan kerangka yang dibahas, tahap pertama berfokus pada penghentian perang dan langkah-langkah awal untuk membangun kepercayaan. Tahap kedua akan membahas pencabutan sanksi dan isu nuklir.
Ia menambahkan bahwa dokumen tersebut telah mengalami banyak revisi dan masih menunggu persetujuan akhir.
Poin-poin yang tercantum dalam nota kesepahaman mencakup penghentian konflik di Lebanon, penghormatan terhadap kedaulatan Iran, pencabutan pembatasan ekonomi, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta pembahasan mengenai rekonstruksi dan pembangunan ekonomi.
Lebanon dan Stabilitas Kawasan
Araqchi menegaskan bahwa Lebanon tetap menjadi bagian penting dari perhatian regional Iran. Menurutnya, setiap pengaturan yang bertujuan mengakhiri konflik harus mencakup jaminan terhadap keamanan dan kedaulatan Lebanon.
Ia juga menyebut bahwa salah satu poin penting yang sedang dibahas adalah komitmen Amerika Serikat untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Iran.
Menurut Araqchi, penghormatan terhadap kedaulatan Iran merupakan salah satu bagian terpenting dari nota kesepahaman tersebut.
Selat Hormuz Akan Dikelola dengan Mekanisme Baru
Menteri Luar Negeri Iran itu juga menyinggung masa depan Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa jalur perairan strategis tersebut tidak akan lagi dikelola dengan mekanisme yang sama seperti sebelumnya.
Araqchi menekankan bahwa selat tersebut berada di bawah kedaulatan Iran dan Oman, serta mengatakan kedua negara telah melakukan konsultasi intensif mengenai pengaturan di masa depan.
Ia menambahkan bahwa Iran juga telah memulai konsultasi dengan China mengingat pentingnya Selat Hormuz bagi perdagangan regional dan internasional.
“Pengelolaan Selat Hormuz di masa depan akan berbeda dari masa lalu,” ujarnya.
Meski menolak tuduhan bahwa Iran berniat menghalangi pelayaran sipil, Araqchi berpendapat bahwa perlu dibentuk kerangka hukum baru untuk mengatur layanan dan lalu lintas maritim di kawasan tersebut.
Rezim Zionis Berupaya Menggagalkan Proses
Araqchi menegaskan rezim Zionis berupaya menggagalkan proses diplomatik yang sedang berlangsung. Ia memperingatkan bahwa spekulasi dan kebocoran informasi dapat menciptakan ketegangan yang menghambat tahap akhir negosiasi.
Ia menegaskan bahwa tidak ada dokumen yang beredar di media yang dapat dianggap resmi hingga seluruh proses selesai.
“Rezim Zionis berada di garis depan pihak-pihak yang menentang kesepahaman ini,” katanya.
Iran Bernegosiasi dari Posisi Kuat
Meski menyatakan optimisme terhadap perkembangan pembicaraan, Araqchi menegaskan bahwa belum ada kesepakatan final yang tercapai.
Ia menjelaskan bahwa nota kesepahaman tersebut hanyalah kesepahaman awal dan implementasinya selama 60 hari akan menentukan apakah negosiasi berlanjut ke tahap berikutnya.
Menurut Araqchi, Iran memasuki perundingan dari posisi yang kuat setelah menunjukkan kemampuan militernya selama konflik berlangsung.
“Mereka gagal mencapai tujuan mereka melalui perang, sebagaimana mereka juga gagal mencapainya melalui tekanan,” kata Araqchi.
Ia menambahkan bahwa pihak-pihak yang sebelumnya memilih eskalasi militer akhirnya kembali ke meja perundingan setelah menyadari bahwa perang tidak akan memaksa Iran meninggalkan prinsip-prinsip utamanya.
Araqchi mengatakan nota kesepahaman tersebut dapat diumumkan dalam beberapa hari mendatang setelah rincian teknis terakhir diselesaikan dan proses penandatanganan digital dilakukan. (FG)


