AS Berencana Tarik 1.000 Tentara dari Suriah, Sementara Israel Terus Maju di Selatan
Washington menyatakan penarikan akan berlangsung dalam dua bulan, sementara aktivitas pendudukan Israel di Suriah selatan meningkat dan instabilitas terus berlanjut
Amerika Serikat | FAKTAGLOBAL.COM — Amerika Serikat dilaporkan tengah bersiap menarik sekitar 1.000 tentaranya dari Suriah dalam dua bulan ke depan, sebuah langkah yang secara efektif akan mengakhiri kehadiran militer langsung Washington di negara tersebut. Hal ini dilaporkan The Wall Street Journal yang mengutip para pejabat AS.
Rencana yang dilaporkan ini muncul di tengah berlanjutnya instabilitas di Suriah selatan dan aktivitas pendudukan Israel yang terus berlangsung, menegaskan terbatasnya dampak dari bertahun-tahun pengerahan militer AS terhadap keamanan kawasan maupun penyelesaian politik.
Kehadiran Militer AS Akan Berakhir
Para pejabat AS mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa penarikan tersebut diperkirakan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan dan akan melibatkan hampir seluruh pasukan Amerika yang saat ini ditempatkan di Suriah.
Jika dilaksanakan sebagaimana dilaporkan, langkah ini akan menandai keluarnya militer AS secara penuh dari negara tersebut.
Sekitar 1.000 tentara Amerika masih dikerahkan di Suriah sebagai bagian dari postur militer Washington yang lebih luas di Asia Barat, sebuah kehadiran yang sejak lama tidak memiliki otorisasi hukum dari Damaskus dan secara luas dikritik sebagai bentuk pendudukan, bukan kekuatan penstabil.
Ketegangan di Suriah Selatan Berlanjut
Penarikan AS yang dilaporkan ini bertepatan dengan aktivitas militer Israel yang kembali meningkat di Suriah selatan. Menurut sumber-sumber lokal, pada Rabu sebelumnya pasukan pendudukan Israel maju ke desa-desa di wilayah pedesaan barat Daraa, memasuki Saisoun dan al-Masritiya serta mendirikan pos-pos pemeriksaan.
Perkembangan ini terjadi meskipun bulan lalu telah dikeluarkan pernyataan bersama oleh Amerika Serikat, “Israel”, dan Suriah yang mengumumkan adanya pemahaman strategis yang diklaim bertujuan meningkatkan keamanan dan stabilitas.
Berbicara di Konferensi Keamanan Munich, Menteri Luar Negeri interim Suriah Asaad al-Shibani mengatakan bahwa Damaskus telah mengadopsi apa yang ia sebut sebagai pendekatan realistis dalam keterlibatan, sembari menuduh rezim Israel terus melakukan eskalasi.
Ia menegaskan bahwa setiap proses politik pada akhirnya harus berujung pada penarikan pasukan Israel dari wilayah-wilayah yang diduduki setelah perubahan kekuasaan di Suriah pada Desember 2024.
Menurut laporan tersebut, para pejabat AS bersikeras bahwa rencana penarikan ini tidak terkait dengan penempatan pasukan AS di wilayah lain maupun dengan perencanaan kontinjensi terkait Iran, jika perundingan mengenai program nuklir Teheran gagal.
Langkah ini menyoroti penarikan bertahap Washington dari Suriah setelah bertahun-tahun keterlibatan militer yang gagal menghadirkan stabilitas, kedaulatan, atau hasil politik yang berkelanjutan. (FG)


