AS Ciptakan Krisis Energi Kuba, Lalu Tawarkan Minyak Venezuela sebagai “Bantuan Kemanusiaan”
Washington membatasi sistem energi negara Kuba, memicu pemadaman listrik nasional, lalu mengizinkan aliran terbatas minyak Venezuela di bawah kendali ketat AS
Kuba | FAKTAGLOBAL.COM — Amerika Serikat mengumumkan pelonggaran terbatas atas pembatasan pengiriman minyak Venezuela ke Kuba, dengan menyajikan langkah tersebut sebagai kebijakan kemanusiaan.
Dalam praktiknya, kebijakan ini mengecualikan sistem energi negara Kuba dan hampir tidak menyelesaikan krisis listrik yang kian memburuk di negara tersebut.
Departemen Keuangan AS mengatakan akan menerapkan “kebijakan perizinan yang menguntungkan” untuk memungkinkan minyak asal Venezuela mencapai Kuba untuk “penggunaan komersial dan kemanusiaan.” Namun, izin tersebut hanya berlaku untuk transaksi yang melewati pemerintah Kuba dan lembaga energi milik negara.
Pembangkit listrik Kuba, terminal impor bahan bakar, jaringan listrik, serta sistem distribusi nasional seluruhnya dioperasikan oleh negara. Dengan mengecualikan entitas-entitas ini, kebijakan tersebut mencegah minyak digunakan untuk memulihkan listrik secara nasional.
Minyak di Bawah Kendali AS
Minyak yang kini dibicarakan bukanlah minyak mentah Venezuela yang diperdagangkan secara bebas. Menyusul tindakan Washington terhadap Caracas pada Januari lalu, Amerika Serikat mengambil alih kendali atas pendapatan ekspor minyak Venezuela dan menempatkannya di bawah pengawasan Departemen Keuangan AS.
Setiap minyak yang diizinkan mencapai Kuba akan disalurkan melalui pedagang dan perantara yang disetujui AS, dengan syarat-syarat yang ditentukan Washington. Pada praktiknya, AS menawarkan akses ke minyak yang berada di bawah kendalinya sendiri, sambil tetap memberlakukan pembatasan yang mencegah Kuba menggunakannya melalui sistem energi nasionalnya.
Krisis Akibat Kebijakan, Bukan Kekurangan
Krisis energi Kuba tidak muncul akibat kelangkaan pasokan minyak global. Krisis ini berkembang setelah sanksi AS secara tajam membatasi kemampuan Venezuela untuk mengirim bahan bakar ke pulau tersebut, sehingga memutus sumber energi utama Kuba.
Sejak itu, Kuba mengalami:
Pemadaman listrik harian hingga 20 jam
Gangguan berat pada transportasi umum
Rumah sakit beroperasi dengan pasokan bahan bakar darurat yang terbatas
Sekolah dan tempat kerja berulang kali ditutup
Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memperingatkan bahwa kekurangan bahan bakar yang berkepanjangan mengancam layanan esensial di seluruh pulau.
Mengapa Kebijakan AS Tidak Menyelesaikan Masalah
Departemen Perdagangan AS mencatat bahwa peraturan yang ada saat ini sudah mengizinkan ekspor bahan bakar ke sektor swasta Kuba. Namun, sektor swasta Kuba tidak mengelola pembangkit listrik, jaringan nasional, atau sistem distribusi bahan bakar.
Mengizinkan minyak hanya kepada entitas swasta tidak menyentuh inti persoalan: ketidakmampuan negara Kuba untuk mengoperasikan infrastruktur energinya akibat sanksi.
Akibatnya, kebijakan ini menciptakan kesan adanya bantuan kemanusiaan, sementara titik-titik tekanan utama tetap dipertahankan.
Kekhawatiran Regional Meningkat
Isu ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan para pemimpin Karibia, yang memperingatkan bahwa memburuknya kondisi di Kuba dapat mengguncang kawasan melalui dampak ekonomi dan arus migrasi.
Meski ada peringatan tersebut, Washington terus membingkai kebijakannya dalam kerangka persyaratan politik, bukan bantuan kemanusiaan tanpa syarat.
Sementara para pejabat AS menggambarkan langkah ini sebagai pelonggaran sanksi, struktur kebijakan tersebut memastikan Kuba tetap tidak mampu memulihkan listrik secara stabil di tingkat nasional.
Dengan membatasi akses minyak melalui jalur yang mengecualikan negara, Amerika Serikat mempertahankan kendali atas sistem energi Kuba—bahkan ketika kebijakan itu disajikan sebagai tindakan kepedulian kemanusiaan. (FG)


