Sheikh Qassem: AS Rancang Keruntuhan Lebanon demi Layani Israel
Sekretaris Jenderal Hizbullah memperingatkan bahwa campur tangan Washington mendorong kehancuran ekonomi, kekacauan politik, dan serangan Israel terhadap Lebanon
Lebanon, PUREWILAYAH.COM - Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem memperingati satu tahun kesyahidan komandan media terkemuka Mohammad Afif, memuji peran luar biasanya dalam membentuk front media perlawanan.
Ia menggambarkan Afif sebagai “figur bersinar di dunia media,” yang menggabungkan kemampuan menulis dan retorika yang kuat dengan pemahaman budaya yang mendalam dan wawasan strategis.
Sheikh Qassem menyoroti kepemimpinan Afif selama satu dekade atas departemen hubungan media Hizbullah di bawah supervisi mendiang Sayyed Nasrallah, mencatat bahwa kehadiran Afif memberi karakter unik dan berpengaruh bagi kerja media perlawanan.
Kemampuannya dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan media dan membangun hubungan dengan berbagai media — baik yang bersahabat maupun yang berseberangan — meninggalkan jejak mendalam dalam dunia media perlawanan.
Setelah kesyahidan Sayyed Nasrallah, Afif adalah orang pertama yang mengusulkan penyelenggaraan konferensi pers beruntun untuk menjelaskan isu-isu penting. Sheikh Qassem memuji komitmennya pada media yang jujur dan keyakinannya bahwa jurnalisme yang benar dapat membimbing masyarakat, pemimpin politik, dan pengambilan keputusan publik.
Sekretaris Jenderal itu menegaskan bahwa Afif dibunuh karena ia berhasil memperkuat dan mempromosikan narasi perlawanan. Ia juga memberi penghormatan kepada para jurnalis di Lebanon yang gugur saat mengungkap kejahatan Israel, menggambarkan pengorbanan mereka sebagai pilar penting dalam perjuangan media.
Mengokohkan Arena Media Melawan Agresi Israel
Sheikh Qassem menekankan pentingnya melindungi dan memantau arena media, menegaskan perannya yang vital dalam mengungkap agresi Israel terhadap Lebanon dan Palestina. Ia memperingatkan bahwa meremehkan media perlawanan adalah kesalahan fatal, karena penargetan musuh terhadap para pekerja media justru menegaskan keberhasilan mereka dalam menyingkap kebenaran.
Ia memberi penghormatan kepada empat syuhada yang selalu mendampingi Afif dalam semua misinya — Moussa Ahmad Haidar Amin, Hussein Ali Ramadan, Hilal Mohammad Termos, dan Mahmoud Ibrahim Al-Sharqawi — menggambarkan mereka sebagai satu kesatuan yang memberikan dukungan penting sepanjang tugas-tugas Afif.
Agresi Israel dan Pentingnya Persatuan Lebanon
Sheikh Qassem mengutuk serangan-serangan Israel yang terus berlanjut, menggambarkannya sebagai ancaman terhadap keamanan Lebanon dan jalinan sosialnya. Ia memperingatkan terhadap pihak-pihak internal yang bekerja untuk melayani proyek Israel dengan melemahkan persatuan nasional.
Sekretaris Jenderal itu menegaskan kembali bahwa persatuan Lebanon — antara Muslim dan Kristen — merupakan syarat utama untuk menghadapi serangan Israel, memulihkan hak-hak nasional, dan membebaskan wilayah-wilayah Lebanon yang masih diduduki. Ia menyerukan diakhirinya agresi Israel, penarikan Israel dari tanah Lebanon, dan pembebasan para tahanan.
Ia menekankan bahwa pemerintah Lebanon memikul tanggung jawab langsung untuk mengembangkan program-program jelas dalam menghadapi pelanggaran Israel yang berulang. “Agresi adalah masalahnya, bukan perlawanan,” katanya. “Dan rakyat Lebanon tidak akan menyerah pada tuntutan musuh.”
Peringatan kepada Pemerintah Lebanon: Konsesi Hanya Menguatkan Musuh
Dalam pesan langsung kepada pemerintah Lebanon, Sheikh Qassem menegaskan bahwa Hizbullah adalah bagian dari negara dan sungguh-sungguh menginginkan keberhasilan pemerintah dalam membangun dan membebaskan Lebanon. Namun, ia mengecam konsesi berulang pemerintah yang, menurutnya, tidak pernah menghasilkan apa-apa.
Ia mengkritik konsesi sepihak yang tidak pernah dibalas:
“Lebanon telah melaksanakan kewajibannya dengan disiplin selama lebih dari satu tahun, sementara musuh Israel tidak memenuhi satu pun dari komitmennya.”
Sheikh Qassem menasihati pemerintah agar mengambil sikap tegas:
“Katakan ‘tidak’ demi membela hak Lebanon, dan mari kita berdiri bersama — meskipun ada yang masih tunduk pada pengaruh luar.”
Ia menekankan bahwa Lebanon dapat mencapai kemerdekaan, membebaskan tanah, dan menyelesaikan langkah-langkah kedaulatan hanya melalui persatuan antara Muslim, Kristen, dan seluruh wilayah dalam menghadapi Israel dan mereka yang berdiri di belakangnya.
“Kami menginginkan tanah kami, para tahanan kami, stabilitas kami, ekonomi kami, dan politik kami,” katanya. “Dan kami berhak memperoleh tuntutan itu sebagai warga negara dari negeri ini.”
Perwalian Amerika: Sumber Bencana Lebanon
Sheikh Qassem mendedikasikan bagian signifikan dari pidatonya untuk mengungkap campur tangan AS, menggambarkan perwalian Amerika sebagai “bahaya besar bagi Lebanon” dan sumber akar dari krisis negara ini.
Ia menegaskan bahwa:
• Amerika bukan mediator — tetapi agresor.
• Washington mengarahkan agresi Israel dan menetapkan batas politik bagi eskalasi militernya.
• AS merusak struktur politik dan keuangan Lebanon sejak 2019.
• Tekanan Amerika memicu runtuhnya mata uang dan sektor perbankan Lebanon.
• Pilar-pilar korupsi di Lebanon adalah “wadah kosong” yang menjalankan agenda AS.
• Washington menghalangi impor listrik dari Mesir dan Yordania.
• Campur tangan AS mensabotase sektor minyak Lebanon melalui tekanan terhadap tender dan operasi.
“Jika Anda ingin mengetahui bencana terbesar yang menimpa Lebanon,” katanya, “lihatlah kepada Amerika — karena dialah sumber dari semua krisis ini dan pemimpin dari pendekatan destruktif ini.”
Sheikh Qassem memperingatkan faksi pro-AS bahwa sejarah berulang, mengingatkan bagaimana milisi Lahd ditinggalkan oleh Israel dan Amerika ketika sudah tidak berguna lagi.
Melindungi Lembaga Sosial yang Ditargetkan AS
Sheikh Qassem menekankan pentingnya lembaga Qard al-Hassan sebagai penopang sosial bagi warga Lebanon di tengah kesulitan ekonomi.
Ia mengecam tekanan AS yang bertujuan mempersempit ruang gerak lembaga tersebut dan menyerukan pemerintah untuk menghentikan langkah-langkah yang memperketat kesulitan bagi rakyat Lebanon.
Menolak Fitnah dan Membongkar Destabilisasi Internal
Sekretaris Jenderal itu memperingatkan terhadap hasutan dan fitnah sektarian, menegaskan bahwa para pelaku fitnah kini telah terbongkar, dan bahwa pendudukan Israel bergembira dengan nama-nama dan tindakan mereka.
Namun, ia menegaskan bahwa hanya kebenaran yang akan bertahan, dan “para pemilik tanah akan merebutnya kembali.”
Sheikh Qassem mengutuk serangan terhadap Ketua Parlemen Nabih Berri, menggambarkannya sebagai tindakan dosa yang tidak memiliki justifikasi selain upaya untuk memfasilitasi kendali asing atas struktur politik Lebanon.
Ia membela Berri sebagai figur sentral dalam menjaga stabilitas nasional dan mencegah fitnah, menekankan bahwa upaya untuk melemahkannya hanyalah melayani agenda kekuatan luar.
Integritas Pemilu Terancam oleh Pengaruh Asing
Dalam membahas pemilu, Sheikh Qassem memperingatkan terhadap manipulasi undang-undang pemilu, terutama upaya memasukkan suara diaspora tanpa memastikan iklim pemilu yang adil.
Ia menilai pendekatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk agenda eksternal dan menempatkan pemilih Lebanon di luar negeri dalam posisi rentan.
Ia menekankan perlunya mempertahankan undang-undang pemilu saat ini tanpa gangguan atau distorsi demi menjaga stabilitas politik Lebanon.
“Pemilik Tanah adalah Pemenang Sejati”
Sebagai penutup, Sheikh Naim Qassem menegaskan bahwa mereka yang membawa panji kehormatan, martabat, dan perlawanan adalah pemenang sejati — meskipun berada di bawah tekanan dan tantangan.
Ia menegaskan bahwa rakyat yang memiliki tanah, melalui pengorbanan, ketabahan, dan keteguhan, akan menuai buah kemerdekaan dan kebebasan.
Ia menekankan bahwa perlawanan, didukung oleh tentara dan semua pihak yang percaya pada pembebasan Lebanon, tetap mampu meraih kemenangan, apa pun tingkat tekanan AS maupun agresi Israel. (PW)




