Ayatullah Kaabi Ungkap Arahan Imam Khamenei tentang Pemilihan Pemimpin Iran Berikutnya
Ayatullah Abbas Kaabi menjelaskan arahan Imam Khamenei mengenai pemilihan Pemimpin masa depan Iran, dengan menekankan integritas keuangan, komitmen revolusioner, dan peran Majelis Ahli.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Ayatullah Abbas Kaabi, anggota Presidium Majelis Ahli Kepemimpinan Iran, merilis sebuah pesan penting pada Jumat (6 Maret 2026) yang membahas proses pemilihan Pemimpin baru serta pandangan Imam Syahid, Ayatullah Sayyed Ali Khamenei.
Kantor Tasnim News Agency melaporkan bahwa pernyataan tersebut disampaikan di Qom dan memuat sejumlah poin penting mengenai kriteria serta tanggung jawab Majelis Ahli dalam memilih Pemimpin berikutnya.
Pertemuan Komisi Investigasi dengan Imam Khamenei
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Komisi Investigasi Majelis Ahli Kepemimpinan beberapa kali berkesempatan bertemu dengan Imam Syahid, Ayatullah Agung Khamenei (semoga Allah meninggikan derajatnya).
Dalam salah satu pertemuan tersebut, beliau menekankan agar karakteristik dan kriteria kepemimpinan diidentifikasi serta dirumuskan dengan cermat, dan agar keputusan diambil berdasarkan standar tersebut.
Pada awal proses ini, komisi membentuk sebuah komite khusus untuk tugas tersebut. Anggota komite itu antara lain almarhum Ayatullah Sayyed Mahmoud Shahroudi, Syahid Ayatullah Sayyed Ebrahim Raeisi, Ayatullah Sayyed Ahmad Khatami, Ayatullah Mohsen Qomi, dan saya sendiri.
Kami merumuskan berbagai aturan dan kriteria yang diperlukan, dan dalam pertemuan-pertemuan berikutnya kami menyampaikan laporan mengenai proses serta standar yang telah ditetapkan kepada Imam Syahid.
Sebagai tanggapan, Imam Khamenei menyatakan:
“Di antara semua karakteristik, ketakwaan finansial seorang Pemimpin memiliki prioritas tertinggi. Mengingat luasnya kewenangan dan tanggung jawab kepemimpinan, jika terjadi penyimpangan finansial, hal itu akan merembet ke seluruh aspek lainnya. Oleh karena itu, berikan perhatian yang lebih serius pada ketakwaan finansial Pemimpin.”
Komitmen terhadap Revolusi dan Perlawanan
Dalam pertemuan lain dengan Komisi Investigasi, Imam Khamenei menekankan pentingnya bahwa Pemimpin masa depan harus memiliki keyakinan yang kuat terhadap prinsip-prinsip Revolusi Islam.
Beliau juga menegaskan perlunya wawasan politik, kemampuan mengenali musuh dan fitnah, serta secara khusus sikap tegas terhadap arogansi global.
Beliau menekankan iman pada perjuangan, perlawanan, dan konfrontasi terhadap Amerika Serikat dan rezim Zionis.
Permintaan Petunjuk tentang Pemimpin Masa Depan
Dalam sesi lain Komisi Investigasi, menjelang akhir periode kelima Majelis Ahli Kepemimpinan, Kazeroon, perwakilan Provinsi Alborz di Majelis Ahli, meminta kepada Imam Syahid bahwa jika beliau tidak ingin menyebutkan individu tertentu sebagai Pemimpin masa depan, setidaknya beliau dapat memberikan beberapa petunjuk atau isyarat.
Permintaan itu dimaksudkan agar Majelis Ahli dapat menemukan jalan yang benar, sebagaimana isyarat yang pernah diberikan oleh Imam Khomeini (semoga Allah mensucikan ruhnya) ketika menunjuk Ayatullah Khamenei.
Sebagai jawaban, Imam Syahid Ayatullah Agung Khamenei berkata:
“Tidak perlu. Jangan khawatir. Allah akan membantu kalian menemukan jalan.”
Beliau kemudian menambahkan:
“Setelah wafatnya Imam Khomeini, kita memasuki sebuah lorong gelap, tetapi Allah membantu kita. Karunia dan perhatian Imam Mahdi (semoga Allah mempercepat kemunculannya) membuat jalan menjadi terang.
Sekarang keadaannya tidak seperti itu, dan sudah ada celah-celah yang menunjukkan jalan. Kalian akan menemukannya. Allah Yang Maha Tinggi akan membimbing hati-hati manusia.”
Penolakan Menyebut Kandidat Tertentu
Jauh sebelumnya, dalam komite tiga orang yang terkait dengan Pasal 107 dan 109 Konstitusi — yang terdiri dari Ayatullah Yazdi, Ayatullah Shabestari, dan Ayatullah Vafi — Imam Syahid berulang kali diminta untuk menyebutkan individu tertentu.
Namun beliau menolak menyebutkan kandidat tertentu dan berkata:
“Ini adalah tanggung jawab Majelis Ahli.”
Ketika komite tersebut hendak melaporkan nama-nama yang mereka pertimbangkan, beliau bahkan tidak bersedia mendengarkan nama-nama tersebut secara langsung.
Arahan Terakhir Imam Khamenei
Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan seluruh bukti dan indikasi yang ada, posisi Imam Syahid Ayatullah Agung Khamenei (semoga Allah meninggikan derajatnya) adalah bahwa Majelis Ahli harus mengambil keputusan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, prinsip-prinsip yang ada, serta tanggung jawab hukum dan syar’i mereka.
Beliau tidak meninggalkan wasiat khusus, rekomendasi, ataupun isyarat yang menunjuk kepada individu tertentu sebagai Pemimpin masa depan. (FG)


