Ayatullah Khamenei: Iran Buka Dialog atas Protes Sah, Tegas terhadap Kerusuhan Asing
Pemimpin Revolusi memperingatkan bahwa gejolak nilai tukar dan keresahan sosial dipersenjatai oleh kekuatan bermusuhan, serta menegaskan batas tegas antara protes sah dan sabotase asing.
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyed Ali Khamenei, menegaskan bahwa fluktuasi tajam nilai tukar mata uang Iran dan ketidakstabilan ekonomi yang berlangsung saat ini bukanlah proses alami, melainkan hasil dari operasi permusuhan yang disengaja untuk mengguncang masyarakat dan melemahkan ketahanan nasional.
Menanggapi protes-protes ekonomi terbaru, Ayatullah Khamenei mengakui adanya keluhan publik yang sah, khususnya terkait volatilitas nilai tukar dan ketidakpastian dunia usaha. Namun, ia menegaskan bahwa guncangan pasar valuta asing direkayasa oleh kekuatan bermusuhan sebagai bagian dari perang ekonomi terkoordinasi terhadap bangsa Iran.
Ia memperingatkan bahwa musuh berupaya mengeksploitasi keluhan masyarakat dengan menyusupkan provokator ke dalam aksi-aksi demonstrasi, dengan tujuan memicu kekacauan, menyebarkan slogan-slogan anti-Islam, serta mengubah protes yang sah menjadi sabotase terorganisir.
Pemimpin Revolusi menarik garis pemisah yang jelas antara protes ekonomi yang sah dan kekacauan yang digerakkan pihak asing, seraya menegaskan bahwa kekacauan semacam itu semata-mata mengabdi pada kepentingan musuh-musuh Iran.
Iran Tidak Akan Tunduk pada Ancaman atau Tipu Daya
Menutup pernyataannya terkait tekanan asing, Ayatullah Khamenei mengatakan bahwa bangsa Iran kini telah sepenuhnya mengenali watak sejati Amerika Serikat, seraya mencatat bahwa bahkan ketika perundingan sedang berlangsung, Washington secara bersamaan menyiapkan konfrontasi di balik layar.
Ia menekankan bahwa persatuan nasional, kewaspadaan, dan perlawanan tetap menjadi pertahanan terkuat Iran, serta menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan tunduk pada intimidasi, pemaksaan, ataupun perang psikologis.
“Dengan bertawakal kepada Tuhan dan bersandar pada dukungan rakyat,” ujarnya, “musuh akan dipaksa bertekuk lutut.”






Perang Lunak AS–Israel Pasca Kegagalan Militer
Ayatullah Khamenei memperingatkan bahwa setelah gagal mengalahkan Iran melalui konfrontasi militer langsung, Amerika Serikat dan sekutunya—khususnya rezim Zionis Israel— telah mengintensifkan kampanye perang lunak berbasis penipuan, disinformasi, dan operasi psikologis.
Ia menjelaskan bahwa perang lunak bertujuan untuk melemahkan semangat masyarakat, mengikis kepercayaan diri nasional, serta merusak persatuan internal dengan menutup-nutupi capaian Iran dan membesar-besarkan tekanan ekonomi maupun sosial.
Kekuatan Pemuda dan Kapabilitas Nasional Menjadi Sasaran
Menyoroti kemajuan ilmiah dan teknologi Iran di tengah sanksi, Pemimpin Revolusi menunjuk capaian strategis di bidang dirgantara, energi, industri pertahanan, kedokteran, bioteknologi, dan pengembangan rudal.
Ia menegaskan bahwa ketakutan utama musuh terletak pada generasi muda Iran yang terdidik, terampil, dan berdaya, seraya menyinggung peluncuran satelit terbaru oleh tim dengan usia rata-rata 26 tahun sebagai bukti kedalaman strategis negara.
Imam Ali sebagai Teladan Keadilan dan Ketakwaan
Pemimpin Revolusi juga menyinggung peringatan kelahiran Imam Ali, yang ia gambarkan sebagai puncak keadilan dan ketakwaan, serta menegaskan bahwa kedua prinsip tersebut harus tetap menjadi fondasi pemerintahan Islam.
Ia menjelaskan bahwa keadilan Imam Ali diwujudkan melalui pembelaan terhadap kaum tertindas, ketegasan menghadapi para agresor, serta kejernihan moral dalam kepemimpinan—standar yang harus terus diperjuangkan oleh Republik Islam.
Warisan Soleimani: Iman, Keikhlasan, dan Tindakan
Memperingati haul kesyahidan Qassem Soleimani, Ayatullah Khamenei menepis narasi permusuhan terhadap mendiang komandan tersebut sebagai fitnah kosong dan propaganda murahan.
Ia menggambarkan Soleimani sebagai sosok iman, keikhlasan, dan tindakan nyata, yang pengaruhnya melampaui medan militer hingga mencakup arena politik dan pembinaan generasi muda. Ayatullah Khamenei menambahkan bahwa semakin besarnya jumlah peziarah di makam Soleimani setiap tahun menjadi bukti kegagalan upaya musuh untuk menghapus warisannya. (FG)


