Ayatullah Khamenei: Kekuatan Kita Terletak pada Qiyam Lillah, Persatuan, dan Perlawanan
Pemimpin Revolusi Islam mengatakan musuh telah beralih dari konfrontasi militer ke perang hibrida setelah mengalami kekalahan, fokus melemahkan ketahanan rakyat dan mengganggu kalkulasi para pejabat
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Pada peringatan Idul Ghadir, peringatan ke-37 wafatnya Imam Khomeini, dan hari jadi dimulainya kepemimpinan Syahid Ayatullah Sayyed Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei mengeluarkan sebuah pesan komprehensif yang menekankan sentralitas Qiyam Lillah (bangkit demi Allah), persatuan nasional, dan perlawanan yang teguh terhadap agresi asing.
Pesan tersebut dibacakan pada hari Kamis di Kompleks makam Imam Khomeini Imam Khomeini oleh Hujjatul Islam Mohammad Hassan Haj Ali Akbari.
Dalam pesannya, Ayatullah Mojtaba Khamenei mengucapkan selamat Idul Ghadir kepada kaum Muslimin di seluruh dunia dan menggambarkan Imam Ali as sebagai teladan tertinggi bagi seluruh orang beriman. Ia menyatakan bahwa kehormatan terbesar dalam kehidupan dua pemimpin Revolusi Islam adalah komitmen mereka untuk mengikuti jalan Amirul Mukminin.
Qiyam Lillah sebagai Fondasi Revolusi Islam
Ayatullah Mojtaba Khamenei menyebut Qiyam Lillah sebagai prinsip fundamental mazhab pemikiran Imam Khomeini dan kekuatan penggerak di balik berbagai transformasi besar yang disaksikan Iran selama beberapa dekade terakhir.
Merujuk pada tulisan-tulisan revolusioner awal Imam Khomeini, ia menegaskan bahwa seruan untuk bangkit demi Allah telah membangunkan sebuah bangsa yang terjebak dalam dominasi asing, penindasan politik, dan ketergantungan pada kekuatan-kekuatan Barat.
Ia menunjuk berbagai momen bersejarah penting—termasuk kebangkitan Juni 1963, kemenangan Revolusi Islam pada 1979, serta mobilisasi besar rakyat setelah kesyahidan Syahid Ayatullah Sayyed Ali Khamenei—sebagai bukti kekuatan yang terus hidup dari prinsip spiritual dan revolusioner tersebut.
Menurut Pemimpin Revolusi Islam, bangsa Iran berulang kali menunjukkan kesiapan luar biasa untuk membela Islam, sistem Islam, dan nilai-nilai Front Perlawanan setiap kali dipanggil untuk melakukannya.
Penghormatan kepada Imam Khomeini dan Syahid Ayatullah Khamenei
Pesan tersebut menggambarkan Imam Khomeini dan Syahid Ayatullah Sayyed Ali Khamenei sebagai arsitek dari transformasi historis yang mendalam yang melampaui Iran dan menjangkau Ummah Islam serta dunia secara lebih luas.
Ayatullah Mojtaba Khamenei menyatakan bahwa Imam Khomeini menemukan dan menghidupkan kembali potensi-potensi terpendam rakyat Iran, sementara Syahid Ayatullah Khamenei menghabiskan hampir empat dekade untuk memperdalam transformasi tersebut melalui pembangunan institusi, pengembangan intelektual, dan kepercayaan kepada generasi muda.
Ia menegaskan bahwa mazhab Syahid Ayatullah Khamenei merupakan kelanjutan dari jalan Imam Khomeini dan Islam Muhammadi yang Murni, yang didasarkan pada pengabdian kepada Allah, penegakan kebenaran, dan perlawanan terhadap kezaliman.
“Para murid mazhab ini berdiri siap, berbaris demi baris, untuk menegakkan kebenaran, melenyapkan kebatilan, dan berjihad di jalan yang bercahaya ini,” demikian bunyi pesan tersebut.
Musuh Beralih ke Perang Hibrida Setelah Kekalahan Militer
Bagian penting dari pesan tersebut berfokus pada apa yang digambarkan Ayatullah Mojtaba Khamenei sebagai peralihan musuh dari konfrontasi militer menuju perang hibrida.
Ia menyatakan bahwa setelah mengalami kekalahan dalam konfrontasi langsung melawan angkatan bersenjata Iran dan merasakan apa yang disebutnya sebagai penghinaan mendalam baik di medan perang maupun di ruang publik, musuh kini memusatkan upayanya pada dua tujuan utama.
“Musuh yang jahat telah memusatkan upayanya dalam perang hibrida pada dua titik: pertama, ketahanan rakyat; dan kedua, menciptakan kesalahan dalam perhitungan para pejabat negara.”
Menurut pesan tersebut, instrumen utama kampanye ini adalah penanaman keraguan, keputusasaan, ketakutan, prasangka buruk, dan perpecahan di tengah masyarakat.
Ayatullah Mojtaba Khamenei memperingatkan bahwa menjaga persatuan nasional, saling percaya, kohesi sosial, dan kepercayaan publik tetap menjadi hal yang sangat penting untuk menggagalkan upaya-upaya tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa setiap tindakan yang menciptakan pesimisme, frustrasi, atau ketidakpercayaan di tengah rakyat pada hakikatnya melayani kepentingan musuh.
Dukungan terhadap Kaum Tertindas Tetap Menjadi Prinsip Fundamental
Pemimpin Revolusi Islam juga menegaskan kembali prinsip-prinsip yang berulang kali ditekankan oleh Imam Khomeini dan Syahid Ayatullah Khamenei, termasuk dukungan terhadap kaum tertindas sebagai kewajiban Islam, kemanusiaan, dan kebangsaan.
Ia menyatakan bahwa sistem dominasi global yang dipimpin Amerika Serikat terus menentang Iran karena identitasnya yang independen, penolakannya untuk tunduk, dan komitmennya dalam membela kaum tertindas.
Pesan tersebut secara khusus menyebut Israel sebagai pos militer yang diciptakan oleh sistem dominasi dan menegaskan bahwa kekuatan-kekuatan yang memusuhi Iran tetap bertekad mencegah munculnya Iran yang kuat dan merdeka.
Seruan untuk Membangun Masa Depan
Menutup pesannya, Ayatullah Mojtaba Khamenei menyerukan kepada para pemuda, intelektual, seniman, dan seluruh lapisan masyarakat untuk terus melanjutkan jalan yang telah digariskan oleh Imam Khomeini dan Syahid Ayatullah Khamenei.
Ia menggambarkan periode saat ini sebagai peluang baru untuk memperkenalkan dan mewujudkan prinsip-prinsip Revolusi Islam dalam skala global, seraya mendorong bangsa Iran untuk tetap percaya pada janji-janji Ilahi dan berkomitmen membangun masa depan yang lebih kuat bagi Iran.
Pemimpin Revolusi Islam memanjatkan doa bagi kemenangan akhir bangsa Iran, kelanjutan kemajuan Revolusi Islam, serta peninggian derajat ruh dua pemimpin Revolusi bersama para syuhada yang mengorbankan nyawa mereka demi membela Islam dan bangsa.
Teks lengkap pesan Pemimpin Revolusi adalah sebagai berikut:
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah yang menjadikan kesempurnaan agama-Nya dan penyempurnaan nikmat-Nya melalui wilayah (kepemimpinan) Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as.
Saya mengucapkan selamat Idul Ghadir yang penuh berkah kepada seluruh kaum Muslimin dan para pecinta Ayah Ummah Islam, Amirul Mukminin Ali as, di Iran maupun di seluruh dunia, serta menyampaikan salam dan penghormatan kepada ruh suci Imam Khomeini ra.
Tahun ini merupakan 14 Khordad ke-37 sejak perpisahan dengan Khomeini Agung, dan merupakan 14 Khordad pertama di mana ayah penuh kasih bagi Ummah, murid yang setia dan menonjol dari mazhab Imam, pemimpin agung Revolusi Islam yang syahid, Ayatullah Agung Sayyed Ali Khamenei, telah menjadi tamu dalam jamuan Ilahi, dan gema suaranya yang penuh keteguhan serta kata-katanya yang bijaksana dan berpengaruh tidak lagi terdengar di makam suci Imam.
Namun demikian, kumpulan pidato dan tulisan pendiri Republik Islam selama sepuluh tahun serta pemimpin agung yang syahid selama tiga puluh enam tahun tetap menjadi khazanah yang sangat berharga dan tak tergantikan bagi kita semua, sekaligus cahaya penuntun bagi perjalanan masa depan.
Pertama, hari ini adalah Idul Ghadir, Hari Raya Ilahi Terbesar; hari perjanjian yang telah ditetapkan dan ikrar yang telah diambil, di mana Allah menentukan tanggung jawab pengelolaan masyarakat dan sistem Islam, serta menyempurnakan agama dan melengkapi nikmat-Nya melalui wilayah dan imamah yang berkesinambungan dari para Maksum as.
Ghadir mengingatkan kita kepada sosok yang setiap detik kehidupannya yang mulia, sejak kelahirannya di Ka’bah hingga meraih kemuliaan syahadah, adalah untuk Allah dan di jalan Allah.
Karena itu, setelah keberadaan mulia Rasulullah saw, sosok agung tersebut dalam setiap fase kehidupan dan bagi seluruh kaum Muslimin serta orang-orang beriman merupakan teladan tertinggi dan model yang sempurna. Sudah sepatutnya seluruh manusia—dari anak-anak hingga para lanjut usia, dari masyarakat biasa hingga para cendekiawan dan pemimpin—meneladani beliau, sebagaimana kebanggaan terbesar dalam kehidupan dua Pemimpin Revolusi juga terletak pada keteladanan mereka kepada sosok agung tersebut.
Kedua, hari ini adalah peringatan wafatnya Imam Ummah ra dan merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk merenungkan dan membahas sosok yang terkenal namun belum sepenuhnya dipahami ini.
Beliau adalah pribadi yang memiliki daya tarik luar biasa, yang jalan dan tujuan cemerlangnya, apabila dipahami secara mendalam, akan menjadi cahaya penunjuk jalan bagi masa depan Iran Islam. Namun banyak anggota bangsa yang saat ini masih muda tidak sempat mengenal beliau secara langsung, dan bahkan banyak di antara mereka yang hidup pada masa beliau pun belum benar-benar memahami kedalaman kepribadian dan jalan perjuangannya.
Allah Yang Mahatinggi berfirman:
“Katakanlah: Aku hanya menasihati kalian dengan satu hal, yaitu agar kalian bangkit karena Allah, berdua-dua maupun sendiri-sendiri.”
Dalam ayat yang mulia ini, Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi memerintahkan Rasulullah saw untuk menyampaikan kepada umat bahwa beliau hanya menasihati mereka dengan satu perkara: agar mereka bangkit demi Allah, baik secara berkelompok maupun secara individu.
Ayat yang mulia ini merupakan pembuka pesan pertama dan salah satu dokumen paling awal yang di dalamnya hamba Allah yang tiada bandingannya dan ruh agung zaman kita, Pemimpin Besar Revolusi dan pendiri Republik Islam, menyeru bangsa Iran untuk bangkit demi Allah.
Sesungguhnya bangkit demi Allah merupakan fondasi mazhab Imam. Salah satu pengaruh dan keberkahan terbesar dari keberadaan beliau adalah bimbingan, pendidikan, dan pengaruh mendalamnya terhadap masyarakat berdasarkan prinsip tersebut.
Gerakan Ilahi inilah yang menjadi sumber turunnya keberkahan dan perhatian Rabbani, serta manifestasi sunnatullah dalam membimbing masyarakat menuju jalan kebenaran:
“Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
Bukankah benar bahwa gerakan-gerakan besar dan kebangkitan-kebangkitan rakyat Iran pada masa Khomeini Agung dan Khamenei Agung yang syahid terjadi melalui bimbingan langsung maupun tidak langsung mereka?
Kekuatan besar apakah yang mampu membangunkan bangsa yang tertidur di bawah pengaruh kesombongan dan kolonialisme, dalam kondisi penindasan, ketercekikan politik, dan ketergantungan total kepada Barat, lalu menghidupkannya kembali pada 15 Khordad 1342?
Daya tarik seperti apakah yang mampu menarik jutaan orang ke jalan-jalan pada 1 Februari 1979 untuk menyambut Imam, dan pada 4 Juni 1989 untuk mengantarkan kepergian Imam Ummah?
Dan dalam contoh menakjubkan yang paling mutakhir, kekuatan kokoh dan kehendak baja apakah yang sejak fajar 28 Februari 2026 telah membangkitkan bangsa Iran sedemikian rupa dan membawanya ke medan perjuangan, sehingga dengan motivasi yang luhur, setelah lebih dari tiga bulan mereka tetap hadir dengan penuh semangat, menuntut keadilan bagi pemimpin mereka yang syahid dan para syuhada lainnya, menjaga kehormatan sistem Islam dan tanah air tercinta mereka, serta memperkuat barisan puluhan juta pengikut setia demi mewujudkan cita-cita pemimpin mereka yang syahid, menegakkan kebenaran, dan bangkit demi Allah?
Sesungguhnya Khomeini Agung dan Khamenei Agung yang syahidlah yang menemukan serta menghidupkan kembali potensi dan kesiapan dalam diri bangsa Iran yang mulia ini, dan mereka selalu memberikan penghargaan istimewa terhadapnya.
Imam yang agung, yang tanpa diragukan memiliki ketakwaan luar biasa terhadap setiap kata yang dituliskannya, membuat sebuah pernyataan besar dalam wasiatnya dan menulis:
“Aku dengan berani menyatakan bahwa bangsa Iran dan jutaan rakyatnya pada masa kini lebih baik daripada penduduk Hijaz pada masa Rasulullah saw, dan lebih baik daripada penduduk Kufah dan Irak pada masa Amirul Mukminin dan Husain bin Ali as.”
Hari ini bangsa yang mulia ini berdiri dengan bangga melalui kebangkitan barunya bersama Poros Perlawanan dan telah menjadi sumber kebanggaan di hadapan bangsa-bangsa merdeka dan orang-orang yang sadar di seluruh dunia, serta sekali lagi membuktikan kebenaran bagian dari wasiat Imam Khomeini tersebut.
Sebagaimana dinyatakan oleh pemimpin yang syahid, tangan yang kuat itu, kepribadian yang sekeras baja itu, hati yang tenang itu, dan lisan laksana Zulfiqar milik Imam Agung dan Khomeini yang mulia itulah yang mampu menggerakkan samudra besar bangsa ini, membawa jutaan manusia ke medan perjuangan, mempertahankan mereka di dalamnya, dan mengajarkan arah gerakan kepada mereka.
Dan sesungguhnya contoh lain dari pengaruh semacam itu adalah Khamenei tercinta sendiri, yang melanjutkan jalan pendahulunya yang saleh. Selama hampir empat dekade memimpin Revolusi dan sistem Islam, dengan mempercayai generasi muda serta memperdalam dan meningkatkan pemahaman serta wawasan masyarakat, beliau membawa masyarakat ke tingkat kesiapan yang sedemikian tinggi sehingga setelah peristiwa agung kesyahidannya, lahirlah standar baru kebangkitan nasional.
Sesungguhnya mazhab Khamenei tercinta adalah mazhab yang sama dengan mazhab Khomeini Agung, kelanjutan dari Islam Muhammadi yang Murni, yang fondasinya adalah bangkit demi Allah. Para murid mazhab ini berdiri berbaris demi baris, siap menegakkan kebenaran, menghapus kebatilan, dan berjihad di jalan yang bercahaya ini.
(FG)


