Ayatullah Khamenei: Persatuan Rakyat Mengoyak Musuh, Iran Kian Kuat dan Solid
Pemimpin menyatakan persatuan rakyat telah memecah musuh, serta memperingatkan operasi media musuh yang bertujuan merusak kohesi dan keamanan nasional.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyed Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa meningkatnya persatuan di kalangan rakyat Iran telah mulai membuat retak barisan musuh, seraya menyoroti dampak strategis dari kohesi nasional di tengah konfrontasi yang sedang berlangsung.
Dalam sebuah pesan yang dipublikasikan melalui media resminya, Pemimpin tersebut menekankan apa yang ia gambarkan sebagai “persatuan luar biasa” di antara sesama warga, serta konsekuensi langsungnya bagi pihak lawan.
“Sebagai akibat dari persatuan luar biasa yang terbentuk di antara sesama warga, keretakan telah muncul di tubuh musuh. Dengan mensyukuri nikmat ini secara nyata, kohesi akan menjadi semakin kuat dan kokoh, dan musuh akan semakin terhina dan melemah.”
Ia juga memperingatkan adanya intensifikasi operasi psikologis dan media yang bertujuan merusak persatuan tersebut:
“Operasi media musuh, dengan menargetkan pikiran dan psikologi rakyat, bertujuan merusak persatuan dan keamanan nasional. Kita tidak boleh membiarkan tujuan jahat ini terwujud akibat kelalaian kita.”
Persatuan sebagai Faktor Strategis
Pernyataan ini menempatkan persatuan sebagai kekuatan aktif yang membentuk jalannya konfrontasi—yang telah menghasilkan keretakan nyata di barisan pihak lawan.
Pesan ini sejalan dengan pernyataan sebelumnya dari para pejabat tinggi Iran, yang dalam respons terkoordinasi menolak klaim Presiden AS Donald Trump mengenai adanya perpecahan internal, serta menegaskan bahwa label seperti “garis keras” dan “moderat” tidak memiliki tempat dalam realitas politik Iran.
Para pejabat menekankan identitas nasional yang bersatu, dengan menyatakan bahwa negara berdiri sebagai satu kesatuan di bawah kepemimpinan Republik Islam.
Sementara Itu, Dukungan Publik Terus Berlanjut Setiap Malam
Sementara itu, warga di berbagai kota terus berkumpul pada malam hari, menyerukan slogan persatuan dan menyatakan dukungan terhadap para pejabat negara.
Pemandangan ini bertolak belakang dengan klaim eksternal mengenai adanya perpecahan internal, sekaligus memperkuat narasi tentang kohesi antara rakyat dan negara.
Mobilisasi Berkelanjutan di Tengah Konfrontasi
Secara terpisah, laporan menyebutkan bahwa kampanye “Janfada” (Pengabdian)—yang diluncurkan sebelumnya selama masa perang untuk mengorganisasi relawan—telah melampaui 30 juta peserta.
Para pejabat menggambarkan inisiatif ini sebagai upaya mobilisasi berkelanjutan, yang mencerminkan kesiapan jangka panjang masyarakat, bukan perkembangan yang bersifat sementara. (FG)




