Azizi: Selat Hormuz Tak Akan Dikelola oleh Postingan Delusional Trump
Azizi memperingatkan intervensi AS di Hormuz akan melanggar gencatan senjata, sementara klaim navigasi Trump memicu ketegangan, lonjakan minyak, dan risiko eskalasi
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengeluarkan peringatan terhadap setiap keterlibatan Amerika Serikat di Selat Hormuz, dengan menegaskan bahwa jalur strategis tersebut “tidak akan dikelola oleh postingan delusional Trump.”
Azizi merespons klaim terbaru Presiden AS, Donald Trump, terkait upaya menjamin kelancaran pelayaran kapal melalui selat tersebut. Ia menekankan bahwa setiap intervensi Amerika dalam apa yang ia sebut sebagai “rezim maritim baru” akan dianggap sebagai pelanggaran langsung terhadap gencatan senjata.
“Peringatan! Setiap intervensi AS dalam rezim maritim baru di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata,” tegasnya.
“Selat Hormuz dan Teluk Persia tidak akan dikelola melalui postingan delusional Trump. Tidak ada lagi yang percaya pada skenario saling menyalahkan.”
Klaim Trump soal “Kebebasan Navigasi”
Sebelumnya, Trump menyatakan Washington tengah menyiapkan langkah-langkah untuk “memulihkan kebebasan navigasi” di Selat Hormuz.
Ia mengatakan bahwa tindakan tersebut akan dimulai pada Senin pagi waktu Asia Barat, serta menambahkan bahwa perwakilan AS tengah terlibat dalam negosiasi yang “sangat positif” dengan Iran yang dapat menghasilkan hasil yang menguntungkan.
Pernyataan tersebut langsung meningkatkan ketegangan di salah satu titik jalur energi paling vital di dunia, yang dilalui oleh sebagian besar pasokan minyak global.
Pasar Bereaksi, Tekanan Strategis Meningkat
Menyusul pernyataan Trump, harga minyak melonjak hingga 108 dolar per barel, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap setiap potensi eskalasi di Selat Hormuz.
Kontrol atas Hormuz semakin menjadi alat tekanan utama dalam konfrontasi ini, memungkinkan Iran memberikan tekanan ekonomi dan politik tanpa harus mengandalkan dominasi militer penuh.
Iran Tetapkan Garis Merah Tegas
Menambah eskalasi, analis politik Iran Seyed Mohammad Marandi menyampaikan peringatan keras:
“Tidak ada kapal yang akan diizinkan keluar dari Teluk Persia tanpa izin dari angkatan bersenjata Iran.
Hanya orang bodoh yang akan mencoba mengabaikan peringatan Iran.”
Pakar Peringatkan Strategi AS Berisiko Tinggi
Mantan negosiator senior AS Aaron David Miller mempertanyakan kelayakan pendekatan Washington, dengan memperingatkan bahwa operasi pengawalan akan membuat pasukan AS langsung terpapar ancaman Iran.
“Untuk mengawal kapal keluar dari selat, kapal Angkatan Laut AS harus berada di dalam selat,” ujarnya.
“Itu berarti terpapar serangan Iran, drone, dan ranjau.”
Ia juga menyoroti tantangan operasional, mempertanyakan apakah Washington akan mengerahkan Marinir di kapal berbendera asing atau menempatkan beberapa kapal perusak serta dukungan udara untuk melindungi tanker—sebuah skenario yang berpotensi memperbesar eskalasi konflik.
Perang Melawan Iran Disebut Kegagalan Strategis
Teoretikus hubungan internasional John Mearsheimer menggambarkan perang melawan Iran sebagai “kesalahan terbesar dalam sejarah kebijakan luar negeri AS,” bahkan melampaui Perang Irak.
Ia menyatakan bahwa konflik tersebut telah berujung pada “kegagalan total” bagi Amerika Serikat, dan menilai bahwa mengakhiri perang pada akhirnya akan mengharuskan Washington mengakui kekalahan—sebuah langkah yang diyakini tidak ingin diambil oleh pemerintahan Trump.
Peringatan Azizi, yang diperkuat oleh penilaian para pakar dan volatilitas pasar, menunjukkan konfrontasi yang semakin memanas di Selat Hormuz—di mana risiko militer, tekanan ekonomi, dan sinyal politik menyatu dalam pertarungan berisiko tinggi dengan implikasi global. (FG)




