Bagaimana Skenario "Mengerikan" Terhadap Iran Digagalkan Sebelum Berujung Tragedi
Sebuah proyek pembunuhan massal terkoordinasi runtuh setelah penangkapan cepat, terbongkarnya jaringan, dan penghentian dini sel-sel bersenjata sebelum korban massal dapat terjadi.
Iran | FAKTAGLOBAL.COM — Peristiwa-peristiwa terbaru di Iran banyak digambarkan oleh media yang bermusuhan sebagai kerusuhan spontan atau protes yang tak terkendali. Namun, bukti yang muncul dari lapangan menunjukkan rancangan yang jauh lebih berbahaya dan disengaja—yang berpusat bukan pada protes, melainkan pada kekerasan mematikan yang direncanakan untuk memicu instabilitas berantai.
Aparat keamanan dan intelijen Iran telah mengonfirmasi penangkapan sejumlah sel bersenjata yang terlibat dalam penembakan, pembakaran, dan aksi-aksi perusakan terkoordinasi. Penangkapan ini diikuti oleh pengakuan langsung dari para tahanan, yang memberikan gambaran langka mengenai logika operasional di balik kekerasan tersebut.
Menurut pengakuan-pengakuan itu, para pelaku tidak bertindak secara mandiri. Mereka mengaku menerima instruksi eksplisit dari akun-akun yang terhubung ke luar negeri, yang disampaikan melalui platform seperti WhatsApp, Instagram, dan berbagai media sosial lainnya. Arahan tersebut mencakup pembentukan tim bersenjata kecil, perolehan senjata selundupan, penggunaan narkotika untuk menekan rasa takut, serta pelaksanaan aksi kekerasan dengan panduan operasional yang presisi.
Yang paling menonjol, beberapa tahanan secara eksplisit menyebut operasi ini sebagai “proyek pembunuhan.”
Makna “Proyek Pembunuhan”
Istilah “proyek pembunuhan” tidak berasal dari analis, komentator, atau narasi resmi. Istilah ini datang langsung dari para pelaku itu sendiri—sebuah pembedaan penting yang segera mengubah sifat pembahasan.
Menurut pernyataan mereka, tujuan operasi ini bukanlah intimidasi atau konfrontasi simbolik dengan aparat keamanan. Instruksinya jelas: membidik kepala, memastikan kematian, dan menghasilkan korban yang dapat dieksploitasi dengan cepat. Kekerasan bukanlah dampak sampingan; kekerasan adalah mekanisme utama.
Pengakuan tersebut mengungkap desain operasional yang terstruktur:
Tim bersenjata kecil yang terfragmentasi
Senjata api selundupan, bukan alat improvisasi
Penggunaan narkoba untuk mengatasi keraguan para teroris (membuat mereka buas)
Penargetan yang disengaja untuk memaksimalkan daya bunuh
Ini bukan kekerasan massa atau kekacauan spontan. Ini adalah pembunuhan terencana yang disusupkan ke dalam kerusuhan.
Kekerasan sebagai Perang Narasi
Tujuan dari pembunuhan-pembunuhan ini bukanlah keberhasilan taktis di jalanan, melainkan dominasi narasi.
Satu kematian yang terekam, diedarkan pada waktu yang tepat dan dibingkai dengan cara tertentu, dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada berhari-hari bentrokan jalanan. Operasi ini bergantung pada transformasi pembunuhan menjadi simbol—memicu kemarahan, menarik massa ke jalan, dan melumpuhkan respons negara melalui tekanan fisik dan psikologis secara simultan.
Dalam model ini:
Jalanan hanyalah panggung pembuka
Media sosial berfungsi sebagai akselerator
Persepsi global menjadi medan pertempuran penentu
Pendekatan ini sejalan dengan doktrin perang hibrida modern, di mana kekerasan dan operasi informasi berfungsi sebagai satu instrumen terpadu.
Mengapa Iran, Mengapa Saat Ini
Upaya eskalasi ini bertepatan dengan periode kekecewaan global yang kian meningkat terhadap Amerika Serikat dan Israel, disertai kejenuhan yang meluas terhadap retorika politik Barat dan klaim otoritas moralnya. Meski Palestina—terutama Gaza—telah menjadi simbol paling terlihat dari krisis ini, erosi kredibilitas tersebut melampaui satu isu semata.
Di berbagai belahan dunia, jurang antara retorika Barat dan perilaku Barat semakin sulit diabaikan. Sorotan hukum, moral, dan politik kian menguat, bukan hanya terkait Gaza, tetapi juga terhadap praktik dan standar ganda kekuatan Barat secara lebih luas.
Dalam konteks ini, narasi mendadak tentang “Iran dalam kekacauan” akan berfungsi sebagai pengalihan strategis. Narasi tersebut akan mengalihkan perhatian global dari runtuhnya legitimasi Barat, membingkai ulang diskursus internasional pada isu ketidakstabilan alih-alih akuntabilitas, serta menghidupkan kembali narasi lama di mana kekacauan diproyeksikan ke luar untuk menutupi kegagalan moral dan politik internal.
Dilihat dari sudut ini, destabilisasi di dalam Iran bukanlah tujuan yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengatur ulang narasi global pada saat kredibilitas Barat terlihat semakin rapuh.
Konvergensi Strategis, Bukan Kebetulan
Meski kehati-hatian diperlukan dalam menetapkan rantai komando langsung, konvergensi kepentingan tampak jelas. Kepemimpinan Israel diuntungkan dengan meluaskan arena krisis melampaui Palestina. Sejumlah aktor politik di Amerika Serikat diuntungkan oleh kekacauan regional yang menopang narasi konfrontatif dan membenarkan tekanan serta eskalasi lanjutan.
Konvergensi semacam ini tidak memerlukan koordinasi eksplisit di setiap level. Ia bekerja melalui insentif yang selaras, pesan-pesan paralel, dan hasil strategis yang sejalan.
Sebuah Bencana yang Nyaris Terjadi
Yang kerap luput diperhatikan adalah betapa dekatnya operasi ini dengan keberhasilan tujuan utamanya.
Identifikasi dan pembongkaran cepat terhadap sel-sel bersenjata mencegah rencana ini melampaui ambang paling berbahaya: korban sipil berkelanjutan yang mampu memicu eskalasi emosional berskala nasional. Kecepatan, presisi, dan koordinasi intelijen menutup peluang bagi aktor eksternal untuk memperoleh citra dan momentum yang dibutuhkan guna mendorong situasi ke luar kendali.
Seandainya respons ini terlambat meski hanya sebentar, konsekuensinya bisa sangat berat—korban massal, polarisasi yang tak dapat dipulihkan, dan eskalasi regional.
Tragedi yang Tidak Pernah Terjadi
Bagi banyak pengamat luar, peristiwa ini mungkin tampak sebagai satu lagi episode kerusuhan. Namun kenyataan yang lebih dalam jauh lebih menggetarkan. Iran lolos dari tragedi yang direkayasa secara sengaja—yang dirancang bukan hanya untuk membunuh individu, tetapi untuk memecah masyarakat, membajak perhatian global, dan mengubah arah politik kawasan.
Bahwa skenario ini gagal, ini bukanlah kebetulan. Kegagalan tersebut mencerminkan kesiapan institusional, kepemimpinan yang disiplin di bawah Rahbar, serta tingkat ketahanan sosial yang menolak menyediakan lingkungan yang dibutuhkan operasi ini untuk berhasil.
Dalam pengertian ini, yang terjadi bukan sekadar keberhasilan keamanan. Ia adalah pencegahan luar biasa atas sebuah bencana yang jauh lebih besar—yang hanya sedikit orang akan benar-benar pahami, justru karena bencana itu tidak pernah mencapai tahap yang diinginkan oleh para perancangnya. (FG)


