Baghaei: Nota Kesepahaman Iran–AS Ditandatangani, Iran sebagai Negara Adidaya Bukan Sekadar Slogan
Iran menyatakan MoU yang telah ditandatangani memuat komitmen Washington terkait pencabutan sanksi, akses terhadap aset Iran, serta penghormatan terhadap ketentuan gencatan senjata termasuk di Lebanon
Iran, FAKTAGLOBAL.COM – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengumumkan bahwa nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat telah ditandatangani oleh presiden kedua negara, yang secara resmi membawa kesepakatan tersebut ke tahap implementasi.
Dalam wawancara televisi, Baghaei mengatakan dokumen tersebut terdiri dari 14 pasal dengan panjang sekitar satu setengah halaman dan ditandatangani dalam bahasa Persia maupun bahasa Inggris. Menurutnya, penandatanganan oleh otoritas tertinggi kedua negara meningkatkan konsekuensi politik bagi pihak mana pun yang melanggar isi kesepakatan.
“Ketika sebuah teks ditandatangani oleh pejabat tertinggi kedua negara, pelanggaran terhadapnya tentu akan membawa konsekuensi yang lebih besar,” ujarnya.
Baghaei menjelaskan bahwa memorandum tersebut menetapkan kerangka dasar untuk mengakhiri konflik sekaligus membuka jalan bagi perundingan menuju kesepakatan final.
Lebanon Menjadi Bagian Penting Kesepakatan
Menurut Baghaei, Lebanon menempati posisi penting dalam memorandum tersebut dan disebutkan sebanyak tiga kali dalam teks kesepakatan.
Ia menjelaskan bahwa pasal-pasal awal berfokus pada penghentian operasi militer di seluruh front, termasuk Lebanon, sembari menegaskan penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah negara tersebut.
Baghaei mengatakan penyebutan Lebanon secara berulang mencerminkan sikap Iran bahwa setiap pengaturan gencatan senjata harus mencakup penghentian agresi terhadap Lebanon, bukan hanya Iran.
Ia menegaskan bahwa berlanjutnya serangan atau pendudukan Israel di wilayah Lebanon tidak sejalan dengan komitmen yang tercantum dalam memorandum.
“Kami tidak memisahkan Amerika Serikat dari rezim Zionis. Tanggung jawab Amerika adalah memastikan bahwa komitmen yang tercermin dalam dokumen ini dihormati,” katanya.
Menurut Baghaei, setiap kelanjutan agresi Israel terhadap Lebanon merupakan pelanggaran terhadap kewajiban yang telah disepakati pihak lawan.
Jalan 60 Hari Menuju Kesepakatan Final
Meski memorandum telah menetapkan prinsip-prinsip umum, Baghaei mengatakan bahwa perundingan rinci masih berada di depan.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, Iran dan Amerika Serikat berkomitmen melanjutkan negosiasi selama maksimal 60 hari guna mencapai penyelesaian final, dengan pembicaraan diperkirakan dimulai segera.
Perundingan mendatang akan membahas pencabutan sanksi dan isu nuklir, termasuk pengayaan uranium serta stok material nuklir yang telah diperkaya.
Baghaei kembali menegaskan bahwa posisi Teheran terkait uranium yang diperkaya tidak berubah.
“Sejak awal kami telah mengatakan bahwa material nuklir yang telah diperkaya tidak akan dipindahkan ke luar Iran,” tegasnya.
Menurutnya, pengenceran tingkat pengayaan (downblending) dapat dibahas sebagai salah satu opsi, tetapi ekspor uranium yang telah diperkaya tetap tidak dapat diterima.
Ia menambahkan bahwa seluruh pembahasan di masa mendatang akan berlangsung dalam kerangka yang telah ditetapkan oleh memorandum.
Pembatasan Maritim dan Selat Hormuz
Salah satu ketentuan utama dalam kesepakatan tersebut berkaitan dengan akses maritim dan penghapusan pembatasan terhadap pelayaran Iran.
Baghaei mengatakan Washington telah berkomitmen untuk mengakhiri apa yang disebut Iran sebagai blokade maritim dalam waktu 30 hari. Namun menurutnya, implementasi komitmen tersebut sebenarnya telah mulai berjalan.
Ia menjelaskan bahwa kapal-kapal komersial Iran belakangan ini telah memasuki dan meninggalkan pelabuhan tanpa hambatan, yang menunjukkan bahwa perubahan di lapangan telah mulai terjadi.
“Pelaksanaan komitmen ini secara efektif telah dimulai,” ujarnya.
Terkait Selat Hormuz, Baghaei menjelaskan bahwa Iran bertanggung jawab memulihkan lalu lintas pelayaran normal dan menghilangkan hambatan yang mengganggu navigasi.
Ia menegaskan bahwa pengaturan masa depan mengenai layanan maritim dan pengelolaan jalur strategis tersebut akan dikoordinasikan terutama antara Iran dan Oman sebagai dua negara pesisir yang berbatasan langsung dengan selat tersebut.
Menurutnya, negara-negara kawasan lainnya dapat diajak berkonsultasi jika diperlukan, tetapi keputusan mengenai pengelolaan selat tetap berlandaskan hak kedaulatan Iran dan Oman.
Akses terhadap Aset yang Dibekukan
Baghaei juga menyoroti ketentuan terkait aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri.
Ia mengatakan Amerika Serikat berkomitmen menghapus hambatan yang menghalangi akses Iran terhadap dana milik rakyat Iran.
Menurutnya, pembahasan yang cukup luas telah dilakukan mengenai mekanisme praktis yang memungkinkan Teheran memperoleh akses tanpa batas terhadap aset tersebut.
“Bagi kami, yang penting adalah akses bebas terhadap aset yang menjadi milik bangsa Iran,” katanya.
Baghaei menambahkan bahwa cara Washington memenuhi komitmen tersebut bukanlah hal utama; yang terpenting adalah komitmen itu sendiri dilaksanakan.
Ia juga mengingatkan bahwa para perunding Iran mendekati isu ini dengan penuh kehati-hatian mengingat pengalaman sebelumnya ketika Amerika gagal memenuhi komitmennya terkait aset Iran.
Pencabutan Sanksi dan Pemulihan Ekonomi
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran itu mengatakan pencabutan sanksi akan menjadi salah satu isu utama dalam tahap perundingan berikutnya.
Menurut Baghaei, Amerika Serikat telah berkomitmen untuk mencabut seluruh kategori sanksi, termasuk sanksi sepihak, sanksi sekunder, dan pembatasan yang terkait dengan lembaga-lembaga internasional, sesuai jadwal yang akan disepakati kedua pihak.
Ia menekankan bahwa keberhasilan pencabutan sanksi harus diukur berdasarkan hasil nyata, bukan sekadar pernyataan politik.
“Iran harus dapat menjual minyaknya, mengangkutnya, mengasuransikannya, dan menerima pendapatan dari penjualan tersebut,” katanya.
Baghaei menyatakan bahwa proses penghapusan sanksi terkait sektor minyak telah dimulai dan akan terus berlanjut selama masa negosiasi.
Ia juga mengungkapkan bahwa sejumlah isu lain di luar isi memorandum turut dibahas, termasuk pencabutan sanksi, akses terhadap aset yang dibekukan, serta berbagai langkah rekonstruksi dan pemulihan ekonomi pascaperang.
Prinsip Timbal Balik Tetap Menjadi Dasar
Sepanjang wawancara, Baghaei berulang kali menegaskan bahwa implementasi memorandum akan didasarkan pada prinsip timbal balik.
Menurutnya, Iran hanya akan menjalankan kewajibannya apabila Amerika Serikat juga melaksanakan kewajibannya.
“Jika Amerika menunda pelaksanaan komitmennya, kami juga akan menunda,” katanya.
“Tanpa kelonggaran apa pun, kami akan memantau implementasi kesepakatan. Kami hanya akan menjalankan kewajiban kami apabila pihak lain juga menjalankan kewajibannya.”
Baghaei menyebut prinsip timbal balik dan pemantauan berkelanjutan sebagai jaminan utama untuk memastikan kepatuhan terhadap kesepakatan.
Ia juga menegaskan bahwa upaya Iran untuk menuntut pertanggungjawaban atas apa yang disebutnya sebagai kejahatan terhadap rakyat Iran akan terus berlanjut di luar kerangka memorandum.
Menurutnya, Teheran akan terus menggunakan lembaga internasional, mekanisme hukum, dan jalur diplomatik untuk mendokumentasikan serta menindaklanjuti kasus-kasus tersebut.
Ditandatangani dalam Bahasa Persia dan Inggris
Baghaei mengungkapkan bahwa Iran bersikeras agar memorandum ditandatangani dalam bahasa Persia dan bahasa Inggris.
Menurutnya, format dua bahasa tersebut merupakan bagian penting dari transparansi, dan kedua versi memiliki kekuatan hukum yang sama.
“Jika teks hanya tersedia dalam bahasa Inggris, berbagai penafsiran bisa muncul melalui proses penerjemahan,” katanya.
“Teks bahasa Persia sepenuhnya konsisten dengan teks bahasa Inggris dan memiliki otoritas yang sama.”
Jaminannya Adalah Kekuatan Iran
Meski memorandum telah ditandatangani, Baghaei menegaskan bahwa kepercayaan Iran tidak bertumpu pada dokumen tersebut semata.
Ia mengatakan jaminan utama di balik kesepakatan itu adalah kekuatan nasional Iran, persatuan rakyat, dan kemampuan negara untuk merespons setiap pelanggaran.
“Jaminan memorandum ini adalah kekuatan kami,” ujarnya.
Baghaei juga mengajak rakyat Iran untuk terus mendukung upaya diplomatik negara, dengan menegaskan bahwa melaksanakan sebuah kesepakatan sering kali lebih sulit daripada merundingkannya.
Pada saat yang sama, ia mengungkapkan bahwa pertemuan yang sebelumnya direncanakan berlangsung di Swiss untuk memulai tahap berikutnya dari perundingan kini tidak lagi pasti setelah memorandum ditandatangani langsung oleh kedua presiden.
“Singa yang Terluka Tetaplah Singa”
Saat berbicara mengenai konflik yang baru berlalu, Baghaei menolak anggapan bahwa perang telah melemahkan Iran.
“Musuh telah menyakiti kami, merenggut nyawa-nyawa berharga dari kami, dan melukai Iran. Namun singa yang terluka tetaplah seekor singa,” katanya.
Menurut Baghaei, konflik tersebut justru memperkuat Iran baik secara militer maupun diplomatik serta menunjukkan ketangguhan negara itu dalam menghadapi tekanan.
Ia berpendapat bahwa Iran berhasil menghadapi dua kekuatan bersenjata nuklir beserta para sekutunya tanpa kehilangan posisi strategisnya.
“Iran sebagai negara adidaya bukanlah sebuah slogan,” kata Baghaei.
“Kami mengalahkan dua kekuatan nuklir.”
Baghaei menutup pernyataannya dengan mengatakan bahwa kesepakatan ini bukanlah akhir dari perjuangan Iran, melainkan awal dari fase baru yang akan ditentukan oleh implementasi, kewaspadaan, dan kelanjutan perundingan di masa mendatang. (PW)


