Baghaei: Uranium Iran Tak Akan Dipindahkan ke Mana Pun dalam Kondisi Apa Pun
Teheran menolak klaim pemindahan uranium, menegaskan kendali atas Hormuz, dan menetapkan garis merah tegas dalam negosiasi di tengah pernyataan AS yang saling bertentangan.
Iran, FAKTAGLOBAL.COM — Esmail Baghaei menyatakan bahwa uranium yang diperkaya Iran tidak akan dipindahkan ke mana pun dalam kondisi apa pun, menegaskan kembali posisi tegas Teheran terkait aset nuklir dan kerangka negosiasinya.
Ia mengatakan bahwa pemindahan uranium ke Amerika Serikat tidak pernah menjadi opsi, seraya menekankan bahwa sebagaimana tanah Iran bersifat suci, uranium yang diperkayanya juga memiliki status yang sama.
Baghaei menegaskan bahwa tidak ada ambiguitas dalam posisi negosiasi Iran, seraya mencatat bahwa Teheran telah dengan jelas menetapkan tuntutan dan kerangka yang diinginkannya.
Ia menambahkan bahwa Iran hanya akan menganggap sebuah kesepakatan mendekati tercapai jika kepentingan nasionalnya sepenuhnya terjamin, dengan menekankan bahwa pencabutan sanksi dan kompensasi atas kerugian tetap menjadi prioritas utama.
Kendali Hormuz dan Penegakan Gencatan Senjata
Baghaei lebih lanjut menegaskan bahwa pembukaan atau penutupan Selat Hormuz tidak ditentukan oleh narasi di ruang virtual, melainkan berada di bawah otoritas penentu Iran.
Setelah gencatan senjata, Iran mengumumkan bahwa jalur bagi kapal non-militer melalui Selat tersebut diizinkan dalam kondisi tertentu dan berada di bawah pengawasan otoritas terkait.
Ia memperingatkan bahwa setiap upaya yang disebut sebagai blokade laut akan dihadapi dengan respons yang sesuai, seraya menekankan bahwa tindakan semacam itu merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata dan akan memicu langkah balasan yang diperlukan.
Lavrov: Hak Iran untuk Memperkaya Uranium Tidak Dapat Disangkal
Dalam perkembangan terpisah, Sergey Lavrov pada Rabu menyatakan bahwa hak Iran untuk memperkaya uranium tidak dapat disangkal, memperkuat posisi Teheran di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Berbicara setelah kunjungan ke China, Lavrov menggambarkan situasi di West Asia sebagai krisis kompleks yang tidak dapat diselesaikan melalui kekuatan militer. Ia memperingatkan terhadap upaya memaksakan hasil, dengan menegaskan bahwa pendekatan semacam itu tidak akan berhasil.
Ia menambahkan bahwa para aktor regional menyadari bahwa eskalasi terbaru bersumber dari tindakan Amerika Serikat dan Israel, serta mencatat bahwa respons Iran—termasuk langkah-langkah terkait Selat Hormuz—berkaitan langsung dengan perkembangan tersebut.
Lavrov menyatakan bahwa Rusia siap berperan dalam menyelesaikan isu terkait uranium yang diperkaya Iran dan menyampaikan harapannya agar Washington mengadopsi pendekatan yang lebih realistis dalam negosiasi.
Ia juga mencatat bahwa Rusia dan China dapat mendukung perundingan Iran–AS melalui berbagai kerangka, seraya menekankan bahwa jalur diplomatik harus terus berlanjut di Pakistan. (FG)


