Bayi Gaza Tewas Kedinginan Akibat Pengepungan Israel
Kematian yang sebenarnya dapat dicegah terus bertambah akibat blokade, kehancuran infrastruktur, dan pelanggaran gencatan senjata yang membuat warga terlantar tanpa perlindungan
Palestina | FAKTAGLOBAL.COM — Seorang bayi Palestina meninggal dunia akibat kedinginan di Jalur Gaza bagian selatan setelah terpapar suhu dingin ekstrem, sebuah konsekuensi langsung dari pengepungan Israel yang berkelanjutan, pengungsian massal, dan penghancuran sistematis terhadap infrastruktur sipil.
Tenaga medis di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis mengonfirmasi bahwa Aisha Ayesh al-Agha, bayi berusia 27 hari, meninggal pada hari Sabtu akibat paparan dingin yang parah. Keluarganya, seperti ratusan ribu warga lainnya, terpaksa hidup tanpa tempat berlindung yang layak di tengah musim dingin, menyusul serangan Israel dan blokade yang berkepanjangan.
Pejabat kesehatan menyatakan bahwa kematian tersebut sepenuhnya dapat dicegah.
Anak-Anak Meninggal Akibat Dingin di Tengah Pengepungan dan Pengungsian
Kematian al-Agha menambah jumlah anak Palestina yang meninggal akibat cuaca dingin ekstrem di Gaza selama musim dingin ini menjadi delapan orang, menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza.
Layanan pertahanan sipil dan ambulans memperingatkan bahwa penurunan suhu kini memperparah krisis kemanusiaan yang sudah bersifat katastrofik, dengan bayi, anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis menghadapi risiko akut yang terus meningkat.
Petugas darurat melaporkan banyak kasus hipotermia, menggigil hebat, penurunan fungsi pernapasan, serta turunnya suhu tubuh secara berbahaya, sementara keluarga-keluarga terjebak di tenda dan bangunan rusak yang tidak mampu melindungi dari cuaca musim dingin.
Para tenaga kesehatan memperingatkan bahwa lebih banyak kematian akan terjadi kecuali bahan tempat berlindung dan bantuan kemanusiaan diizinkan masuk ke Gaza tanpa hambatan.
Penghancuran Sistematis Infrastruktur Sipil
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza telah rusak atau hancur sejak dimulainya perang, menyebabkan sebagian besar penduduk mengalami pengungsian paksa.
Ratusan ribu warga Palestina kini tinggal di tenda, tempat penampungan darurat, atau rumah yang sebagian hancur—kondisi yang menurut lembaga kemanusiaan tidak layak untuk kelangsungan hidup manusia, terutama pada musim dingin.
Pejabat Palestina menegaskan bahwa situasi ini bukan akibat bencana alam, melainkan hasil dari kebijakan militer Israel yang disengaja, dengan dukungan politik dan militer dari Amerika Serikat.
“Israel” Melanggar Gencatan Senjata, Pembongkaran dan Tembakan Terus Berlanjut
Meski gencatan senjata yang diumumkan telah memasuki fase pertama pada 10 Oktober 2025, sumber-sumber Palestina melaporkan pelanggaran Israel yang terus berlangsung di seluruh Jalur Gaza.
Perjanjian tersebut mencakup komitmen eksplisit untuk membuka perlintasan dan mengizinkan masuknya jumlah yang telah disepakati dari makanan, pasokan medis, bahan bakar, serta material tempat berlindung ke Gaza—komitmen yang menurut otoritas Palestina gagal dipenuhi oleh “Israel.”
Pada Minggu pagi, pasukan pendudukan Israel melakukan operasi pembongkaran di Rafah, yang oleh sumber Palestina disebut sebagai pelanggaran lain terhadap gencatan senjata. Tindakan tersebut bertepatan dengan pengumuman utusan AS Steve Witkoff mengenai peluncuran fase kedua kesepakatan, menyoroti jurang antara deklarasi diplomatik dan realitas di lapangan.
Warga Sipil Menjadi Sasaran di Seluruh Gaza
Koresponden Al Mayadeen melaporkan bahwa dua warga Palestina, termasuk seorang anak, terluka akibat tembakan Israel di wilayah al-Mawasi, Khan Younis. Warga sipil lainnya juga terluka setelah penembakan Israel di dekat pasar mobil di kawasan al-Zaytoun, tenggara Kota Gaza.
Selama beberapa jam, pasukan pendudukan Israel melakukan operasi di berbagai wilayah Jalur Gaza, termasuk:
Pembongkaran bangunan permukiman di timur Khan Younis dan barat Rafah
Peledakan robot bermuatan bahan peledak di utara Beit Lahia
Tembakan langsung ke arah warga sipil di timur kamp pengungsi Bureij dan kembali di Beit Lahia
Sumber-sumber Palestina menegaskan bahwa warga sipil—bukan kombatan— berada di wilayah-wilayah yang menjadi sasaran.
Jumlah Korban Terus Meningkat
Sejak gencatan senjata diumumkan, hingga 17 Januari 2025, otoritas kesehatan Palestina melaporkan:
464 warga Palestina tewas
1.275 orang terluka
712 jasad syuhada berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan
Total korban tewas akibat perang “Israel” di Gaza kini mencapai 71.548 orang, dengan 171.353 orang terluka, menurut data resmi.
Pejabat Palestina dan kelompok hak asasi manusia menyatakan bahwa kematian bayi akibat paparan dingin menyingkap konsekuensi kriminal dari perang pengepungan, hukuman kolektif, dan kegagalan komunitas internasional—yang dipimpin Amerika Serikat—untuk meminta pertanggungjawaban “Israel.”
Bagi anak-anak Gaza, musim dingin telah berubah menjadi senjata lain. (FG)



