Bela Trump, Kepala NATO Minta Eropa Bahagia Meski Ditekan dan Dipaksa AS
Sekretaris Jenderal NATO memuji tekanan AS terhadap Eropa, meremehkan krisis Greenland, dan membenarkan perundungan ekonomi serta militer Trump
Eropa | FAKTAGLOBAL.COM — Negara-negara Eropa seharusnya merasa “bahagia” karena Donald Trump menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, kata Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte pada Rabu, seraya secara terbuka membela tekanan koersif Washington terhadap benua tersebut dan memuji Trump karena memaksa Eropa melakukan militerisasi sesuai tuntutan AS.
Berbicara di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Rutte menepis kekhawatiran terkait dorongan agresif Trump untuk menguasai Greenland dan menolak kritik bahwa dirinya bersikap tunduk kepada presiden AS tersebut. Sebaliknya, ia membingkai ancaman dan tekanan Amerika Serikat sebagai “koreksi yang diperlukan” bagi Eropa.
“Saya tidak populer di mata Anda sekarang karena saya membela Donald Trump, tetapi saya benar-benar percaya Anda bisa bahagia karena dia ada di sana,” kata Rutte, seraya berargumen bahwa Trump telah memaksa Eropa untuk “lebih bertanggung jawab atas pertahanannya sendiri.”
Rutte Membela Tekanan Trump Saat Eropa Dipaksa Bermiliterisasi
Rutte mengklaim bahwa tanpa tekanan Trump, ekonomi-ekonomi besar Eropa seperti Spanyol, Italia, dan Prancis tidak akan pernah menyetujui peningkatan belanja militer hingga mencapai target lama NATO sebesar 2 persen dari PDB. Ia menggambarkan perubahan ini sebagai Eropa yang dipaksa untuk “dewasa” di dunia pasca-Perang Dingin.
“Tanpa Donald Trump ini tidak akan pernah terjadi. Mereka semua sekarang sudah berada di angka 2 persen,” ujar Rutte.
NATO sejak itu bahkan meningkatkan tuntutannya lebih jauh lagi, dengan menyepakati target baru sebesar 5 persen dari PDB pada tahun 2035—kenaikan yang awalnya dituntut oleh Trump dan secara luas dipandang semakin menyelaraskan kebijakan pertahanan Eropa dengan prioritas strategis Amerika Serikat.
Pernyataan Rutte muncul di tengah kontroversi yang berkembang terkait komunikasi pribadinya dengan Trump, termasuk sebuah pesan bernada tunduk di mana ia berjanji akan membantu “mencari jalan ke depan” terkait Greenland. Pesan tersebut memicu kritik luas di Eropa, dengan anggota Parlemen Eropa asal Prancis, Nathalie Loiseau, menyebut Rutte sebagai “pegawai McDonald’s terbaik bulan ini” karena sanjungannya kepada presiden AS.
Sengketa Greenland Menyingkap Ketundukan NATO terhadap Paksaan AS
Sengketa mengenai Greenland—wilayah Arktik otonom milik Denmark—telah menyingkap keretakan mendalam di dalam NATO. Trump berulang kali mendorong penguasaan AS atas pulau tersebut, memicu perlawanan dari sejumlah sekutu Eropa.
Sebagai tanggapan, presiden AS itu mengancam tarif terhadap delapan negara anggota NATO di Eropa yang menentang langkah tersebut dan bahkan telah mengirim pasukan AS ke pulau itu. Meski eskalasi terus berlanjut, Rutte justru meremehkan krisis tersebut di Davos, bahkan ketika Trump pada hari Rabu mengklaim bahwa sebuah kerangka kesepakatan Greenland yang didukung NATO sedang dipertimbangkan.
Para pemimpin Eropa semakin sering memperingatkan bahwa perilaku Washington mencerminkan runtuhnya hubungan transatlantik secara lebih luas. Perdana Menteri Belgia Bart De Wever menyatakan bahwa Eropa kini harus memilih antara “harga diri” atau menjadi “budak yang menyedihkan,” seraya memperingatkan bahwa momen ini bisa menandai “akhir dari 80 tahun era Atlantisme.”
Pembelaan Rutte terhadap Trump menegaskan kenyataan yang kian menguat di dalam NATO: tekanan AS, ancaman ekonomi, dan leverage militer kini secara terbuka dikemas ulang sebagai kepemimpinan, sementara kedaulatan Eropa diperlakukan sebagai harga yang bisa dinegosiasikan demi tetap berada di bawah payung keamanan Washington. (FG)


