Bertemu Sinwar di Terowongan: Cerita Tentara Israel yang Pernah Ditawan
Mantan tawanan perang Israel mengungkap runtuhnya militer pada 7 Oktober dan pertemuan tak terduga dengan pemimpin Hamas yang gugur di dalam terowongan Gaza
Palestina | FAKTAGLOBAL.COM — Seorang tentara Israel yang ditangkap dalam Operasi Badai Al-Aqsa memberikan kesaksian rinci mengenai runtuhnya unit-unit militer Israel pada 7 Oktober 2023, sekaligus mengungkap pertemuan langka dan tak terduga dengan pemimpin Hamas yang gugur, Yahya Sinwar, di dalam jaringan terowongan Gaza.
Kesaksian tersebut disampaikan oleh Nimrod Cohen, tentara Israel yang fotonya—menampilkan dirinya diseret ke dalam penawanan oleh pejuang perlawanan Palestina—menjadi salah satu simbol paling ikonik dari kegagalan intelijen dan militer Tel Aviv pada hari operasi tersebut.
Runtuhnya Unit Militer Israel pada 7 Oktober
Dalam wawancara dengan surat kabar Israel Haaretz, Cohen menggambarkan jam-jam awal 7 Oktober, ketika ia ditempatkan di dekat perbatasan Gaza bersama awak tank dan tentara dari Brigade Golani.
Ia menyatakan bahwa para awak tank tertidur saat bertugas jaga dan terbangun mendadak oleh suara tembakan mortir. Tak lama kemudian, para pejuang perlawanan Palestina menerobos pagar perbatasan.
Cohen mengungkapkan bahwa tank yang ia tumpangi sudah berada dalam kondisi rusak. Ketika unit mencoba bergerak setelah peringatan, mesin mengalami panas berlebih dan tank tidak mampu melaju lebih dari 10 kilometer per jam—menjadikannya praktis tidak berguna dalam pertempuran.
Tank Lumpuh, Awak Dinetralkan
Menurut Cohen, setelah tank mengambil posisi, kendaraan itu terkena serangan rudal. Pecahan peluru melukai pengemudi tank, Shaked Dahan, hingga tak sadarkan diri. Upaya memutar kubah meriam dan membalas tembakan gagal karena sistem telah rusak akibat ledakan.
“Pada saat itu,” kata Cohen, “kami menyadari bahwa salah satu pejuang sudah berada di atas tank.”
Asap dengan cepat memenuhi kendaraan di tengah ledakan dan tembakan yang terus berlangsung. Sistem perlindungan kimia di dalam tank gagal berfungsi. Dua tentara keluar melalui palka. Cohen mencoba mengikuti, namun kembali masuk ke dalam, berusaha bernapas melalui sebuah pipa kecil, sebelum akhirnya menyadari—melalui kamera tank—bahwa para pejuang perlawanan telah sepenuhnya menguasai situasi.
Penangkapan dan Pemindahan ke Gaza
Cohen menjelaskan bahwa ia menghadapi dua pilihan: menarik senjata dan kemungkinan besar terbunuh, atau keluar tanpa senjata dengan harapan bisa selamat. Ia memilih opsi kedua.
“Saya ditarik keluar dengan paksa,” kenangnya. “Saya merasakan semacam kelegaan aneh karena akhirnya bisa menghirup udara segar setelah keluar dari tank yang penuh asap.”
Ia mengatakan seorang tentara lain tergeletak berdarah di dekatnya, dan tampaknya ia adalah satu-satunya yang ditangkap hidup-hidup.
Cohen kemudian dibawa dengan kendaraan ke Gaza, di mana para pejuang Brigade Izz ad-Din al-Qassam merobek seragamnya, memborgolnya, dan memindahkannya ke dalam sebuah terowongan bawah tanah. Di sana, ia bertemu dengan tawanan Israel lainnya dan secara bertahap memahami skala peristiwa yang telah terjadi.
Pertemuan Tak Terduga dengan Yahya Sinwar
Cohen mengungkapkan bahwa pada tahap awal negosiasi pertukaran tawanan, Yahya Sinwar secara tak terduga memasuki terowongan tempat ia dan tawanan lainnya ditahan.
“Saya tidak langsung mengenalinya,” kata Cohen, “tetapi saya memahami bahwa dia adalah sosok penting karena datang bersama banyak orang.”
Sinwar dilaporkan duduk bersama para tawanan sekitar sepuluh menit dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus menunggu sebelum dapat kembali ke rumah.
“Ia tampak karismatik dan sopan,” ujar Cohen. “Ia tidak menyerupai gambaran seorang ‘pemimpin teroris’ seperti yang biasa dibayangkan.”
Serangan Udara Israel Menjadi Ancaman Terbesar
Cohen menekankan bahwa selama penawanan, para tawanan Israel hidup dalam ketakutan terus-menerus—bukan terutama terhadap pejuang Hamas, melainkan terhadap serangan udara Israel yang tanpa henti.
Ia mengatakan para tawanan menerima informasi terbatas mengenai negosiasi, namun ancaman terbesar terhadap nyawa mereka berasal dari pemboman berat dan berkelanjutan oleh militer Israel, yang berulang kali membahayakan terowongan dan membuat kelangsungan hidup terasa tidak pasti setiap saat.
Kesaksian atas Kegagalan Sistemik
Kesaksian Cohen menambah bukti atas kegagalan militer, intelijen, dan komando Israel yang mendalam pada 7 Oktober—kegagalan yang terus diredam oleh pemerintah-pemerintah Barat sembari tetap memberikan dukungan politik dan militer tanpa syarat kepada Tel Aviv.
Pada saat yang sama, kesaksiannya menantang narasi Barat yang selama ini menggambarkan para pemimpin perlawanan Palestina semata-mata melalui karikatur dehumanisasi, dan justru menyingkap realitas yang dibentuk oleh disiplin, kendali, dan perhitungan strategis di tengah perang. (FG)


