Berterima Kasih ke Iran dan Poros Perlawanan, Nakhaleh: Kami Masih di Medan Laga
“Kami keluar dari pertempuran ini dengan senjata di tangan, para pejuang kami masih di medan, dan rakyat kami menegakkan kepala mereka dengan penuh kehormatan dan kebanggaan,”ujar Nakhaleh.
Palestina, FAKTAGLOBAL.COM — Sekretaris Jenderal Jihad Islam Palestina, Ziyad Nakhaleh, menegaskan kembali bahwa perlawanan tetap berada di medan tempur, sepenuhnya bersenjata dan tak tergoyahkan, setelah dua tahun agresi brutal terhadap Gaza yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan sekutunya demi mendukung entitas Zionis.
Berbicara dalam Konferensi Nasional Arab ke-34 di Beirut, Nakhaleh menyatakan bahwa rakyat Palestina telah keluar dari pertempuran bersejarah — sarat penderitaan dan kehilangan, namun tetap tegak, bermartabat, dan menang.
“Kami keluar dari pertempuran ini dengan senjata di tangan, para pejuang kami masih di medan, dan rakyat kami menegakkan kepala mereka dengan penuh kehormatan dan kebanggaan,”
ujar Nakhaleh.
Ia menekankan bahwa keteguhan rakyat Palestina dan keberanian para pejuang telah memaksa pihak pendudukan dan komunitas internasional untuk menerima perjanjian gencatan senjata.
Gaza Hadapi Koalisi Global yang Dipimpin Washington
Nakhaleh mengungkapkan bahwa perang Zionis terhadap Gaza bukan sekadar kampanye militer Israel, melainkan koalisi internasional berskala penuh yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dengan dukungan dan keterlibatan sekutu-sekutunya di Barat dan kawasan.
“Gaza bertempur selama dua tahun melawan kekuatan militer paling buas di dunia — koalisi internasional yang dipimpin oleh AS dan sekutunya. Sejak hari pertama agresi, mereka berdiri di belakang Israel,”
katanya.
Ia memuji persatuan faksi-faksi perlawanan — termasuk Saraya al-Quds, Brigade al-Qassam, dan seluruh kekuatan perlawanan — yang bertempur “dengan satu tangan, satu suara, dan satu sikap” baik di medan pertempuran maupun di arena politik.
“Tanpa persatuan ini, kami tidak akan mampu bertahan bahkan selama satu bulan,” tegas Nakhaleh.
Rencana Gencatan Senjata AS Dirancang untuk Menyelamatkan Israel
Nakhaleh menegaskan bahwa dorongan Washington untuk mencapai gencatan senjata tidak dilandasi kepedulian kemanusiaan, melainkan oleh kehancuran posisi militer Israel dan meningkatnya isolasi global Amerika.
“Setelah dua tahun perang, AS menyadari bahwa melanjutkan agresi hanya akan menjerumuskan entitas Zionis ke dalam kebuntuan besar di medan tempur dan mencekiknya dalam isolasi internasional,”
jelasnya.“Inisiatif Amerika datang untuk menghentikan akibat dari perang yang gagal dan untuk membantu Washington merebut kembali kendali atas panggung regional dan internasional.”
Ia menjelaskan bahwa apa yang disebut sebagai Rencana Trump untuk menghentikan agresi sebenarnya ditujukan untuk memulihkan citra Israel dan memberi kesempatan bagi AS untuk menegaskan kembali dominasinya, bukan untuk mencapai keadilan atau perdamaian sejati.
“Israel menerima rencana Trump karena tidak dapat menolaknya — mereka membutuhkan jalan keluar dari kebuntuan militer, tekanan internal, dan kerugian besar pasukannya,” kata Nakhaleh.
Perlawanan Tidak Akan Meletakkan Senjata
Nakhaleh memperingatkan bahwa Israel terus berupaya melucuti Gaza dan menghancurkan perlawanan, berusaha mencapai secara politik apa yang gagal dicapai melalui perang.
Ia bersumpah bahwa perlawanan tidak akan pernah menyerah atau meletakkan senjatanya, menegaskan bahwa tantangan mendatang menuntut persatuan dan kewaspadaan.
“Kami masih berada di medan tempur, senjata kami tetap di tangan, dan kami akan melakukan segala yang mungkin untuk melindungi rakyat kami dari agresi baru, sambil menjaga perlawanan dan pencapaian politik rakyat kami,” tegasnya.
Apresiasi kepada Sekutu Poros Perlawanan
Dalam pernyataan penutupnya, Nakhaleh menyampaikan terima kasih kepada Iran, Lebanon, Yaman, Mesir, dan Qatar atas dukungan mereka yang konsisten dalam menghadapi agresi Israel, menyebut mereka sebagai pilar-pilar front regional yang membela kaum tertindas.
“Kepada mereka yang berdiri bersama kami — saudara-saudara kami di Lebanon, Yaman, dan Iran — serta kepada seluruh bangsa bebas di dunia dan umat kami: kami menyampaikan salam hormat,”
ujarnya.“Kita adalah bangsa yang menjadi target, suka atau tidak, dan tidak ada yang dapat melindungi kita kecuali jihad dan perlawanan — bukan penyerahan diri.”
Ia menutup pidatonya dengan pesan perlawanan dan keyakinan:
“Kemuliaan bagi para syuhada rakyat kami dan umat kami, dan kemenangan adalah milik kami, insya Allah — entah waktu itu panjang atau singkat.” (FG)


