Berusaha Tekan Iran, 16 Kapal Perang dan 40.000 Tentara AS Dikerahkan ke Asia Barat
Washington menghimpun kekuatan laut, udara, dan darat dalam skala besar sementara Trump mempertimbangkan diplomasi atau aksi militer terhadap Iran
Asia Barat | FAKTAGLOBAL.COM — Amerika Serikat telah memperluas pengerahan militernya di Asia Barat dengan mengerahkan 16 kapal perang, sekitar 40.000 personel militer, dan setidaknya tujuh sayap udara, menurut laporan yang diterbitkan oleh Financial Times.
Laporan tersebut menguraikan konsentrasi luas kekuatan laut, udara, dan darat AS di kawasan tersebut, seiring terus meningkatnya ketegangan antara Washington dan Iran.
Menurut Financial Times, pengerahan saat ini merupakan salah satu konsentrasi kekuatan militer AS terbesar di Asia Barat dalam beberapa tahun terakhir.
Peningkatan ini mencakup penguatan kehadiran angkatan laut, peningkatan kemampuan udara, serta perluasan penempatan pasukan di berbagai pangkalan regional.
Pejabat AS mengaitkan postur militer tersebut dengan ketegangan yang sedang berlangsung terkait program nuklir Iran, sementara Teheran berulang kali menyatakan bahwa pihaknya tidak mencari senjata nuklir.
Pengerahan Angkatan Laut dan Kapal Induk
Komponen angkatan laut dari kehadiran AS kini berjumlah 16 kapal perang, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menggambarkan pengerahan ini sebagai sebuah “armada besar,” dengan menyatakan bahwa kekuatan angkatan laut tersebut diposisikan sebagai bagian dari kampanye tekanan Washington.
Masing-masing kapal induk tersebut menampung tambahan sayap udara, yang meningkatkan kemampuan AS untuk melaksanakan operasi udara berkelanjutan di kawasan.
Sebelum pengerahan terbaru ini, Amerika Serikat telah mempertahankan lima sayap udara, unit komando yang masing-masing terdiri dari sekitar 70 pesawat, yang ditempatkan di pangkalan-pangkalan di Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Penambahan dua sayap udara lagi di atas kapal induk yang dikerahkan semakin memperluas operasi udara dan kapasitas serangan AS di Asia Barat.
Kehadiran Pasukan AS Mencapai 40.000 Personel
Kehadiran militer AS secara keseluruhan di kawasan tersebut kini mencapai sekitar 40.000 personel, termasuk awak angkatan laut, unit angkatan udara, pasukan darat, serta elemen pendukung komando dan logistik.
Skala pengerahan ini menunjukkan kesiapan untuk operasi jangka panjang, bukan sekadar sinyal jangka pendek, menurut penilaian Financial Times.
Pangkalan Udara di Yordania dan Teluk Diperkuat
Mengutip data dari Universitas Tel Aviv, Financial Times melaporkan peningkatan aktivitas di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.
Pangkalan tersebut dilaporkan menampung setidaknya 66 pesawat tempur, termasuk 18 F-35, 17 F-15, dan delapan A-10, serta pesawat peperangan elektronik dan pesawat angkut.
Citra satelit juga menunjukkan peningkatan pengerahan jet tempur di sebuah pangkalan udara Arab Saudi, yang mencerminkan perluasan infrastruktur udara AS di kawasan Teluk.
Eskalasi Tanpa Tujuan Strategis yang Jelas
Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa ia akan memutuskan dalam 10 hingga 15 hari apakah akan menempuh jalur diplomasi dengan Iran atau mengesahkan aksi militer, menurut Axios.
Berbicara dalam sebuah pertemuan di Washington, Trump mengatakan bahwa kebijakan AS akan diperjelas dalam beberapa hari ke depan, seraya menambahkan bahwa kesepakatan yang dinegosiasikan dengan Iran masih memungkinkan.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah berlanjutnya peningkatan kekuatan militer AS di Asia Barat.
Meski skala pengerahan sangat besar, para pejabat yang dikutip oleh Reuters mengatakan bahwa tidak ada dukungan yang bulat di dalam pemerintahan AS untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Menurut laporan tersebut, sejumlah penasihat telah menyuarakan kekhawatiran terkait risiko eskalasi, dampak regional, serta implikasi politik domestik dari aksi militer, terutama karena isu-isu ekonomi tetap menjadi fokus utama pemilih AS.
Iran secara konsisten menyatakan bahwa pihaknya tidak mencari senjata nuklir dan telah memperingatkan bahwa setiap agresi militer akan dibalas dengan respons yang tegas.
Teheran menegaskan bahwa pengerahan kekuatan dan ancaman AS merusak stabilitas kawasan dan melanggar norma-norma internasional. (FG)


