Bom Hizbullah Hantui Pasukan Israel, Peralihan ke Taktik Gerilya Tingkatkan Tekanan
Hizbullah beralih ke perang gerilya dengan bom pinggir jalan menghantam pasukan Israel, sementara 2.184 operasi dalam 45 hari menunjukkan perlawanan berkelanjutan di tengah eskalasi
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM — Sebuah laporan berbahasa Ibrani menunjukkan bahwa Hizbullah telah beralih dari perang defensif konvensional menuju taktik gerilya dan operasi bergaya partisan—sebuah evolusi yang kini memberikan tekanan yang semakin besar terhadap pasukan Israel di Lebanon selatan.
Menurut laporan yang dikutip oleh Tasnim, ancaman bom pinggir jalan kembali muncul sebagai bahaya medan tempur yang terus-menerus, digambarkan sebagai “mimpi buruk yang terus membayangi pasukan kami,” mengingatkan pada pola yang terlihat pada dekade 1980-an dan 1990-an.
Perubahan taktik ini disebut telah membentuk ulang lingkungan operasional, dengan Hizbullah memanfaatkan medan secara maksimal. Geografi Lebanon yang terjal serta vegetasi yang lebat disebut sebagai faktor kunci yang memungkinkan penggunaan alat peledak improvisasi secara efektif.
Laporan tersebut mengakui bahwa senjata semacam itu menciptakan tantangan mematikan: bom pinggir jalan yang menargetkan kendaraan lapis baja dan unit infanteri membentuk “kombinasi yang mematikan,” sementara upaya untuk mendeteksi dan menetralkannya tetap sangat sulit.
Hizbullah: 2.184 Operasi dalam 45 Hari, Rata-rata 49 Per Hari
Realitas di medan tempur ini semakin diperkuat oleh data operasional Hizbullah sendiri. Hizbullah mengumumkan bahwa mereka telah melaksanakan 2.184 operasi militer antara 2 Maret hingga 16 April 2026, selama konfrontasi 45 hari dengan pasukan Israel.
Dalam sebuah pernyataan, gerakan tersebut menggambarkan kampanye itu sebagai upaya pertahanan berkelanjutan yang ditandai oleh “epos kepahlawanan yang belum pernah terjadi sebelumnya” di tengah agresi yang terus berlangsung.
Operasi-operasi tersebut mencakup keterlibatan langsung dengan pasukan Israel di wilayah Lebanon, serta serangan terhadap posisi militer, pangkalan, dan instalasi jauh di dalam wilayah Palestina yang diduduki.
Hizbullah menyatakan bahwa serangan mereka menjangkau hingga 160 kilometer ke dalam wilayah pendudukan dengan menggunakan kombinasi drone dan rudal.
Pernyataan itu menempatkan operasi-operasi tersebut sebagai respons terhadap serangan terhadap warga sipil serta penghancuran luas terhadap kawasan permukiman dan infrastruktur, seraya menegaskan bahwa tempo perlawanan tetap tinggi.
“Para pejuang kami melaksanakan operasi dengan rata-rata 49 per hari,” demikian disebutkan dalam pernyataan tersebut.
Meskipun Israel memiliki kemampuan militer yang besar, Hizbullah menegaskan bahwa kampanye tersebut gagal menekan aktivitas perlawanan: “Mesin pembunuh musuh tidak mampu menghentikan para pejuang kami atau menghentikan tugas mereka untuk membela Lebanon dan rakyatnya.”
Pernyataan itu ditutup dengan pesan kesiapsiagaan dan keteguhan berkelanjutan:
“Jari-jari kami tetap berada di pelatuk, dan kami siap menghadapi setiap pelanggaran—bendera perlawanan tidak akan pernah jatuh.” (FG)



