Cendekiawan dan Mantan Pejabat 30 Negara Dukung Syarat Tegas Iran untuk Akhiri Agresi
Lebih dari 170 tokoh dunia dari 30 negara mendukung syarat tegas Iran untuk mengakhiri agresi, termasuk jaminan keamanan, pembongkaran pangkalan militer AS, dan pertanggungjawaban internasional
Iran, FAKTAGLOBAL.COM - Koalisi internasional luas yang terdiri dari akademisi, mantan pejabat, diplomat, dan tokoh publik dari berbagai negara merilis sebuah surat terbuka yang menyatakan dukungan terhadap syarat-syarat yang ditetapkan Iran untuk mengakhiri agresi terhadap negara tersebut secara definitif.
Surat yang berjudul “A Declaration to the Conscience of Humanity” itu dirilis pada Hari Sabtu dan diajukan sebagai seruan kolektif yang ditandatangani oleh lebih dari 170 individu dari 30 negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, China, India, Iran, serta sejumlah negara lain di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin.
Dokumen tersebut muncul lebih dari 40 hari setelah Amerika Serikat dan rezim Israel memulai gelombang terbaru agresi tanpa provokasi terhadap Iran sejak 28 Februari 2026, yang menargetkan infrastruktur militer dan sipil melalui serangan mematikan dan destruktif.
Syarat Tegas untuk Mengakhiri Agresi
Para penandatangan menyatakan dukungan penuh terhadap syarat-syarat yang ditetapkan oleh Republik Islam Iran untuk mengakhiri agresi secara mengikat dan permanen, serta menegaskan bahwa syarat tersebut bersifat tidak dapat ditawar.
Mereka mengulang syarat-syarat tersebut, termasuk pemberian jaminan atas tidak terulangnya agresi, komitmen internasional yang mengikat untuk mencegah serangan di masa depan, serta pembongkaran segera seluruh instalasi militer Amerika Serikat di kawasan.
Para penandatangan juga menyerukan pengakuan resmi atas agresi, kecaman internasional terhadap para pelaku, serta pembayaran penuh ganti rugi atas korban jiwa dan kerusakan harta benda sebagaimana ditetapkan oleh Republik Islam.
Penghentian segera perang di seluruh front kawasan, pembentukan rezim hukum baru untuk Selat Hormuz yang mengakui kedaulatan Iran, serta penuntutan dan ekstradisi pelaku dalam media anti-Iran yang menghasut pertumpahan darah, juga termasuk dalam syarat yang diajukan Teheran.
Seruan Global Melawan Dominasi dan Intervensi
Dokumen tersebut juga menyerukan kecaman internasional terhadap pelanggaran hukum internasional serta mendesak masyarakat sipil, kalangan akademisi, dan institusi di seluruh dunia untuk mengambil tindakan terhadap sistem dominasi dan intervensi militer.
Para penandatangan menyoroti kepentingan Amerika Serikat dalam menguasai sumber daya Iran sebagai bagian dari kebijakan luar negeri yang bersifat intervensi dan ekspansionis.
Disebutkan bahwa kepentingan strategis terhadap Iran berkaitan dengan kekayaan sumber daya alamnya yang mencakup “lebih dari 7 persen kekayaan mineral dan energi dunia,” yang menjadikan negara tersebut sebagai “batas terakhir untuk penjarahan.”
Kritik Tajam terhadap Kepemimpinan AS dan Donald Trump
Para penandatangan mengkritik kepemimpinan politik saat ini di Amerika Serikat, dengan menyatakan bahwa “keruntuhan moral Barat menemukan perwujudannya dalam sosok menyedihkan Tuan Trump,” yang di bawah perintahnya Amerika Serikat turut bergabung dengan rezim Israel dalam agresi tersebut.
Dokumen tersebut menekankan bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat, termasuk di bawah kepemimpinan Trump, dicirikan oleh slogan “segalanya untuk kami, tidak ada untuk yang lain.”
Rekam Jejak Kekerasan AS Disorot
Surat itu menggambarkan Amerika Serikat sebagai “kekaisaran predator yang dibangun di atas jasad bangsa-bangsa.”
Dokumen tersebut merujuk pada sejarah panjang intervensi mematikan Amerika Serikat, dengan menyatakan bahwa selama 249 tahun sejak berdirinya pada 1776, negara tersebut telah membangun catatan kekejaman yang mencerminkan era paling gelap dalam sejarah manusia.
Disebutkan berbagai perang dan konflik yang melibatkan Amerika Serikat, termasuk di Vietnam, Kamboja, Korea, Irak, Libya, Suriah, dan Afghanistan.
“Dari horor genosida di Vietnam dengan lebih dari 3 juta korban tewas; hingga kehancuran Kamboja di mana 2 juta orang tewas di bawah teror yang didukung AS; hingga pembantaian sistematis terhadap rakyat Korea dengan lebih dari 4 juta korban jiwa; hingga kehancuran Irak, Libya, Suriah, dan Afghanistan, di mana satu juta warga Irak dan puluhan ribu warga Libya menjadi korban serangan AS.”
Namun demikian, dokumen tersebut menegaskan bahwa “kekuatan predator,” yang disebut sebagai “bayangan yang kini menghantui nurani kemanusiaan,” tidak akan lagi dibiarkan tanpa perlawanan. (PW)


