China Dukung Kedaulatan Kuba di Tengah Eskalasi Tekanan AS
Beijing Tegaskan Dukungan terhadap Penolakan Campur Tangan Eksternal di Tengah Memburuknya Ketegangan AS–Kuba
China | FAKTAGLOBAL.COM — China secara terbuka kembali menegaskan dukungannya terhadap kedaulatan dan keamanan Kuba di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik antara Havana dan Washington, dengan menekankan penolakan terhadap campur tangan eksternal dan paksaan asing.
Pernyataan dukungan kuat tersebut disampaikan bertepatan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez Parrilla, ke Beijing, di mana ia menggelar pembicaraan dengan Wang Yi, diplomat tertinggi China.
Beijing: Dukungan Tegas bagi Kemerdekaan Kuba
Sikap China ditegaskan melalui pernyataan-pernyataan yang menyebut bahwa Beijing:
“dengan tegas mendukung Kuba dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasionalnya,”
“menentang campur tangan yang tidak beralasan dari kekuatan eksternal,”
serta menolak segala upaya untuk merampas hak rakyat Kuba atas kelangsungan hidup dan pembangunan,
sebagaimana disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri China.
Wang Yi juga menyatakan bahwa China siap memberikan bantuan kepada Kuba “semaksimal mungkin,” seraya menegaskan solidaritas diplomatik jangka panjang Beijing terhadap Havana.
Para pejabat Kuba menggambarkan hubungan kedua negara sebagai “khusus dan strategis,” yang mencerminkan ikatan sejarah yang mendalam antara sesama negara sosialis.
Tekanan AS yang Meningkat dan Dampak Regional
Dukungan China tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang belakangan ini mengambil langkah-langkah hukuman terhadap Kuba.
Dalam beberapa pekan terakhir:
Amerika Serikat telah mengambil langkah untuk menghambat pengiriman minyak ke Kuba, sebagai bagian dari kampanye tekanan ekonomi dan diplomatik yang lebih luas.
Kuba telah menyatakan “keadaan darurat internasional” sebagai respons atas tindakan AS, yang dinilai mengancam keamanan nasional dan kedaulatan negara.
Pemerintah-pemerintah kawasan, termasuk Meksiko, menolak tekanan AS untuk menghentikan pengiriman minyak ke Kuba, yang menegaskan meluasnya dampak diplomatik regional.
Ketegangan semakin meningkat setelah penahanan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat—sekutu lama Kuba—yang secara tegas dikecam oleh pemerintah Kuba.
Penolakan Kuba terhadap Tuduhan AS
Pimpinan Kuba menolak keras karakterisasi Washington yang menyebut pemerintah Kuba sebagai ancaman keamanan. Presiden Miguel Díaz-Canel kembali menegaskan bahwa Kuba bukan negara teroris dan tidak menimbulkan ancaman terhadap keamanan siapa pun, serta menyerukan dialog “tanpa tekanan dan tanpa prasyarat.”
Sementara Amerika Serikat terus meningkatkan retorika dan sanksi, Havana menegaskan bahwa kedaulatan dan kemerdekaannya tidak dapat ditawar, sembari mengecam apa yang disebutnya sebagai blokade yang bertujuan mencekik perekonomian pulau tersebut. (FG)


