China: Kritik terhadap Latihan Militer PLA di Sekitar Taiwan adalah Sikap “Munafik”
Beijing Menolak Pernyataan Jepang, Australia, dan Uni Eropa, Tegaskan Prinsip Satu China dan Peringatkan Soal Campur Tangan Eksternal
China, FAKTAGLOBAL.COM — China dengan tegas menolak kritik terhadap latihan militer terbaru People’s Liberation Army (PLA) yang dilakukan di sekitar Taiwan, dengan menyebut pernyataan Jepang, Australia, dan sejumlah negara Eropa sebagai “sangat munafik” serta melanggar komitmen politik mereka terhadap prinsip satu China.
Menurut Kementerian Luar Negeri China, Beijing telah menyampaikan apa yang disebutnya sebagai “protes keras” kepada Japan, Australia, institusi European Union, serta beberapa negara Eropa lainnya, setelah mereka secara terbuka menyatakan keprihatinan atas latihan militer PLA tersebut.
China Tolak Campur Tangan Eksternal, Soroti Ancaman Separatis
Berbicara dalam konferensi pers rutin pada Rabu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan bahwa Beijing menolak dengan tegas pernyataan yang dikeluarkan negara-negara tersebut.
Lin menuduh mereka mengabaikan aktivitas separatis yang dilakukan oleh apa yang disebut sebagai kelompok “kemerdekaan Taiwan”, sekaligus menutup mata terhadap campur tangan pihak luar dalam urusan internal China. Ia mengatakan negara-negara tersebut justru memilih mengkritik apa yang ia sebut sebagai langkah sah China untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan keutuhan wilayahnya.
“Posisi semacam ini sepenuhnya munafik,” ujar Lin.
Masalah Taiwan Merupakan Urusan Internal China
Lin kembali menegaskan bahwa Taiwan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah China, seraya menekankan bahwa persoalan Taiwan adalah urusan internal murni yang tidak boleh dicampuri pihak luar.
Ia menyatakan bahwa realitas fundamental di kedua sisi Selat Taiwan adalah bahwa keduanya merupakan bagian dari satu dan China yang sama, seraya menambahkan bahwa ancaman utama terhadap perdamaian dan stabilitas berasal dari aktivitas separatis serta dukungan yang mereka terima dari kekuatan eksternal.
Lin menekankan bahwa prinsip satu China merupakan konsensus internasional yang luas dan menjadi landasan utama hubungan internasional, sekaligus menjadi dasar politik bagi hubungan diplomatik China dengan 183 negara.
Ia mendesak Jepang, Australia, dan negara-negara Eropa untuk menghormati komitmen politik yang telah mereka buat saat menjalin hubungan diplomatik dengan Beijing, serta menghentikan tindakan apa pun yang dapat ditafsirkan sebagai pembenaran atau dukungan terhadap “kemerdekaan Taiwan”.
Taiwan Kecam Latihan PLA “Justice Mission 2025”
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Taiwan pada 29 Desember 2025 mengecam keras latihan militer berskala besar PLA yang direncanakan di sekitar pulau tersebut, dengan menyebutnya sebagai provokasi berbahaya.
Pernyataan itu disampaikan menyusul pengumuman dari Komando Teater Timur PLA yang menyatakan akan menggelar latihan tembak langsung dengan sandi “Justice Mission 2025” pada 30 Desember.
Menurut juru bicara komando tersebut, Shi Yi, latihan ini melibatkan pasukan darat, angkatan laut, angkatan udara, dan unit misil, dengan operasi yang berlangsung di Selat Taiwan serta wilayah di utara, barat daya, tenggara, dan timur Pulau Taiwan.
PLA juga merilis koordinat lima zona terbatas dan meminta seluruh pesawat serta kapal yang tidak terlibat agar menghindari wilayah tersebut selama latihan berlangsung.
China Peringatkan Penjualan Senjata AS ke Taiwan “Mempercepat” Ancaman Perang
Secara terpisah, Beijing memperingatkan bahwa penjualan senjata terbaru Amerika Serikat ke Taiwan mempercepat risiko perang di Selat Taiwan.
Awal bulan ini, United States mengumumkan paket penjualan senjata senilai US$11,1 miliar kepada Taiwan, yang oleh China disebut sebagai penjualan senjata terbesar yang pernah disetujui untuk pulau tersebut.
Juru bicara Kementerian Pertahanan China Zhang Xiaogang mengatakan bahwa Washington telah mengingkari komitmennya dengan meningkatkan penjualan senjata dan memperluas keterlibatan resmi dengan Taiwan.
Zhang menuduh Amerika Serikat mencampuri urusan internal China dan mengirimkan “sinyal yang sangat keliru” kepada kekuatan separatis, seraya memperingatkan bahwa langkah tersebut secara serius merusak perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.
Sebelumnya, pada 20 Desember, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun juga menyatakan bahwa transfer senjata AS ke Taipei merupakan bentuk campur tangan dalam urusan internal China dan merusak kedaulatan, keamanan, serta keutuhan wilayah China. (FG)



