China: Pelanggaran Israel Dorong Lebanon ke Jurang Krisis
Utusan China di PBB menyatakan bahwa pelanggaran yang terus dilakukan Israel telah membuat gencatan senjata yang rapuh praktis runtuh dan berisiko menyeret Lebanon ke dalam krisis yang lebih berbahaya
Lebanon, FAKTAGLOBAL.COM — China memperingatkan bahwa situasi di Lebanon berkembang dengan cepat ke arah yang semakin berbahaya menyusul meluasnya operasi militer Israel di wilayah Lebanon, yang memicu kekhawatiran akan terjadinya eskalasi regional yang lebih luas.
Berbicara dalam sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Senin, Perwakilan Tetap China untuk PBB, Fu Cong, mengatakan bahwa aktivitas militer Israel di wilayah Lebanon meningkat secara signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Fu mencatat bahwa pasukan Israel telah memperluas kehadiran militernya melampaui posisi-posisi yang sebelumnya telah mereka kuasai, dengan laporan yang menunjukkan bahwa pasukan pendudukan telah melintasi Sungai Litani dan bergerak menuju Benteng bersejarah al-Shaqif (Kastel Beaufort).
Menurut utusan China tersebut, pergerakan itu merupakan penetrasi militer Israel terdalam ke wilayah Lebanon dalam lebih dari dua dekade terakhir.
“Perluasan operasi darat yang terus berlanjut telah menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan masyarakat internasional,” kata Fu, seraya memperingatkan bahwa situasi dapat memasuki fase yang lebih berbahaya jika langkah-langkah mendesak tidak segera diambil.
China menegaskan bahwa gencatan senjata yang sudah rapuh antara Lebanon dan Israel pada praktiknya telah runtuh akibat operasi militer Israel yang terus berlangsung dan meningkatnya ketegangan regional.
Fu menyerukan penghentian segera seluruh aksi permusuhan serta mendesak masyarakat internasional untuk meningkatkan dukungan kepada Lebanon guna menjaga stabilitas, memperkuat peran Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), dan mencegah destabilisasi lebih lanjut di kawasan.
Pemimpin Eropa Kecam Eskalasi Israel
Peringatan China muncul ketika sejumlah pemimpin Eropa juga menyuarakan kekhawatiran terhadap semakin meluasnya operasi militer Israel di Lebanon selatan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan penghentian segera pertempuran dan menegaskan bahwa tidak ada alasan yang dapat membenarkan eskalasi besar yang saat ini terjadi di Lebanon selatan.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot meminta digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas situasi tersebut dan mencari langkah-langkah guna mencegah kemerosotan lebih lanjut.
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper juga mendesak Israel dan Hizbullah untuk mematuhi pengaturan gencatan senjata, sembari secara khusus mengkritik terus berlanjutnya penetrasi Israel ke wilayah Lebanon selatan.
Ia menyatakan bahwa serangan dan penetrasi lebih dalam yang dilakukan Israel telah menyebabkan korban sipil, pengungsian warga, kerusakan infrastruktur, serta melemahkan upaya diplomatik yang bertujuan memulihkan stabilitas.
Menteri Luar Negeri Jerman Joschann Wadephul turut menyampaikan kekhawatirannya, memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut hanya akan meningkatkan ketegangan dan memaksa lebih banyak warga sipil Lebanon meninggalkan rumah mereka.
Hizbullah: Pasukan Israel Gagal Menguasai Kastel Beaufort
Sementara itu, Hizbullah mengumumkan pada Senin bahwa pasukan pendudukan Israel sempat mencapai area sekitar Kastel Beaufort yang bersejarah dalam operasi yang dilakukan pada 30 Mei, namun gagal membangun kendali permanen atas wilayah tersebut.
Pasukan Israel melancarkan lebih dari lima hari berturut-turut serangan udara intensif dan bombardemen artileri yang menargetkan Yohmor al-Shaqif serta desa-desa di sekitarnya dalam upaya mereka untuk maju menuju benteng tersebut.
Pejuang Hizbullah terlibat dalam pertempuran sengit melawan pasukan Israel yang bergerak maju di selatan Yohmor al-Shaqif dan berhasil mencegah mereka mencapai tujuan yang telah direncanakan.
Hizbullah menyatakan bahwa militer Israel pada akhirnya terpaksa membatasi operasinya hanya pada sektor timur kawasan tersebut, di mana medan yang sulit dan kondisi geografis yang menantang membatasi pergerakan pasukan serta efektivitas operasi mereka.
Kelompok itu menegaskan bahwa meskipun Israel melancarkan bombardemen udara besar-besaran dan serangan darat secara intensif, pasukan pendudukan tetap gagal membangun pijakan permanen di sekitar benteng strategis yang mengawasi wilayah Lebanon selatan tersebut. (FG)


