Dari Teroris Global Jadi Tamu Washington: Bagaimana AS Ubah Citra Al-Jolani demi Agendanya
Pada tahun 2017, Washington menetapkan hadiah sebesar 10 juta dolar AS bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi untuk menangkap al-Jolani dan menempatkannya dalam daftar teroris internasional.
Suriah, FAKTAGLOBAL.COM — Kepala Pusat Kajian Strategis Lanjutan Shams, Dr. Mohammad Al-Sheikh, memaparkan analisis mendalam yang mengungkap transformasi berbahaya yang dijalankan oleh kebijakan Amerika Serikat di Suriah — terutama dalam proses “daur ulang” terhadap sosok teroris Abu Mohammad al-Jolani, yang diubah dari “buronan internasional” menjadi “tamu terhormat” di Washington.
Al-Sheikh menggambarkan langkah ini sebagai indikasi nyata dari hubungan fungsional antara kelompok bersenjata dengan musuh Israel di bawah pengawasan langsung administrasi Amerika.
Terorisme Didefinisikan Ulang demi Kepentingan Amerika–Israel
Berbicara kepada saluran Al-Masirah, Al-Sheikh menjelaskan bahwa definisi terorisme menurut Amerika tidak memiliki dasar hukum maupun moral, melainkan sepenuhnya bergantung pada tingkat hubungan dengan entitas Zionis.
Mereka yang menentang kepentingan Israel akan dicap sebagai teroris, sementara mereka yang melayaninya — secara langsung maupun tidak langsung — akan dihapus dari daftar tersebut.
Ia mengingatkan bahwa pada tahun 2017, Washington sempat menetapkan hadiah sebesar 10 juta dolar AS bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi untuk menangkap al-Jolani dan menempatkannya dalam daftar teroris internasional.
Namun, status itu berubah seketika setelah al-Jolani menguasai wilayah yang berdekatan dengan entitas Zionis sementara dan mulai menjalankan peran yang sejalan dengan kepentingannya.
Transformasi Al-Jolani Menjadi Mitra Politik AS
Al-Sheikh menegaskan bahwa al-Jolani, yang secara terbuka memusuhi Poros Perlawanan dan menyatakan dirinya “berada di parit yang sama dengan entitas Zionis sementara,” kini tidak lagi dipandang Washington sebagai teroris, melainkan sebagai alat yang tunduk pada kebijakan Amerika dan Zionis.
Ia menambahkan bahwa kunjungan al-Jolani ke Amerika Serikat bukan sekadar lawatan seremonial, tetapi langkah strategis dengan makna politik yang dalam.
Dalam video yang beredar, al-Jolani terlihat bersama anggota Koalisi Internasional pimpinan AS melawan ISIS di dalam lapangan bola basket — sebuah isyarat jelas bahwa Washington kini memperlakukannya sebagai mitra politik, bukan musuh.
Salah satu topik yang dilaporkan dibahas selama kunjungan tersebut adalah kemungkinan memasukkan Damaskus ke dalam apa yang disebut “Koalisi Internasional Melawan ISIS.” Al-Sheikh menyebut hal itu sebagai paradoks sejarah yang menyingkap kemunafikan kebijakan AS di Suriah.
“Perang Melawan Teror” sebagai Kedok Dominasi Regional
Al-Sheikh menegaskan bahwa organisasi yang disebut ISIS bukanlah ciptaan acak, melainkan proyek terencana Amerika — dimulai dari Abdullah Azzam, berlanjut ke Osama bin Laden, Ayman al-Zawahiri, hingga al-Jolani — yang semuanya berada dalam kerangka doktrin “kekacauan kreatif” untuk membentuk ulang kawasan.
Ia menekankan bahwa perang melawan ISIS hanyalah kedok untuk melancarkan perang terhadap kekuatan-kekuatan perlawanan sejati yang menghadapi entitas Zionis, termasuk Pasukan Mobilisasi Rakyat (PMF), Hizbullah, Ansarullah, dan Republik Islam Iran.
Menurut Al-Sheikh, koalisi internasional tidak pernah melancarkan serangan serius terhadap ISIS; sebaliknya, mereka menjatuhkan bantuan makanan dan medis melalui udara kepada kelompok takfiri setiap kali mereka terkepung oleh Pasukan Mobilisasi Rakyat atau Tentara Arab Suriah di gurun. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa perang yang diklaim terhadap ISIS hanyalah simbolis, sementara perang sesungguhnya diarahkan terhadap kekuatan perlawanan.
Ia juga mengungkapkan bahwa Washington berupaya memanfaatkan al-Jolani untuk memperluas kendali langsung di wilayah Suriah, sebagai langkah awal menuju pendirian pangkalan udara di Damaskus, dalam skenario yang mengingatkan pada pendudukan Amerika atas Irak dengan dalih memerangi terorisme.
Al-Sheikh menambahkan bahwa pergerakan Amerika di utara Suriah bertepatan dengan penetrasi Israel di selatan, di mana pasukan musuh terus memasuki wilayah pedesaan Quneitra bagian utara dan mendirikan pos pemeriksaan antara Samdaniyah Timur dan Khan Arnabah, sementara Washington tetap diam atas pelanggaran kedaulatan Suriah tersebut.
Proyek Amerika–Zionis untuk Menguasai Suriah
Dalam kesimpulannya, Dr. Al-Sheikh menegaskan bahwa perkembangan saat ini bukanlah perang melawan terorisme, melainkan reposisi geopolitik menyeluruh yang dirancang untuk melayani kepentingan musuh Israel.
Menurutnya, al-Jolani telah menjadi wajah baru proyek Amerika–Zionis untuk memperkuat cengkeraman atas Suriah, dan kenaikannya dari teroris menjadi mitra politik merupakan bukti nyata bahwa Washington tidak memerangi terorisme, melainkan mengelolanya dan memproduksinya kembali demi kepentingan sendiri serta kepentingan entitas Zionis sementara. (FG)
Sumber: Al-Masirah


