Dari Vonis Mati hingga Pencalonan Presiden: Siapa Saif al-Islam Gaddafi?
Dari penangkapan dan vonis mati hingga pencalonan presiden yang kontroversial, perjalanan Saif al-Islam Gaddafi pasca-2011 mencerminkan politik Libya yang terfragmentasi.
Libya, FAKTAGLOBAL.COM – Pada Selasa malam, media melaporkan pembunuhan Saif al-Islam Gaddafi, putra kedua mantan pemimpin Libya, Muammar Gaddafi.
Seorang sumber yang dekat dengan keluarga Gaddafi mengatakan kepada Al Arabiya bahwa Saif al-Islam dibunuh oleh empat orang penyerang di wilayah selatan Zintan, Libya barat. Menurut sumber tersebut, para penyerang melukai Saif al-Islam di taman kediamannya sebelum melarikan diri dari lokasi.
Brigade 444 yang berbasis di Tripoli dan berafiliasi dengan Pemerintah Persatuan Nasional Libya membantah keterlibatan apa pun, dan menyatakan tidak memiliki hubungan dengan bentrokan yang dilaporkan terjadi di Zintan.
Keluarga Gaddafi Pasca-2011
Muammar Gaddafi memiliki tujuh putra dan setidaknya dua putri.
Mohammed Gaddafi, putra tertua, menyerah pada saat jatuhnya Tripoli, sempat ditahan, kemudian dibebaskan dan menarik diri dari politik.
Saif al-Islam Gaddafi muncul sebagai figur politik paling menonjol di antara para putra Gaddafi.
Saadi Gaddafi, yang dikenal sebagai figur olahraga–militer, melarikan diri ke Niger, diekstradisi ke Libya, dipenjara, lalu kemudian dibebaskan.
Mutassim, Khamis, dan Saif al-Arab Gaddafi tewas dalam konflik tahun 2011.
Hannibal Gaddafi melarikan diri ke luar negeri dan sejak 2015 ditahan di Lebanon dalam kasus yang terkait dengan hilangnya Imam Musa al-Sadr.
Masa Kecil dan Pendidikan
Saif al-Islam Gaddafi lahir pada 25 Juni 1972 di Tripoli. Ia memperoleh gelar sarjana arsitektur dari Universitas Al-Fateh pada 1995, setelah itu ditugaskan oleh ayahnya untuk merancang sebuah proyek pembangunan besar yang mencakup hotel, masjid, dan unit perumahan.
Ia kemudian melanjutkan studi manajemen bisnis di Wina dan dilaporkan memperoleh kualifikasi dari International Business School. Pada 2008, ia meraih gelar doktor dari London School of Economics, yang merupakan bagian dari University of London.
Meski tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan, Saif al-Islam menjadi figur penting dalam struktur kekuasaan Libya, menangani sejumlah isu domestik sensitif dan terlibat dalam negosiasi eksternal sebelum 2011.
2011 dan Dampaknya
Pada 27 Juni 2010, Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Muammar Gaddafi, Saif al-Islam Gaddafi, dan Abdullah Senussi, dengan tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam penindasan terhadap aksi protes.
Setelah pasukan oposisi memasuki Tripoli pada Agustus 2011, Muammar Gaddafi ditangkap dan dibunuh pada Oktober.
Perburuan terhadap Saif al-Islam pun dimulai, di tengah laporan bahwa ia telah melarikan diri ke Niger. Dewan Transisi Nasional Libya kemudian mengumumkan penangkapannya di dekat Ubari pada November 2011.
Pada 2015, pengadilan di Tripoli menjatuhkan hukuman mati dengan regu tembak terhadapnya secara in absentia, setelah persidangan yang melibatkan puluhan pejabat rezim sebelumnya.
Putusan tersebut—yang kemudian dibatalkan—menyatakan ia bersalah atas kejahatan perang, termasuk pembunuhan para demonstran. Ia dibebaskan pada Juni 2017 dari penahanan di Zintan berdasarkan undang-undang amnesti umum.
Pencalonan Presiden dan Kebuntuan Politik
Pada 2021, Saif al-Islam secara resmi mendaftarkan diri sebagai kandidat dalam pemilihan presiden Libya. Para pendukung sistem lama memandang kembalinya ia sebagai potensi reset politik.
Namun, pemilu tersebut tidak pernah terlaksana akibat sengketa hukum terkait kelayakan kandidat, aturan pendaftaran, dan perpecahan politik yang mendalam. Saif al-Islam tetap berada di Zintan hingga laporan pembunuhannya.
Di luar politik, Saif al-Islam dikenal memiliki ketertarikan pada satwa liar, termasuk dilaporkan memelihara harimau dan menekuni olahraga berburu dengan elang di gurun Libya. Ia juga menekuni seni lukis sebagai pelukis amatir. (FG)




