Delapan Tahanan Gaza Dibebaskan dari Kamp Sde Teiman Israel dalam Kondisi Kritis
Mantan tahanan yang dibebaskan dari lokasi penahanan Sde Teiman milik Israel tiba di rumah sakit Gaza dengan tanda-tanda penyiksaan, kelaparan, dan kelalaian medis
Palestina | FAKTAGLOBAL.COM — Delapan tahanan Palestina dari Jalur Gaza dirawat pada Senin di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa setelah dibebaskan dari fasilitas penahanan Israel dalam kondisi kesehatan kritis, menurut sumber medis dan lapangan.
Para tahanan dipindahkan ke rumah sakit di Deir al-Balah setelah dibebaskan dari kamp penahanan Sde Teiman, dengan proses transportasi dikoordinasikan oleh Komite Internasional Palang Merah.
Staf medis mengatakan para pria tersebut segera dirawat untuk menjalani pemeriksaan setelah menunjukkan tanda-tanda kelelahan ekstrem, kekurangan gizi parah, serta kekerasan fisik dan psikologis.
Kesaksian Tahanan yang Dibebaskan Menggambarkan Penyiksaan Sistematis
Pihak rumah sakit mengidentifikasi para tahanan yang dibebaskan sebagai warga Tel al-Zaatar, Sheikh Zayed, Khan Younis, dan Beit Lahia, dengan rentang usia antara 31 hingga 49 tahun. Sejumlah di antaranya mengalami penurunan berat badan yang signifikan dan menunjukkan luka-luka yang konsisten dengan kekerasan berkepanjangan.
Dokter menyatakan kondisi para tahanan mencerminkan paparan jangka panjang terhadap lingkungan penahanan yang keras serta ketiadaan perawatan medis yang memadai.
Mantan tahanan dan para penyintas menggambarkan kondisi penahanan di Sde Teiman sebagai pelanggaran terhadap seluruh standar kemanusiaan. Kesaksian menyebut adanya kekerasan fisik sistematis, termasuk pemukulan berat, penggunaan anjing penyerang, kekerasan seksual, serta serangan yang menargetkan bagian tubuh sensitif.
Para tahanan mengatakan mereka dipaksa duduk dalam posisi menyiksa hingga 17 jam per hari, dilarang tidur, berbicara, atau mengangkat kepala, serta dikenai belenggu terus-menerus yang membatasi gerak.
Kelaparan, Penyakit, dan Kelalaian Medis
Para tahanan yang dibebaskan melaporkan adanya kebijakan kelaparan yang disengaja, dengan pemberian makanan dalam jumlah sangat minim dan berkualitas buruk, yang menyebabkan penurunan berat badan drastis.
Mereka juga menggambarkan meluasnya penyakit kulit, termasuk kudis, akibat kurangnya kebersihan, keterbatasan air, dan pembatasan penggantian pakaian—bahkan terkadang hanya diizinkan sekali dalam sebulan.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah mendokumentasikan kasus-kasus amputasi yang dialami tahanan akibat penggunaan belenggu logam yang ketat dalam waktu lama, serta kematian akibat penyiksaan atau penolakan perawatan medis.
Sde Teiman Disebut sebagai “Guantanamo Israel”
Organisasi hak asasi manusia internasional dan Palestina berulang kali menggambarkan Sde Teiman sebagai “Guantanamo Israel,” dengan merujuk pada laporan konsisten tentang penyiksaan, penghilangan paksa, dan kelalaian medis sistematis.
Pada 19 Februari 2026, Komite Perlindungan Jurnalis menerbitkan laporan berjudul “Kami Kembali dari Neraka,” yang mendokumentasikan kesaksian 59 jurnalis Palestina yang menyatakan mereka mengalami penyiksaan, kekerasan seksual, dan ancaman selama ditahan di kamp tersebut.
Komisi Urusan Tahanan Palestina menyebut Sde Teiman sebagai “kuburan bagi orang-orang hidup,” dan mengatakan bahwa otoritas Israel menggunakan apa yang disebut sebagai undang-undang “kombatan ilegal” untuk menahan para tahanan tanpa komunikasi dan menghalangi kunjungan rutin Palang Merah.
Seruan untuk Penuntutan Internasional
Kelompok-kelompok hak asasi manusia, termasuk Euro-Mediterranean Human Rights Monitor dan Al Mezan Center for Human Rights, menyerukan Mahkamah Pidana Internasional untuk memasukkan Sde Teiman dalam penyelidikan yang sedang berlangsung terkait kejahatan Israel di Gaza.
Skala dan konsistensi pelanggaran yang didokumentasikan di lokasi penahanan tersebut dinilai sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang menuntut pertanggungjawaban internasional segera. (FG)


