Delegasi Iran Tiba di Islamabad dengan “Itikad Baik Tanpa Kepercayaan”, Poros Perlawanan Tetapkan Syarat Tak Bisa Ditawar
Iran memasuki perundingan dari posisi kuat, menuntut gencatan senjata di Lebanon dan pencairan aset, serta memperingatkan bahwa penipuan AS akan memicu kembali serangan perlawanan.
Pakistan, FAKTAGLOBAL.COM — Delegasi perunding Iran yang dipimpin Mohammad Baqer Ghalibaf tiba di Islamabad dan segera menetapkan arah bagi kemungkinan pembicaraan dengan Amerika Serikat, dengan menegaskan bahwa Teheran memasuki negosiasi dengan itikad baik—namun tanpa kepercayaan.
Menanggapi pernyataan J. D. Vance, Ghalibaf menyatakan bahwa pengalaman Iran dengan Washington selama ini diwarnai oleh kegagalan berulang dan pelanggaran komitmen.
Ia menekankan bahwa bahkan dalam putaran negosiasi sebelumnya, meskipun Iran telah menunjukkan itikad baik, negara tersebut tetap menjadi sasaran serangan langsung dan berbagai tindakan yang tergolong kejahatan perang.
“Jika pihak Amerika siap untuk mencapai kesepakatan nyata dan memberikan hak-hak bangsa Iran, maka mereka juga akan melihat kesiapan dari pihak kami,” ujar Ghalibaf.
Pada saat yang sama, ia memperingatkan bahwa jika negosiasi dijadikan sebagai kedok untuk “pertunjukan tanpa hasil” atau bentuk penipuan, Iran sepenuhnya siap untuk mengamankan hak-haknya dengan bersandar pada iman dan kemampuan nasional.
Komposisi Delegasi dan Konteks Strategis
Delegasi Iran, yang digambarkan luas dan berlapis, mencakup perwakilan dari sektor keamanan, politik, militer, ekonomi, dan hukum—menunjukkan sifat komprehensif dari perundingan ini.
Di antara tokoh-tokoh utama yang mendampingi Ghalibaf adalah:
Abbas Araghchi
Ali Akbar Ahmadian
Abdolnaser Hemmati
Ali Bagheri Kani dan Kazem Gharibabadi, pejabat senior kebijakan luar negeri
Delegasi yang disebut sebagai “Minab 168” ini tiba di Islamabad dalam kerangka proses negosiasi potensial dengan pejabat Amerika, yang juga dilaporkan berada di ibu kota Pakistan, termasuk J. D. Vance bersama sejumlah tokoh Amerika lainnya.
Pembicaraan ini berlangsung setelah hampir 40 hari eskalasi dan konfrontasi, di mana Amerika Serikat dan sekutunya kemudian mengusulkan penghentian permusuhan.
Iran telah menerima kerangka gencatan senjata selama dua minggu, namun menegaskan bahwa kelanjutan ketenangan bergantung pada hasil nyata di lapangan.
Syarat Iran: Gencatan Senjata di Lebanon dan Pencairan Aset
Sebelum kedatangan delegasi, Ghalibaf telah secara terbuka menjelaskan posisi Teheran terkait dimulainya negosiasi.
Ia menegaskan bahwa dua langkah yang telah disepakati belum dilaksanakan dan harus dipenuhi sebelum pembicaraan dimulai:
Penerapan gencatan senjata di Lebanon
Pencairan aset keuangan Iran yang dibekukan
“Kedua hal ini harus direalisasikan sebelum dimulainya negosiasi,” tegas Ghalibaf.
Posisi ini menegaskan bahwa Iran tidak akan melanjutkan negosiasi di tengah komitmen yang belum dipenuhi, terutama dalam konteks perkembangan yang masih berlangsung di Lebanon.
Pesan Simbolik: Bukti Kejahatan Perang dan Peringatan Eskalasi
Dalam langkah yang sarat makna politik dan simbolik, Ghalibaf membawa serta barang-barang milik para pelajar Minab yang gugur syahid—yang disebut masih berlumuran darah mereka.
Barang-barang tersebut ditampilkan sebagai bukti nyata kejahatan perang Amerika, sekaligus memperkuat narasi Iran bahwa proses diplomatik saat ini berakar pada realitas agresi yang baru saja terjadi.
Pada saat yang sama, pejabat Iran kembali menegaskan bahwa meskipun gencatan senjata sementara telah diterima, hal tersebut bersifat bersyarat.
Jika negosiasi gagal menghasilkan hasil yang dapat diterima oleh Iran dan Poros Perlawanan, serta jika permusuhan kembali berlanjut, Teheran telah memperingatkan bahwa kepentingan Amerika di kawasan dan rezim Zionis akan kembali menjadi target langsung.
Pesan yang menyertai kedatangan delegasi ini jelas: negosiasi bukanlah bentuk konsesi, melainkan kelanjutan dari konfrontasi melalui jalur politik—di bawah syarat-syarat yang ditetapkan oleh Poros Perlawanan. (FG)



